INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sejumlah pengusaha warung tegal atau warteg disebut akan menaikkan harga makanan karena masih tingginya harga minyak goreng di pasaran.
Hal tersebut turut diakuai Ketua Komunitas Warteg Nusantara (Kowantara) Mukroni saat dihubungi di Jakarta (13/2).
Dikatakan Mukroni, bila harga minyak goreng masih mahal, ditambah dengan ada kenaikan harga tahu dan tempe, maka sekitar 10 ribu pengusaha Warteg anggota Kowantara akan menaikkan harga makanan.
"Ya kondisi kita (pemasukan Warteg) kan belum pulih ya karena masih kena pandemi Covid-19 ya. Terus kalau harga-harga naik kan kami mau menaikkan juga agak repot," ujarnya.
Menurutnya, cara ini jadi pilihan terakhir bila memperkecil porsi tidak dapat menutup kebutuhan pengusaha Warteg seperti bayar sewa tempat, membayar gaji pegawai, dan lainnya.
Ia pun mengeluhkan, hingga saat ini masih banyak pengusaha warteg yang belum merasakan kebijakan minyak goreng dengan harga Rp 14 ribu per liter.
"Tidak merata, di Jakarta Selatan istilahnya turun. Tapi banyak di daerah lain, misalnya daerah pinggirannya agak susah," terang Mukroni.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa harga minyak goreng di pasar tradisional masih banyak yang lebih tinggi dari harga eceran tertinggi (HET) yakni Rp 14 ribu per liter.
Khususnya terjadi di wilayah penyangga Jakarta seperti Bogor, Depok, Bekasi, dan Tangerang, yang berkisar Rp 20 ribu per liter sehingga memberatkan pengusaha Warteg.
"Di daerah pinggiran seperti Bogor, Depok, Tangerang itu agak susah. Ini mohon pemerintah untuk meratakan ya, jangan hanya mudah di Jakarta tapi juga di daerah lain juga susah," tutupnya.