INDUSTRY.co.id - Jakarta - Selama hampir dua tahun, pandemi Covid-19 terlihat menghambat perkembangan bisnis di berbagai bidang usaha di Indonesia.

Advertisement

Meski demikian, PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA), emiten Bursa Efek Indonesia (BEI) di bidang properti dan merupakan pengembang kawasan industri terbesar di Indonesia, membukukan marketing sales Rp981,3 miliar sepanjang Januari-September 2021. 

Jika dibandingkan dengan realisasi marketing sales perseroan per September 2020 sebesar Rp557,5 miliar, maka marketing sales perseroan per September 2021 tersebut menunjukkan adanya kenaikan sekitar 76%.

Advertisement

Menurut Direktur Utama KIJA Budianto Liman dalam paparan publik yang dikutip redaksi INDUSTRY.co.id, pada Rabu (15/12/2021), sekitar 59% dari total nilai marketing sales tersebut atau sebesar Rp578,97 miliar dikontribusikan oleh kawasan industri perseroan di Cikarang, Jawa Barat. 

"Sisanya sekitar 41% atau sebesar Rp402,33 miliar dikontribusikan oleh kawasan industri perseroan di Kendal, Jawa Tengah," ujarnya.

Advertisement

Budianto Liman juga mengungkapkan, sebesar 77% dari total nilai marketing sales tersebut atau sebesar Rp755,6 miliar berasal dari penjualan tanah atau tanah dengan standar bangunan pabrik. 

"Adapun sisanya sebesar Rp225,7 miliar berasal dari penjualan perumahan dan produk-produk properti komersil di kedua kawasan industri tersebut," tandasnya.

Advertisement

Perlu diketahui, kawasan industri yang dikembangkan perseroan di Cikarang adalah kawasan industri Jababeka. 

Kawasan industri tersebut merupakan kawasan industri yang memiliki pembangkit listrik mandiri, yang bernama Bekasi Power Plant.

Kehadiran pembangkit listrik yang merupakan komponen penting bagi industri di Indonesia tersebut bertujuan untuk memberikan keunggulan dalam kegiatan pemasaran perseroan dengan para kompetitor.

Selain listrik, Jababeka juga memiliki unit bisnis dibidang logistik yakni Cikarang Dry Port (CDP).

Kehadiran CDP sendiri, selain turut berkontribusi terhadap pendapatan perseroan juga memberikan kemudahan layanan ekspor-impor kepada lebih dari 1700 tenant yang berasal dari 30 negara di kawasan industri Jababeka di Cikarang.

Namun tak melulu infrastruktur, Jababeka juga melengkapi kebutuhan hunian para pekerja dan ekspatriatnya di kawasan dengan mengembangkan usaha real estate bernama Jababeka Residence.

Selain di Cikarang, perseroan juga memiliki kawasan industri terintegrasi di Kendal, Jawa Tengah.

Kawasan yang kini berstatus Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tersebut diperuntukkan untuk industri padat karya berorientasi ekspor yang mencari alternatif di luar Jakarta dengan tujuan biaya yang lebih rendah.

Selain itu, KIJA juga memiliki dua kawasan pariwisata yakni Tanjung Lesung di Banten dan Morotai di Maluku Utara atau di jantung Asia Pasific.

Entitas ini mengusung bisnis tourism, leisure dan hospitality dan keduanya juga telah berstatus sebagai Kawasan Ekonomi Khusus.

Cetak pendapatan Rp1,65 triliun

Mulyadi Suganda, Corporate Secretary Jababeka menyampaikan bahwa total pendapatan KIJA per September 2021 tercatat sebesar Rp1,65 triliun. 

Menurutnya, sekitar 57% dari total pendapatan tersebut atau sebesar Rp940,5 miliar dikontribusikan oleh pendapatan berkesinambungan (recurring income). 

"Sisanya berasal dari penjualan real estate sebesar Rp709,5 miliar," imbuh Muljadi.

Adapun, recurring income KIJA berasal dari penjualan tenaga listrik dan air bersih yang tarifnya ditetapkan mengikuti kurs dolar Amerika.

Menurutnya, hal itu dilakukan bertujuan untuk memperkuat stabilitas arus kas. 

Sementara itu, untuk mengatasi persoalan beban bunga dalam mata uang dolar Amerika, Perseroan melakukan lindung nilai alami (natural hedge) sebesar US$200 juta dalam bentuk call spreads dengan rata-rata lower strike pada Rp13.700 per dolar AS.

"Dan upper strike sebesar Rp15.700 per dolar AS," tandasnya.