INDUSTRY.co.id - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) mencatat kenaikan ekspor minyak wawit sebesar 6,5 persen menjadi 3,55 juta ton dari bulan sebelumnya sebesar 3,33 juta ton.
Dalam keterngan tertulis yang diterima, Selasa (13/12), peningkatan ekspor minyak sawit tersebut sejalan dengan produksi September dan Oktober 2016 yang merupakan bulan puncak panen kelapa sawit 2016. Namun, dengan peningkatan produksi tersebut hanya sedikit mendorong kenaikan stok minyak sawit dalam negeri.
Menurut catatan Gapki, ekspor minyak sawit berupa minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) termasuk biodiesel, oleochemical dan turunannya, pada Oktober meningkat 34 persen dibandingkan bulan sebelumnya dari 1,89 juta ton di September naik menjadi 2,54 juta ton pada Oktober 2016.
Ekspor minyak sawit Indonesia terkerek karena adanya peningkatan permintaan dari hampir semua negara tujuan utama ekspor minyak sawit Indonesia kecuali Amerika Serikat dan Pakistan.
Para traders mengambil kesempatan untuk membeli di saat harga sedang melemah dan mengantisipasi kenaikan harga pada bulan berikutnya akibat naiknya permintaan jelang hari raya Natal dan Tahun Baru.
Dengan adanya kenaikan ekspor, stok minyak sawit Indonesia pada Oktober 2016 tercatat sebanyak 2,18 juta ton. Angka tersebut naik tipis 0,4 persen dibandingkan September 2016, karena stok berada pada posisi 2,17 juta ton.
Sementara itu, produksi minyak sawit Indonesia pada November diperkirakan akan mulai menurun karena memasuki musim penurunan produksi.
Secara persentase ekspor ke negara-negara Timur Tengah, Afrika dan Bangladesh meningkat sangat signifikan, karena masing-masing membukukan kenaikan 147 persen, 154 persen dan 117 persen.
Kenaikan yang cukup signifikan secara volume tercatat pada negara-negara Uni Eropa yaitu 163,57 ribu ton atau naik 75,5 persen atau dari 216,59 ribu ton di September menjadi 380,15 ribu ton pada Oktober.
Kenaikan permintaan juga diikuti Tiongkok sebesar 32 persen atau dari 239,42 ribu ton menjadi 316,45 ribu ton dan India mencatatkan kenaikan yang sama dari 462,23 ribu ton menjadi 608,51 ribu ton.
Dari industri biodiesel, data yang berhasil dikumpulkan Gapki menunjukkan serapan biodiesel pada Oktober sebesar 283 ribu kiloliter. Angka itu menunjukkan peningkatan penyerapan sebesar 10 persen dibandingkan dengan September lalu yang hanya mencapai 257 ribu kl.
Sementara ekspor biodiesel pada Oktober tercatat 97 ribu kiloliter.
Untuk harga CPO sepanjang bulan Oktober bergerak di kisaran 690,755 dolar Amerika Serikat per per metrik ton, dengan harga rata-rata sebesar 722 dolar AS per metrik ton. Sementara harga sepanjang November bergerak di kisaran 722,5 dolar AS per metrik ton.
Prospek kenaikan harga diperkirakan masih akan terjadi karena jelang hari raya Natal dan Tahun Baru. Gapki memperkirakan harga CPO global sepanjang Desember akan bergerak di kisaran 750-800 dolar AS per metrik ton.(Hrb)