INDUSTRY.co.id - Semarang- Bursa calon presiden makin panas saat ini. Padahal, pemilihan presiden masih 3 tahun lagi. Lantas apakah efektif dengan menggembar - gemborkan beberapa politisi untuk nyapres.

Advertisement

Salah satu relawan yang getol mengkampanyekan salah satu politisi adalah Kelompok relawan Ganjar Pranowo atau biasa disebut dengan Ganjarist.

Relawan tersebut mendorong Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dalam Pilpres 2024.

Advertisement

Dilansir dari berbagai media, Ganjarist merupakan kelompok relawan yang diisi oleh berbagai latar belakang. Dan berasal dari kalangan aktivis hingga pengusaha.

"Kami berkumpul di sini terdiri atas berbagai unsur. Tapi rata-rata background kami adalah aktivis relawan pada saat Pak Jokowi mengikuti kontestasi tempo hari. Ada juga beberapa teman dari pengusaha, ada juga teman-teman dari profesional lainnya," ujar Mazdjo Ketua Umum (Ketum) Ganjarist Mazdjo Pray, seperti dilansir Sekertariat PIS.

Advertisement

Mazdjo mengklaim relawan Ganjarist berjumlah lebih dari seribu orang walaupun baru dideklarasikan hari ini. Pasalnya, kata Mazdjo, Ganjarist baru membuka 3 grup WhatsApp, lalu langsung penuh.

"Setidaknya dalam 24 jam buka WA group, 24 jam itu 3 WA group sudah penuh. Itu baru aktivisnya, belum simpatisannya. Artinya, kita tahu gelombangnya cukup besar. Mungkin peristiwa politik beberapa hari lalu itu sebagai trigger juga jadi orang lebih aware," paparnya.

Advertisement

Selain itu, Mazdjo mengutarakan relawan Ganjarist adalah orang-orang awam yang tidak memiliki kepentingan partai politik. Menurutnya, mereka juga punya hak untuk berpartisipasi mendorong Ganjar sebagai capres 2024.

"Kita berkumpul di sini juga untuk menegaskan bahwa kandidat atau capres itu bukan melulu urusan partai politik. Tapi kami sebagai awam, kami juga punya hak sejak awal ikut dorong, sejak awal ikut serta partisipasi politik dalam mendorong kandidat yang kira-kira menurut kami paling pas," kata Mazdjo.

Jalan yang terjal

Ganjar Pranowo yang diusung oleh Ganjarist memiliki sejarah hampir sama dengan Jokowi. Lantas, apakah nasib Ganjar bisa sama dengan Jokowi?

Menurut Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Hendri Satrio, tak setuju dengan prediksi tersebut.

 

Menurutnya, cerita yang dialami Ganjar dengan orang nomor 1 di Indonesia ini berbeda.

Disebutkannya, Jokowi menang banyak dalam beberapa pemilihan kepala daerah (Pilkada).

"Ceritanya berbeda, antara Mas Ganjar dengan Pak Jokowi. Pak Jokowi di Solo menang 90 persen."

"Lalu, pindah ke Jakarta, mengalahkan banyak sekali tokoh kuat dan elektabilitasnya besar," ucapnya kepada Tribunnews, Selasa (25/5/2021).

Sementara, menurut Hendri, Ganjar sempat hampir kalah dengan lawan mainnya di Pilkada Jateng, Sudirman Said. "Mas Ganjar ini di Jawa Tengah lawan Sudirman Said aja hampir kalah."

"Padahal dia petahana dan di kandang banteng," lanjutnya.

Sehingga, setiap pemimpin punya cerita sendiri-sendiri di perjalanan politiknya.

Kesuksesan Jokowi tak bisa berulang terjadi pada Gubernur Jateng itu.

"Cerita setiap pemimpin enggak bisa diulang," jelas pengamat politik dari Lembaga Survei Kedai Kopi itu.

Seperti diketahui, secara terang-terangan Ketua DPD PDIP Jateng Bambang Wuryanto menilai sikap Ganjar terkait ambisinya menjadi presiden sudah kelewatan.

Direktur IndoStrategi Research and Consulting, Arif Nurul Imam menilai apa yang terjadi di PDIP sebagai sebuah dinamika politik.

Pasalnya, kata dia, selain Ganjar, ada Puan Maharani yang kemungkinan diproyeksikan menjadi calon presiden (capres) 2024 mendatang.

"Terkait internal PDIP yang memanas lantaran Ganjar Pranowo diindikasikan mau maju capres tentu bisa dibaca sebuah dinamika politik. Sebab di PDIP, selain Ganjar, ada Puan Maharani yang notabenenya anak Ketua Umum yang kemungkinan diproyeksikan maju capres," kata Arif.