INDUSTRY.co.idMusi Banyuasin - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menegaskan komitmennya memperkuat hilirisasi sawit berbasis koperasi sebagai strategi meningkatkan nilai tambah komoditas sawit sekaligus memperkuat posisi tawar petani.

Untuk mendukung langkah tersebut, Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) Koperasi menyiapkan skema pembiayaan bagi koperasi petani sawit yang ingin masuk ke sektor industri pengolahan.

Komitmen itu disampaikan dalam Seminar Nasional Optimalisasi dan Hilirisasi Sawit Berbasis Koperasi yang digelar di Gedung OPP Room Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, Selasa (11/8), dengan melibatkan sekitar 1.000 peserta yang terdiri atas petani sawit, kelompok tani, asosiasi, perangkat daerah, hingga pengurus koperasi.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, pemerintah mendukung penuh berbagai skema kerja sama antara koperasi petani sawit dengan PT Agrinas Palma Nusantara. Menurut dia, koperasi harus menjadi bagian penting dalam rantai industri sawit nasional, mulai dari produksi hingga hilirisasi.

"Kami bersama LPDB Koperasi akan membantu, mendampingi, dan tentunya membiayai koperasi petani sawit yang mengelola lahan bersama Agrinas Palma. Kami ingin koperasi menjadi bagian penting dari rantai industri sawit nasional, mulai dari produksi hingga hilirisasi," kata Ferry.

Ia juga mendorong koperasi sawit untuk membangun pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) secara mandiri dengan memanfaatkan pembiayaan dana bergulir LPDB Koperasi serta dukungan pembiayaan lainnya.

Direktur Utama LPDB Koperasi Krisdianto menegaskan, lembaganya siap menjadi mitra pembiayaan strategis bagi koperasi produktif yang ingin memperkuat kelembagaan, membangun kapasitas industri, dan masuk ke sektor hilirisasi.

Menurut dia, masa depan industri sawit Indonesia tidak hanya bergantung pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan koperasi sebagai pemilik dan pengelola nilai tambah.

"Petani tidak boleh berhenti sebagai pemasok tandan buah segar, tetapi harus naik kelas menjadi pelaku industri melalui koperasi. Pembiayaan dana bergulir hadir untuk memperkuat kelembagaan, membangun fasilitas pengolahan, dan meningkatkan posisi tawar petani," ujar Krisdianto.

Ia menambahkan LPDB Koperasi tidak hanya menyediakan akses pembiayaan, tetapi juga melakukan pendampingan, penguatan tata kelola, dan peningkatan kapasitas usaha agar pembiayaan yang diberikan produktif dan berkelanjutan.

Krisdianto menilai kolaborasi antara koperasi, PT Agrinas Palma Nusantara, pemerintah daerah, BUMN, BUMD, dan lembaga pembiayaan menjadi momentum penting untuk membangun ekosistem sawit berbasis koperasi yang lebih inklusif.

Ia juga menyebut Musi Banyuasin memiliki potensi menjadi model nasional pengembangan hilirisasi sawit berbasis koperasi karena memiliki basis petani yang kuat, dukungan pemerintah daerah, serta peluang integrasi dengan industri pengolahan.

Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani menyatakan, pihaknya membuka peluang kolaborasi seluas-luasnya dengan koperasi petani sawit, khususnya dalam pengelolaan kebun dan pengembangan hilirisasi.

Menurut dia, koperasi perlu menjadi mitra strategis utama dalam pengelolaam industri sawit sehingga manfaat ekonomi dari sektor tersebut dapat dinikmati langsung oleh petani.