INDUSTRY.co.id - Jakarta, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan 'Rokok dan Ancaman Pembangunan' sebagai tema pada hari tanpa tembakau se dunia, Rabu 31 Mei 2017. Artinya, konsumsi rokok menjadi ancaman serius bagi pemerintah Indonesia untuk mewujudkan Nawa Cita.

Advertisement

Seperti diketahui, jumlah perokok di Indonesia mencapai 75 juta jiwa sekaligus menempati Indonesia rating ketiga terbesar di dunia, setelah China dan India. Belum lagi pertumbuhan prevalensi perokok pada anak-anak dan remaja yang tercatat di dunia sebesar 19,4 persen.

"Bahkan, menurut data Atlas Pengendalian Tembakau di ASEAN, sekitar 20 juta anak-anak di Indonesia yang berusia di bawah 10 tahun adalah perokok," ungkap Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi melalui keterangan tertulisnya di Jakarta (30/5/2017).

Advertisement

Menurut Tulus, dengan konfigurasi perokok yang demikian banyak, konsumsi rokok telah mengakibatkan dampak sosial ekonomi yang sangat signifikan dan masif. "Rokok dapat menyebabkan kemiskinan akut di rumah tangga miskin," terangnya.

Selain itu, lanjut Tulus, rokok juga memicu inflasi yang paling tinggi, baik di ranah perkotaan atau perdesaan. Inflasi rokok di perkotaan dan perdesaan mencapai 10,7 persen per bulannya.

Advertisement

"Tingginya konsumsi rokok menjadi penyebab utama penyakit tidak menular yang berakibat pada fatalitas. Dari sepuluh jenis penyakit utama yang menyebabkan kematian, delapan diantaranya adalah akibat penyakit tidak menular," ucapnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) setiap tahunnya menunjukkan bahwa alokasi anggaran rumah tangga miskin 12,4 persennya untuk membeli rokok. Sementara itu, biaya konsumsi rokok sebesar 4,4 kali lipat dari biaya pendidikan , dan 3,3 kali lipat dari biaya kesehatan.

Advertisement

Oleh karena itu, tambah Tulus, tiada jalan lain bagi pemerintah jika ingin mencapai target pembangunan di Indonesia, sebagaimana visi misi Nawa Cita, maka konsumsi rokok harus dikendalikan dan dibatasi dengan sangat ketat. Termasuk jika pemerintah ingin membebaskan tingginya angka kemiskinan, maka pemerintah harus menghentikan wabah konsumsi rokok di rumah tangga miskin.

"Tanpa membebaskan masyarakat Indonesia dari penjara rokok, maka jangan mimpi target Nawa Cita akan tercapai. Alih-alih masyarakat Indonesia akan semakin bodoh, miskin dan sakit-sakitan," tutup Tulus.