Gerak Amman Mineral Siapkan Ekspor

Oleh : Dhyan W Wibowo | Jumat, 07 April 2017 - 10:29 WIB

Tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) (ist)
Tambang PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) (ist)

INDUSTRY.co.id - Saat ini industri pertambangan domestik dan global tengah ramai diisi oleh pemberitaan sebuah perusahaan tambang raksasa asal Amerika Serikat, Freeport McMoran, yang menolak perubahan status kerja sama dari Kontrak Karya menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus yang dikeluarkan pemerintah Indonesia. Bahkan PT Freeport Indonesia yang merupakan salah satu tentakel usahanya di Indonesia, telah memutuskan untuk berhenti beroperasi akibat larangan ekspor konsentrat, sebagai salah satu konsekuensi penolakan perubahan status kerja sama tadi.

Cerita penolakan tak berhenti di penghentian operasi. Freeport McMoran juga mengancam akan mengajukan gugatan ke arbitrase nasional atas langkah pemerintah Indonesia yang mengubah status izin operasinya dari Kontrak Karya menjadi IUPK. Padahal, pemerintah Indonesia melakukan perubahan status izin tersebut untuk memudahkan PT Freeport Indonesia, anak usaha Freeport McMoran di Indonesia agar tetap bisa melakukan ekspor konsentrat.

Dengan Kontrak Karya, perusahaan tak diperkenankan mengekspor konsentrat tembaga dan emasnya ke luar negeri karena sejumlah klausus belum dipenuhi oleh Freeport Indonesia. Salah satunya adalah persyaratan pembangunan smelter pemurnian.

Cerita berbeda justru dilakukan salah satu koleganya yang juga pemain besar di industri pertambangan global, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT). Perusahaan yang dulunya bernama PT Newmont Nusa Tenggara ini bertindak kooperatif dengan pemerintah RI, dan siap membangun smelter.

Investasi pun disiapkan PT Amman Mineral Nusa Tenggara untuk mengembangkan areal pertambangan sekaligus pembangunan smelter. Soal langkah kooperatif perusahaan yang kini sahamnya sebagian besar dikuasai oleh pemain besar domestik, Medco Energi ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bambang Gatot di Jakarta beberapa waktu lalu.

Dikatakan Bambang, PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) mengucurkan dana investasi hingga US$ 9 miliar untuk dan pembangunan fasilitas pemurnian mineral (smelter). Dari angka investasi tersebut, sebagian besar atau US$ 8 miliar dikucurkan pengembangan lahan tambang, dan sisanya US$ 1 miliar akan digunakan untuk pembangunan smelter. "Dia tahun ini investasi US$ 9 miliar," kata Bambang.

Dipaparkan Bambang, perseroan mulai menggarap Blok Elang untuk tahap eksplorasi hingga mulai produksi pada tahun ini, dan sebagian dana investasi pengelolaan lahan akan dialokasikan bagi Blok Batu Hijau yang memasuki fase ketujuh. Sementara itu smelter yang dibangun di Nusa Tenggara Barat tengah disiapkan. Disebutkan bahwa smelter milik AMNT ini memiliki kapasitas 1 juta hingga 1,5 juta ton konsentrat tembaga. "Pembangunan smelter memakan waktu hingga lima tahun. Saat ini pembangunan smelter itu masuk dalam tahap perencanaan. Belum mulai konstruksi. Ada tahapan-tahapannya," paparnya.

Seperti disebutkan sebelumnya, pembangunan smelter menjadi persyaratan utama yang harus dipenuhi perusahaan untuk mendapatkan rekomendasi izin ekspor. AMNT sendiri telah mengajukan surat permohonan rekomendasi ekspor, bernomor 251/PD-RM/AMNT/II/2017, tanggal 17 Februari 2017. Berdasarkan kelengkapan persyaratan dalam permohonan itu Kementerian ESDM menerbitkan rekomendasi izin ekspor pada tanggal yang sama. Rekomendasi berlaku selama satu tahun yakni sejak 17 Februari 2017 sampai dengan 16 Februari 2018. Adapun kuota ekspor yang diizinkan sebesar 675.000 wet metric ton (WMT).

Sebenarnya Newmont Nusa Tenggara sudah bekerjasama dengan PT Freeport Indonesia dalam membangun smelter di Gresik, Jawa Timur. Fasilitas pemurnian mineral itu memiliki kapasitas 2 juta ton konsentrat tembaga. Namun berikutnya Kementerian ESDM menyarankan agar AMNT membangun smelter sendiri.

Saran tersebut diberikan menyusul adanya regulasi yang berlaku mulai 11 Januari 2017 terkait izin ekspor. Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa progres pembangunan smelter menjadi salah satu persyaratan izin ekspor dan perpanjangan izin ekspor. Dengan pembangunan smelter yang terpisah dari Freeport, maka AMNT tak perlu mengalami penghentian izin ekspor mengingat langkah pembangunan smelter oleh Freeport sejauh ini masih terkendala banyak hal.

Pemerintah memang akan mengawasi secara langsung kemajuan perusahaan dalam membangun smelter. Disebutkan Bambang, dalam waktu 6 bulan smelter yang dibangun sudah harus mencapai minimal 90% dari rencana kerja. Bila tidak, maka AMNT bisa jadi akan mengalami nasib yang sama dengan koleganya yang beroperasi di tambang Grasberg, Mimika, Papua. Sanksi berupa pencabutan izin ekspor akan menunggu AMNT jika progres pembangunan smelter tidak sesuai dengan time table yang ditetapkan oleh pemerintah RI.

