Program e-Smart IKM Dongkrak Omzet Produsen Mesin Cuci di Semarang Hingga Rp200 Juta

Oleh : Ridwan | Rabu, 11 Juli 2018 - 16:34 WIB

Dirjen IKM Gati Wibawaningsih
Dirjen IKM Gati Wibawaningsih

INDUSTRY.co.id - Jakarta, Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil dan Menengah (IKM) semakin gencar melaksanakan workshop e-Smart IKM di berbagai daerah di Indonesia. 

"Kami berkomitmen untuk terus fokus meningkatkan produktivitas dan daya saing IKM nasional supaya mampu bersaing dengan produk impor yang sekarang mulai menguasai pasar online melalui program e-Smart IKM," kata Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Menurut Gati, IKM dalam negeri memiliki cukup banyak potensi unggul, sehingga bisa bersaing dengan merek internasional. Salah satunya adalah IKM sektor logam, mesin, elektronika dan alat angkut (LMEA) di wilayah Jawa Tengah yang selama ini mendapatkan program pembinaan dari Kementerian Perindustrian melalaui DIrektorat Jenderal IKM.

Lebih lanjut, menurut Gati, pihaknya mendorong pelaku IKM di Tanah Air agar juga menerapkan industri 4.0 melalui pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dalam proses produksinya guna mencapai efisiensi yang maksimal dan menghasilkan produk berkualitas. 

"Upaya ini tentu akan menumbuhkan inovasi-inovasi produk unggulan dari para pelaku IKM kita," tegasnya.

Contohnya, CV. Mutiara Cemerlang, salah satu IKM yang memproduksi mesin cuci dari sentra logam Bugangan, Semarang ini tengah merasakan manfaatnya setelah mendapatkan bantuan fasilitas mesin dan alat produksi dari Ditjen IKM Kemenperin pada April lalu. Produktivitasnya kini meningkat hingga dua kali lipat, yang semula memproduksi lima unit mesin cuci menjadi sembilan unit per bulannya.

"Selain itu, hasil produksinya mereka sekarang lebih berkualitas, bahkan berani diadu dengan produk dari China, karena sistem teknologinya sudah canggih," ungkap Gati. 

CV. Mutiara Cemerlang, usaha yang dimiliki Nashirin ini termasuk salah satu peserta workshop e-Smart IKM yang digelar di Semarang.

Pada program tersebut, diikuti sebanyak 50 pelaku IKM sektor LMEA dari Semarang, Banyumas, Pati, Kudus, dan wilayah sekitarnya. Mereka memperoleh pelajaran dan pelatihan mengenai berbisnis online melalui sarana e-Smart IKM. 

"Kami sudah bekerja sama dengan Bukalapak, Blibli, Tokopedia, Shopee, dan Blanja.com. Program ini diharapkan agar IKM kita mampu membuka akses pasar dan mengelola dengan baik pemasaran online-nya sehingga berkelanjutan," jelas Gati.

Sementara itu, Nashirin menceritakan, usahanya dirintis sejak tahun 2010 dengan modal pengalaman kerja sebelumnya pada tahun 2007 sebagai karyawan dari perusahaan asing yang memproduksi mesin cuci. 

"Jadi, dari pengalaman itu, saya berusaha membuat mesin laundry yang diadopsi dari sistem teknologi Eropa dan Amerika, tetapi menggunakan bahan baku lokal karena lebih murah dan mudah didapatkan," ungkapnya.

Dalam proses produksinya, Nashirin melibatkan tenaga kerja sebanyak 13 orang. Semua bahan bakunya didapatkan dari Semarang atau hampir 90 persen unit material produknya dari dalam negeri. 

Produk mesin cuci Nashirin sudah terjual 60 persen ke wilayah Jawa Tengah, dan sisanya ke Lombok, Bali, Sumatera, Kalimantan, dan Papua dengan omzet mencapai Rp200 juta per bulan.

