Bukit Asam Mendulang Cuan Kenaikan HBA

Oleh : Dhiyan H Wibowo | Minggu, 26 November 2017 - 10:05 WIB

Penandatangan amandemen power purchase agreement PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 antara Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin dengan Supangkat Iwan selaku Direktur Pengadaan II PLN, Fang Zheng selaku Chairman China Huadian Hongkong Comapny Ltd. di Jakarta
Penandatangan amandemen power purchase agreement PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 antara Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin dengan Supangkat Iwan selaku Direktur Pengadaan II PLN, Fang Zheng selaku Chairman China Huadian Hongkong Comapny Ltd. di Jakarta

INDUSTRY.co.id - Jakarta, PT Bukit Asam Tbk piawai memanfaatkan momentum kenaikan harga acuan batubara dengan memacu volume produksi. Alhasil laba bersihnya melesat 250 persen menjadi Rp 2,63 triliun.

Komoditas batu bara pernah mengalami masa jaya di tahun 2010-an. Kala itu batu bara memang menjadi energi fosil alternatif favorit selain minyak. Volume produksinya yang melimpah dengan harga yang lebih murah alasannya.

Harga batu bara dunia bahkan pernah mencapai level 144 dolar AS per ton pada tahun 2011.
Setelah mencapai harga tertinggi, kejayaan batu bara pun berlalu setelah Amerika Serikat mengembangkan shale gas sebagai energi alternatif.

Tidak hanya batu bara yang terpuruk, harga minyak dunia ikut hancur lantaran shale gas dianggap energi yang paling efisien dan bersih ketimbang dua energi fosil lainnya. Apalagi AS merupakan negara yang paling banyak mengkonsumsi minyak maupun batu bara.  

Pelemahan harga batu bara terus terjadi hingga menyentuh level 53 dolar AS per ton pada awal tahun 2016. Kondisi itu tentu berdampak buruk bagi produsen batu bara termasuk PT Bukit Asam Tbk. Untungnya perusahaan pelat merah yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan ticker PTBA tersebut mampu mensiasati keadaan.

Selain melakukan efisiensi, volume produksi dan penjualan terus digenjot. Alhasil, di tahun 2016, laba bersih PTBA hanya turun tipis sekitar 1% menjadi Rp 2,02 triliun dibanding perolehan laba bersih di tahun 2015 yang tercatat Rp 2,04 triliun.

Tapi tidak ada badai yang tidak berlalu. Di akhir tahun 2016 iklim bisnis tampaknya mulai berpihak ke sektor batu bara, ditandai dengan harga batu bara kembali melonjak hingga ke posisi 101,69 dolar AS per ton. Angka tadi memang tidak memang tidak teralu lama bertahan, tapi setidaknya jauh dari harga terendah yang terjadi di awal 2016 silam.

Dalam pengumuman kinerja PTBA per September 2017 terlihat, harga acuan jual rata-rata baru bara sejak awal 2017 hingga 30 September 2017 lalu tercatat mengalami kenaikan sekitar 15% secara year on year. Kenaikan ini didorong oleh naiknya Indonesia Coal Index (ICI) dan Harga Batubara Acuan (HBA).  Setuju atau tidak fakta ini yang menjadi pendorong penting pertumbuhan kinerja PTBA per September 2017.

“Kami berhasil mempertahankan tren pertumbuhan kinerjanya selama sembilan bulan di tahun 2017 dengan meraup laba bersih Rp 2,63 triliun. Angka ini menunjukan pertumbuhan 250% atau sebesar Rp 1,57 triliun dibanding laba bersih periode yang sama (year on year) tahun 2016 lalu yang tercatat Rp 1,05 triliun,” papar Direktur Utama PTBA, Arviyan Arifin beberapa waktu lalu.

Kenaikan laba tersebut membuat laba per lembar saham PTBA naik 256% menjadi Rp 1.246 dari laba per lembar saham periode yang sama tahun lalu yang hanya Rp 486.

