INDUSTRY.co.id - Jakarta- Bank Indonesia mengharapkan kehadiran PT Jalin Pembayaran Nusantara (JPN) sebagai perusahaan 'switching' milik Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), dapat membantu meningkatkan efisiensi industri perbankan nasional.
Bank sentral sendiri baru saja memberikan izin prinsipal kartu debit kepada PT JPN, sehingga kini perusahaan tersebut dapat beroperasi secara penuh seperti tiga perusahaan 'switching' lainnya yaitu PT Artajasa Pembayaran Elektronis (ATM Bersama), PT Rintis Sejahtera (PRIMA), dan PT Daya Network Lestari (Alto).
"Dengan diberikannya izin kepada PT jalin, maka kami sebagai otoritas sistem pembayaran, menginginkan adanya suatu efisiensi nasional," kata Direktur Eksekutif Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Eni V Panggabean saat jumpa pers bersama Himbara di Kantor Pusat Bank Mandiri, Jakarta, Selasa (20/6/2017)
Saat ini, rata-rata nilai transaksi harian ATM, debit, dan e-money, mencapai Rp15 triliun-Rp17 triliun per hari. Melihat data tersebut, Eni menilai peran perusahaan switching cukup vital dalam mewujudkan upaya efisiensi.
Dengan adanya JPN, Eni menilai dari segi pengeluaran operasional dan investasi keempat bank milik negara yaitu Mandiri, BTN, BRI, dan BNI, tentu diharapkan akan menjadi lebih hemat sehingga misalnya untuk biaya-biaya seperti biaya transfer dana antarkeempat bank tersebut juga bisa menjadi lebih murah.
"Dari segi biaya (cost), untuk pembelian misalnya jadi turun karena bersama-sama dipakai. Kedua, biaya pemeliharaannya juga turun, bisa dibagi berempat kan," kata Eni.
Kendati demikian, Eni melihat sisi efisiensi yang juga tidak kalah penting yaitu efisiensi untuk keuangan inklusif (financial inclusion), dengan adanya PT JPN tersebut.
Menurut Eni, efisiensi tidak melulu dihitung semuanya dalam bentuk uang. Kalau dulu ATM nya ada empat untuk masing-masing bank BUMN, kini tiga ATM lainnya bisa dipindahkan ke daerah. Sehingga nanti orang di kampung, desa, atau remote area yang ATM nya terbatas, kini di dekatnya sudah ada ATM. Kemudian mereka pun jadi tertarik memasukkan uangnya ke bank.
"Itu harus jadi faktor positif yang dipertimbangkan secara nasional, tidak melulu dari segi uang untuk capex (capital expenditure) dan opex (operational expenditure) tadi," ujar Eni. (Ant)