INDUSTRY.co.id - Jakarta, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa kinerja pertumbuhan ekonomi triwulan II tahun 2021 tumbuh positif mencapai 7,07% (yoy).
Dengan capain ini, sejatinya membuat Indonesia berhasil keluar dari jurang resesi.
Menurutnya jika di kuartal II tahun 2020 lalu pertumbuhan hanya didorong oleh pemerintah melalui belanja APBN, di kuartal II tahun 2021 ini berbeda.
Selain sisi belanja pemerintah, pertumbuhan ekonomi antara lain didukung konsumsi 5,93%, investasi 7,54%, ekspor 31,78%, bahkan sektor manufaktur tumbuh 6,58%.
“Ini artinya mesin-mesin pertumbuhan ekonomi dari sisi permintaan sudah mulai menggeliat dan berkontribusi, tidak hanya bergantung dari belanja pemerintah,” ungkapnya pada Program Prime Time Talk Metro TV, dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Jumat (6/8/2021).
Lebih lanjut ia menyatakan, mesin pertumbuhan ekonomi yang lebih merata ini patut disyukuri tapi jangan sampai terlena.
Kewaspadaan tetap diperlukan. Hal ini dikarenakan varian delta masih membayangi aktivitas perekonomian.
“Varian delta tidak hanya menyerang Indonesia, tapi seluruh dunia. Ini nanti bisa mempengaruhi global recovery atau pemulihan ekonomi global yang tentu akan berpengaruh lagi ke Indonesia,” kata Menkeu.
Untuk itu, Ia berharap peran aktif seluruh komponen bangsa dan negara sangat dibutuhkan untuk menjaga kinerja perekonomian tetap di jalur positif.
Pemerintah melakukan tugasnya dengan memberikan vaksin gratis, memberikan pelayanan kesehatan, serta berbagai kebijakan penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi lainnya.
Sementara masyarakat dengan melaksanakan protokol kesehatan.
“Kalau kita ingin ekonomi pulih, rakyat kembali bekerja, dan kita semuanya bisa memulihkan kesejahteraan, maka covid harus dikendalikan sama-sama. Kalau kita tetap disiplin melakukan masker, maka meskipun ada pembatasan, ekonomi tidak merosot tajam karena aktivitas bisa jalan, namun kita tidak menyebabkan covidnya kemudian menular secara cepat dan activity atau positivity ratenya akan melonjak” ungkapnya.
Dikatakan Sri Mulyani lebih lanjut, pemerintah akan terus menjaga mesin-mesin pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga dan keempat bertahan bahkan meningkat.
"Masih ada daya bagi pemerintah untuk berbelanja," ujarnya.
Dimana menurutnya, realisasi belanja menunjukkan 41% untuk belanja pemulihan ekonomi nasional, 49% untuk perlindungan sosial, 40% untuk program prioritas, 32% untuk dukungan UMKM dan korporasi.
"Berbagai insentif usaha perpajakan diperpanjang sampai Desember 2021, abodemen listrik minimal masih diberikan sampai akhir tahun, juga insentif bagi tempat usaha yang kesulitan membayar sewa," jelas Sri Mulyani.
“Jadi kita masih punya amunisi,” pungkasnya.