Dikatakan Arviyan, selain kenaikan harga jual rata-rata batu bara, pertumbuhan laba yang melesat tinggi juga didorong oleh pertumbuhan tinggi dari volume produksi, angkutan dan penjualan, serta program efisiensi yang dilakukan oleh Perseroan.

Sementara dari sisi pendapatan, per September atau triwulan III 2017, PTBA berhasil meraup Rp 13,22 triliun, menunjukan kenaikan 31,7% dibandingkan periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp 10,04 triliun.

“Peningkatan pendapatan ini sebagai hasil usaha dari upaya terus menerus yang dilakukan Perseroan dalam melakukan penetrasi pasar untuk menjual batu bara Low to Medium Range Calorie pada saat membaiknya harga batu bara,” ujar Arviyan.

Dari sisi operasional, Arviyan memaparkan per September 2017, PTBA telah memacu volume produksi batu bara dengan pertumbuhan 30,3%. Sementara total produksi batu bara pada periode tersebut menunjukan kenaikan 130,3% dari 12,98 juta ton per September 2016 menjadi 16,91 juta ton pada September 2017. Angka pembelian batu bara tercatat 300 ribu ton per kuartal III 2017.

Untuk volume angkutan kereta api tercatat mengalami kenaikan 24,5% menjadi 15,79 juta ton dibandingkan volume angkut pada periode yang sama tahun lalu sebesar 12,68 juta ton.  

Dengan capaian tadi PTBA berhasil memacu angka volume penjualannya menjadi 17,24 juta ton per September 2017. Angka ini menunjukan kenaikan 13,8% dari periode yang sama tahun 2016 sebesar 15,14 juta ton. Peningkatan signifikan terjadi pada penjualan domestik sebesar 1,83 juta ton atau naik 20% dibandingkan periode yang sama tahun 2016.

"Komposisi penjualan domestik periode Januari – September 2017 sebesar 63,9% dan untuk pasar ekspor sebesar 26,1%,” ujarnya.

Hingga akhir 2017, PTBA menargetkan total produksi sebesar 21,9 juta ton, selain itu PTBA  melakukan pembelian batu bara sebesar 0,45 juta. Sehingga total produksi dan pembelian ditargetkan mencapai angka 22,37 juta ton.
 
Diversifikasi Energi

Dalam rangka menjaga kelangsungan usaha Perseroan dimasa datang, saat ini PTBA mengaku tengah giat melakukan transformasi bisnis dengan menggarap energi terbarukan.

“Kami sadar batu bara pasti akan habis, karena itu kami lakukan transformasi dan ekspansi,” ujar Arviyan.

Langkah itu dilakukan dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di lokasi pasca tambang milik PTBA baik di Tanjung Enim maupun Ombilin yang rencananya dimulai pada awal 2018.

“Rencana ini juga merupakan bentuk dukungan PTBA terhadap program pemerintah untuk meningkatkan porsi energi terbarukan hingga mencapai 25% pada tahun 2025 atau 2026,” imbuhnya.

Dikatakan Arviyan, pihaknya memiliki keunggulan dalam membangun PLTS terutama lahan yang luas mencapai 20.000 hektare (ha). Menurutnya untuk membangun PLTS, perseroan membutuhkan lahan seluas 1-2 ha untuk setiap 1 MW.

Oleh sebab itu, lahan yang disiapkan perseroan cukup untuk membangun PLTS hingga sebesar 10.000 MW.

“Terkait pembangunan PLTS, saya sudah menyurat ke PLN, karena kan harus ada yang membeli. Jadi realisasinya tunggu hasil pembicaraan dengan PLN” ujarnya.

Selain membangun PLTS, transformasi dan ekspansi dilakukan dalam bentuk pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan pembangkit listrik biomassa.

Adapun terkait proyek listrik 35 ribu MW yang ditargetkan pemerintah pada tanggal 19 Oktober 2017 lalu PTBA melalui anak usahanya PT Huadian Bukit Asam Power dan PT PLN (Persero) menandatangani amandemen perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA) untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mulut Tambang Sumsel 8 dengan kapasitas 2 X 620 MW.

