INDUSTRY.co.id-Jakarta-Ketua Tim Transformasi Digital Grup Viva sekaligus Direktur PT Intermedia Capital Tbk (MDIA) Arief Yahya mengatakan, kontribusi segmen digital menjadi penyumbang terbesar pendapatan, dibandingkan segmen TV free to air (FTA).
Ia katakan industri media dan hiburan merupakan paling terdampak disrupsi digital. Hal ini akan membuat kontribusi bisnis digital terhadap sebuah perusahaan media bakal membesar ke depan atau mengalahkan segmen FTA.
“Kami memperkirakan kontribusi pendapatan dari segmen FTA akan susut menjadi 50% pada 2025, dibandingkan posisi sekarang sebanyak 90%. Posisi tersebut akan digantikan pendapatan konten dengan sumbangan 30% dan layanan digital mencapai 20%. Hal itu akan menjadi penopang pendapatan perseroan ke depan,” katanya dalam paparan publik perseroan, Kamis (23/12).
Terkait performa induk usaha perseroan, PT Visi Media Asia Tbk (VIVA), mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 5,3% dari Rp 874,1 miliar menjadi Rp 920,3 miliar pada semester I-2021. Raihan tersebut telah melampaui prediksi Media Partners Asia (MPA) Edisi Juni 2021 yang memprediksi peningkatan pendapatan bisnis media hanya 5%. Perseroan juga mencetak perbaikan EBITDA menjadi Rp 75,5 miliar.
Begitu juga dengan Intermedia Capital berhasil mencetak pertumbuhan sebesar 11,9% year on year dari Rp 616,8 miliar menjadi Rp 690,3 miliar pada semester I-2021. Perseroan mencetak laba bersih senilai Rp 15,9 miliar, dibandingkan semester I-2020 dengan rugi bersih Rp 18,5 miliar.
“Kami menilai segmen digital merupakan masa depan, sering dengan peningkatan penetrasi internet secara eksponensial di masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, Viva terus mengembangkan portfolio digital sebagai antisipasi peningkatan permintaan pasar,“ kata Arief.
Grup Viva menaungi dua stasiun televisi free to air (FTA TV), yaitu ANTV dan tvOne. Grup ini juga menaungi beberapa platform daring seperti VIVA.co.id, tvonenews.com, IntipSeleb, JagoDangdut, dan ANTVklik.com, dan tvOne Connect.
Tiga Aspek
Arief menuturkan, Grup Viva memfokuskan tiga aspek besar dalam transformasi bisnis ke digital, yaitu konten, distribusi, dan teknologi. ”Grup Viva akan meluncurkan sebuah perusahaan rumah produksi yang akan menelurkan beragam konten premium, baik untuk internal Grup Viva maupun untuk dijual ke eksternal. Selain itu, perseroan juga berambisi untuk masuk dalam bisnis content vehicle di digital platform dengan menggandeng para content creator dan komunitas untuk memproduksi konten untuk media, baik digital platform maupun FTA TV.
Misalnya, berkolaborasi dengan RANS dan Leslar yang memiliki digital follower besar (follower Raffinagita 58 juta, Lesti 24 juta, Rizky Bilar 12 juta) untuk memproduksi konten dan tayang di ANTV, seperti program serial animasi Si AA dan program spesial Rangkaian Acara Menuju Pernikahan Leslar. Sinergi digital follower content creator dan ANTV ditujukan untuk menambah jangkauan pemirsa muda sekaligus meningkatkan engagement pemirsa atas program-program yang tampil di layar kaca ANTV.
”ANTV juga bersinergi dengan Viva Digital Venture Company (VDVC) yang masih dalam satu naungan di dalam VIVA Group untuk memperkuat eksistensi ANTV di platform digital yang berhasil menaikkan subscriber pada YouTube Channel ANTV menjadi 2,8 juta subscriber atau tumbuh 20% tahun ini,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur Intermedia Capital Arhya Winastu Satyagraha mengatakan, di kuartal IV, perseroan menggenjot alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) untuk migrasi TV analog ke digital atau Analogue Switch Off (ASO) yang dimulai 2 November 2022. Dana sebesar Rp 112 miliar telah dialokasikan untuk Intermedia Capital dan Visi Media Asia dan realisasi penggunaan baru mencapai separuhnya.
”Realisasinya itu baru 26% per satu semester, setelah sembilan bulan capai 50%. Penggunaannya untuk belanja modal rutin dan untuk ASO baru akan dimulai di kuartal IV karena tahun depan sudah jalan,” sebutnya.
Sebagaimana diamanatkan Undang- Undang Cipta Kerja, ANTV dan tvOne sebagai penyelenggara MUX di 16 provinsi dengan 38 wilayah layanan siaran telah mencadangkan dana sebesar Rp 201 miliar untuk belanja modal pembangunan infrastruktur MUX dan siap mensukseskan tahapan ASO.