INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan bahwa pandemi Covid-19 telah mempengaruhi perekonomian dunia secara luar biasa. 

Advertisement

Menurutnya, sejak tahun lalu seluruh dunia menghadapi penurunan ekonomi dan menyebabkan kontraksi yang sangat dalam karena hampir semua negara melakukan pembatasan mobilitas secara ketat.

Tak hanya itu, bahkan banyak negara yang menerapkan lockdown yang memberikan konsekuensi pada perekonomian yang langsung merosot sangat tajam.

Advertisement

“Dunia pada tahun lalu mengalami kontraksi minus 3,2% dari sisi pertumbuhan ekonominya. Akibat Covid-19 yang kemudian disertai pembatasan mobilitas lalu menciptakan kemerosotan ekonomi,” ,” kata Menkeu Sri Mulyani seperti dikutip redaksi INDUSTRY.co.id dari keterangannya di laman Kemenkeu pada Rabu (1/9/2021).

Ia juga mengatakan bahwa perdagangan internasional mengalami kemerosotan karena semua negara melakukan pembatasan atau bahkan lockdown. 

Advertisement

Pertumbuhan perdagangan dunia yang biasanya mencapai dua digit, tahun lalu mengalami kontraksi hingga minus 8,3 persen

Indonesia sendiri, sebut Menkeu, melalui berbagai upaya stimulus maupun countercyclical policy, di tahun 2021 ini menunjukkan hasil yang baik, dimana Indonesia mampu rebound keluar dari krisis dan merecovery ekonomi.

Advertisement

“Ekonomi Indonesia dengan berbagai langkah yang dilakukan oleh pemerintah telah berhasil mencapai melebihi pre-crisis level,” jelas Menkeu.

Dijelaskan Menkeu lebih lanjut, sebelum pandemi, GDP rill Indonesia pada kuartal kedua tahun 2019 adalah sebesar Rp2.735 triliun, kemudian pada kuartal kedua tahun 2020 lalu, GDP riil masih mengalami kontraksi dan menjadi Rp 2.590 triliun.

Namun, pada kuartal kedua ditahun 2021 ini sudah GDP riil Indonesia telah berhasil naik mencapai Rp2.773 triliun dan lebih baik ketimbang negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura yang masih berkutat pada kondisi level krisis.

"Angka ini adalah angka yang lebih tinggi bahkan dari sebelum krisis," tandasnya.

“Kita lihat negara-negara sekitar kita, Malaysia Filipina Thailand dan Singapura bahkan dengan berbagai upaya mereka GDP pada kuartal kedua mereka tahun ini belum bisa melewati kondisi precovid level,” lanjut Menkeu.

Sejatinya menurut Menkeu, segala capaian ini, baik dalam penanganan Covid maupun dari sisi kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah, tentu menjadi bekal yang baik untuk terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan kebijakan ke depan. 

"Ekonomi Indonesia pada semester I sudah masuk di dalam zona tren positif, sudah melewati masa resesi," tukasnya.

Namun Menkeu mengingatkan bahwa kondisi baik ini masih sangat ditentukan oleh kemampuan Indonesia dalam mengendalikan Covid kedepan, seperti munculnya varian baru yang bisa menyebabkan momentum pemulihan menjadi terdisrupsi.