Penandatanganan ini dilakukan oleh Direktur Utama PTBA Arviyan Arifin, Direktur Pengadaan Strategis 2 PLN Supangkat Iwan Santoso, dan China Huadian Hongkong Company Ltd.

Sekretaris Perusahaan PTBA Suhermen mengatakan, amandemen PPA ini mencakup beberapa poin. Pertama listrik yang tadinya dialirkan melalui jaringan bawah laut Sumatera Jawa, atau biasa disebut High Voltage Direct Current (HVDC), kini dialihkan untuk jaringan Sumatera melalui transmisi 500 kiloVolt (kV).

“Perubahan ini karena kebutuhan listrik di Jawa dinilai sudah cukup, sehingga listrik dari PLTU Mulut Tambang Sumsel 8 dialihkan untuk kebutuhan listrik Sumatera,” jelas Suherman dalam keterangan tertulisnya yang diterima INDUSTRY.co.id.

Kedua, perusahaan juga akan membangun jalur transmisi dari PLTU Sumsel 8 ke gardu induk PLN Di Muara Enim sejauh 45 km. Adanya penambahan jalur transmisi ini menambah total investasi menjadi hampir mencapai US$1,7 miliar.

Lalu ketiga, teknologi yang digunakan PLTU Sumsel 8 pun mengalami perubahan, yakni dari sub critical menjadi super critical.

"Sehingga menjadi lebih efisien dan ramah lingkungan,” paparnya.

Setelah PPA ini diteken, perusahaan berharap PLTU Sumsel 8 dimulai pada pertengahan 2018 dengan masa konstruksi 42 bulan untuk unit I dan 45 bulan untuk unit II.

“Sehingga, diharapkan akan mencapai Commercial Operation Date di tahun 2021 untuk unit I dan dan 2022 untuk unit II,” imbuh Suherman.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Ilustrasi pelayanan Jamkrindo. (Foto: Istimewa)

Selasa, 14 Agustus 2018 - 21:54 WIB

Perum Jamkrindo Terima 30 Mahasiswa Program Magang

INDUSTRY.co.id -

Jakarta - Perusahaan Umum Jaminan Kredit Indonesia meneriman sebanyak 30 orang Mahasiswa magang dari Vokasi Universitas Indonesia, Universitas Negeri…

Agus Harmurti Yudhoyono (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 14 Agustus 2018 - 21:00 WIB

Terima Kasih AHY, GN, RR, dan MMD!

Kita dapat menilai budi pekerti seseorang dari kenyataan sikap diri menghadapi musibah yang menimpa.

Melany Dian Risiyantie,

Selasa, 14 Agustus 2018 - 20:34 WIB

Melany Dian Risiyantie Nilai Artis Nyaleg Punya Nilai Positif & Negatif

Dalam Daftar Calon Sementara (DCS) Legislatif yang sudah diumumkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Senin, 13/8, kemarin terdapat 54 orang nama artis atau selebritas. Hal ini menunjukkan dunia…

Kementerian PUPR terapkan teknologi RISHA

Selasa, 14 Agustus 2018 - 20:32 WIB

Kementerian PUPR Terapkan Teknologi RISHA Rekonstruksi Rumah di Lombok

Konstruksi rumah tahan gempa diperlukan sebagai mitigasi bencana karena wilayah Lombok termasuk salah satu wilayah rawan gempa.

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Asman Abnur (Foto Ist)

Selasa, 14 Agustus 2018 - 20:20 WIB

Beda Koalisi dengan Jokowi, Asman Abnur Bukan Lagi Menteri Aparatur Negara

Wakil Ketua Umum DPP PAN, Viva Yoga Mauladi, mengonfirmasi Asman Abnur telah mengundurkan diri dari Kabinet Kerja. Dengan begitu, Abnur bukan lagi Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi…