INDUSTRY.co.id , Jakarta - Pada April lalu ekspor minyak kelapa sawit atau Crude Palm Oil (CPO) ke negara-negara Asia Selatan seperti Pakistan, India, dan Bangladesh naik signifikan, seiring meningkatnya permintaan untuk memenuhi kebutuhan menjelang Ramadan.
"Pada April lalu, ekspor ke Pakistan tumbuh 116% dibanding bulan sebelumnya, India tumbuh 56%, dan Bangladesh tumbuh 18%. Sementara itu, ekspor CPO keseluruhan tercatat sebesar 2,68 juta ton, naik 5,93% dibanding bulan lalu sebesar 2,53 juta ton," kata Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Togar Sitanggang di Jakarta, Jumat (2/6/2017).
Menurut Togar, volume ekspor ke tiga negara tersebut masih sangat kecil. Jika digabungkan, total ekspor ke tiga pasar tersebut hanya tercatat 959,3 ribu ton atau 35,79% dari total ekspor.
"Ekspor terbesar masih berasal dari negara-negara Uni Eropa yakni mencapai 482,95 ribu ton atau 18,02% dari total ekspor. Tingginya minat ekspor ke Uni Eropa merupakan fenomena yang unik karena parlemen Uni Eropa baru saja menerbitkan resolusi bertajuk Report on Palm Oil and Deforestation of Rainforests, yang merekomendasikan penggantian minyak kelapa sawit dengan minyak nabati lain untuk program biodiesel," tutur Togar.
Ia menambahkan, ekspor CPO ke negara-negara Uni Eropa naik 8% pada April dari posisi bulan sebelumnya 446,92 ribu ton.
"Berbicara resolusi Uni Eropa, mereka mengatakan bahwa ini masih non binding, yang artinya kebijakan ini belum mengikat ke seluruh negara-negara anggota Uni Eropa. Kemarin parlemen Eropa datang ke Indonesia juga berbicara hal serupa, karena nyatanya permintaan dari Uni Eropa terbilang banyak," ujar Togar.
Selain itu, kenaikan ekspor ini terjadi di saat harga minyak kelapa sawit US$655 hingga US$717,5 per metrik ton. Kendati demikian, ekspor ke depan bisa membaik karena harga di pekan keempat Mei menunjukkan tren perbaikan. (Hry/ Imq)