Sedikit mundur ke belakang, PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) berganti nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) medio Noveber tahun lalu menyusul rampungnya proses transaksi pengambilalihan kepemilikan saham di NNT sebesar 82,2% oleh PT Amman Mineral Internasional (AMI) senilai Rp34,5 triliun.

AMI adalah perusahaan Indonesia yang pemegang sahamnya adalah AP Investment dan Medco Energi. Dalam proses transaksi pembelian saham NNT ini, AMI didukung oleh sebuah konsorsium perbankan Indonesia dan internasional. Kini pemilik saham NNT dan aset-aset terkait lainnya kini sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan nasional, yakni AMI sebesar 82,2% dan PT Pukuafu Indah sebesar 17,8%.

Presiden Direktur NNT Rachmat Makkasau dipercaya kembali oleh pemegang saham baru untuk menjabat sebagai Presiden Direktur AMNT. "Sebagai perusahaan nasional, NNT akan berganti nama menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara," demikian disampaikan Rachmat dalam keterangan resminya di Jakarta medio November tahun lalu (8/11/2016). Perusahaan tambang tembaga dan emas yang beroperasi berdasarkan Kontrak Karya Generasi ke-4 itu memulai operasinya secara hukum pada 2 Desember 1986.

Sejak memulai kegiatan operasi secara penuh di Indonesia pada tahun 2000, perusahaan mengklaim telah berkontribusi lebih dari Rp 100 triliun dalam bentuk pembayaran pajak dan non pajak, royalti, gaji, pembelian barang dan jasa dalam negeri, serta dividen yang dibayarkan kepada para pemegang saham nasional.

Memasuki akhir 2016, pemilik PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) selaku pemilik 50% saham PT Amman Mineral Investama menyatakan rencananya untuk menggelar initial public offering (IPO) dalam dua tahun ke depan. Rencana ini disampaikan oleh Roberto Larato, Direktur & Chief Executive Officer Medco Energi. Menurutnya pascaakuisisi, emiten berkode MEDC di lantai bursa ini berencana melakukan penawaran saham (initial public offering/IPO) PT Amman Mineral Nusa Tenggara pada rentang waktu 2017-2018. "IPO iya, tetapi waktunya belum yakin. Tahun 2017 itu paling memungkinkan, masih dielaborasi lagi," ujarnya dalam paparan publik (14/12/2016) lalu.

Roberto menyatakan optimismenya bahwa IPO saham Amman Mineral Nusa Tenggara bakal diburu investor. Dukungan aset yang besar dan kondisi pasar modal yang stabil membuat manajemen yakin penjualan saham AMNT bisa mengalami oversubsribed.

Sejatinya rencana IPO AMNT, yang kala itu masih menggunakan nama Newmont, telah mengemuka sejak 2010. Saat itu, Newmont berencana melepas 10% kepemilikan saham melalui IPO yang ditangani oleh UBS Securities. Bahkan aksi penggalangan dana dari lantai bursa itu telah disepakati dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) Newmont, dan direncanakan akan dilakukan pada kuartal I/2011. Namun langkah ini tak terselenggara hingga akhirnya kini dikuasai Medco Energi. Medco Energi mengakuisisi AMI dan kemudian AMI mencaplok seluruh saham Newmont Nusa Tenggara senilai US$2,6 miliar dari Newmont Mining Corporation dan Sumitomo Corporation.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto saat meresmikan pabrik farmasi PT Ethica

Kamis, 23 November 2017 - 18:12 WIB

Kemenperin Perdalam Struktur Industri Farmasi Nasional

Kementerian Perindustrian tengah memprioritaskan pendalaman struktur industri farmasi nasional terutama di sektor hulu atau produsen penyedia bahan baku farmasi. Upaya strategis ini untuk mengurangi…

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Prof. DR. Yohana Susana Yembise, Dip, Apling, MA., PhD. bersama Lansia

Kamis, 23 November 2017 - 18:00 WIB

Selain Jawa Tengah, NTT Rawan Perdagangan Manusia

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Yohana S Yembise mengatakan Nusa Tenggara Timur masuk dalam zona merah "human trafficking" atau perdagangan manusia.

Menperin Airlangga resmikan Pabrik Farmasi di Cikarang Bekasi

Kamis, 23 November 2017 - 17:01 WIB

Menteri Airlangga Resmikan Pabrik Farmasi Senilai Rp1 Triliun

Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto hari ini, Kamis (23/11/2017) meresmikan pabrik farmasi milik PT Ethica di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat.

Kepala BPPI Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara

Kamis, 23 November 2017 - 16:54 WIB

Kemenperin Bentuk Balai Litbang di Pekanbaru Guna Tingkatkan Nilai Tambah CPO

Riau merupakan salah satu provinsi yang memiliki pertumbuhan ekonomi cukup baik, dengan didorong oleh aktivitas industri pengolahan kelapa sawit.

Menhub Budi Karya S (humas kemenhub)

Kamis, 23 November 2017 - 16:30 WIB

Menhub Budi Karya Tnjau Pengoperasian Kereta Bandara Soetta

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi meninjau pengoperasian Kereta Bandara Internasional Soekarno-Hatta dari Stasiun Sudirman Baru Jakarta, menggunakan kereta inspeksi, Kamis (23/11/2017)