Nashirin menambahkan, usahanya mendirikan rumah laundry membutuhkan waktu satu tahun lebih untuk melakukan riset dan merancang mesinnya dengan kualitas yang bagus. Ternyata cost produksi mesin laundry kami ini jika dibandingkan dengan produk luar, hitungannya sama. Sedangkan, kalau dari segi konsumsi listrik, mesin cuci kami jauh lebih irit karena pakai teknologi inverter, ujarnya.

Bahkan, dari sisi harga, produk Nashirin juga lebih murah. Kalau produk luar, dengan kapasitas mesin drying 140Kg, harganya mencapai Rp160 juta. Sedangkan, produk kami dibanderol Rp55-60 juta, itu pun kami sudah untung lumayan, imbuhnya. 

Hingga saat ini, Nashirin sudah memproduksi peralatan laundry sebanyak 817 unit, yang terdiri dari mesin washer, barrier washer, dryer, extractor, flatwork ironers, dan utility press. 

"Kami memproduksi mesin dryer dari kapasitas 16 Kg, 20 Kg, 40 Kg, hingga 120 Kg. Kami juga ada pressing ironer yang biasa dipakai di hotel atau rumah sakit untuk sprei dan pillow case," sebutnya.

Nashirin berharap, melalui program e-Smart IKM, produknya akan semakin dikenal banyak orang dan mampu mengalahkan produk impor.  Saat ini, kami juga sedang mendaftarkan ke Kemenperin agar produk kami memiliki label Standar Nasional Indonesia (SNI)," lanjutnya.

Dalam program e-Smart IKM, Kemenperin memfasilitasi pula pemberian sertifikasi SNI dan hak paten merek. Tujuannya agar produk IKM nasional dapat lebih berdaya saing di pasar domestik maupun global. Untuk itu, IKM di dalam negeri harus menjaga mutu bahan baku hingga teknologi mesin dan peralatan yang akan digunakan, termasuk terus meningkatkan kompetensi tenaga kerjanya.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Mantan Menko Perekonomian Rizal Ramli (Foto Ist)

Minggu, 18 November 2018 - 12:18 WIB

Selaras Pemikiran Rizal Ramli, Pemerintah dan Bank Indonesia Wajibkan Eksportir Bawa Pulang Devisa

Rencana Bank Indonesia (BI) dalam menerbitkan aturan baru yang mewajibkan eksportir membawa devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri pada 1 Januari 2019 selaras dengan ide dan gagasan ekonom…

Peneliti berprestasi ke Taiwan

Minggu, 18 November 2018 - 11:15 WIB

Kementerian Pertanian Berangkatkan Peneliti Berprestasi ke Taiwan

INDUSTRY.co.id -

Taiwan Kementerian Pertanian memberangkatkan Peneliti Berprestasi untuk mempelajari inovasi teknologi pertanian modern khususnya bidang Hortikultura…

Petani Padi (Ilustrasi)

Minggu, 18 November 2018 - 10:46 WIB

Agroekologi Bisa Jadi Solusi Pertanian Masa Depan

Agroekologi sesungguhnya memiliki kemampuan menghasilkan produksi pertanian lebih tinggi dibanding pola pertanian konvensional. Sayangnya, agroekologi masih belum mendapatkan perhatian dan dukungan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:34 WIB

KTT APEC akan Bahas Konektivitas Untuk Pertumbuhan Inklusif

Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) 2018 hari kedua, Minggu (18/11/2018) di Port Moresby, Papua Nugini, antara lain akan membahas konektivitas untuk pertumbuhan…

Presiden Jokowi(Foto Setkab)

Minggu, 18 November 2018 - 10:29 WIB

Presiden Jokowi Hadiri Pertemuan Dewan Bisnis APEC

Presiden Joko Widodo menghadiri pertemuan Dewan Bisnis Asia-Pacific Economic Cooperation atau APEC Business Advisory Council (ABAC) di Port Moresby, Papua Nugini, Sabtu (17/11/2018).