INDUSTRY.co.id - Jakarta-Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) RI, Bambang Brodjonegoro mengatakan, pengembangan iptek di Indonesia masih belum mendapat perhatian yang memadai. Ini tercermin pada alokasi anggaran untuk research dan development yang masih minim.
Menurut Bambang, saat ini anggaran yang disediakan pemerintah melalui APBN untuk membiayai penelitian dan pengembangan hanya sekitar 0,1 persen saja dari PDB, suatu angka yang sangat kecil dibandingkan belanja publik untuk riset di negara-negara Asia seperti, Malaysia (1,25%), China (2,0 persen), Singapura (2,20 persen), Jepang (3,60 persen), Korea Selatan (4,0 persen), dan negara-negara OECD: Jerman (2,90 persen), Swedia (3,20 persen), AS (2,75 persen).
"Dari total anggaran riset yang ada, sekitar 80 persen berasal dari anggaran pemerintah, hanya sekitar 20 persen saja berasal dari industri dan swasta. Hal ini berbeda dengan negara yang sudah maju, anggaran riset dari industri sudah mencapai 75 persen," ungkap Bambang Brodjonegoro saat acara peluncuran Buku Putih AIPI di Jakarta (12/5/2017).
Bambang menjelaskan, belanja publik yang terbatas dan minimnya kontribusi sektor swasta untuk kegiatan penelitian dan pengembangan menjadi alasan mengapa kualitas dan kuantitas hasil penelitian di Indonesia yang menghasilkan inovasi belum berkembang optimal.
Penelitian dan pengembangan berperan sangat penting dalam melahirkan dan mempromosikan inovasi untuk produk baru. Karena itu, saat ini pemerintah sedang berupaya membentuk Dana Inovasi dengan melibatkan sektor swasta terutama dalam hal memobilisasi sumber daya keuangan untuk mendukung kegiatan litbang yang menghasilkan inovasi.
"Pembentukan Dana Inovasi akan menciptakan kesempatan bagi tiga pemangku kepentingan utama yaitu pemerintah, universitas, dan industri untuk berkolaborasi dalam mempromosikan inovasi melalui kegiatan penelitian terapan," terangnya.
Dana Inovasi akan memudahkan para pihak (pemangku kepentingan) untuk meningkatkan kapasitas inovasi yang dibutuhkan oleh industri.
Disisi lain, mengembangkan Dana Inovasi sangat penting untuk mendukung riset-riset inovatif yang diarahkan pada penerapan teknologi terdepan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas ekonomi.
Untuk itu, perguruan tinggi dituntut lebih kreatif terutama dalam membangun kerja sama dan kemitraan dengan dunia industri-dunia usaha. Kemitraan antara perguruan tinggi dengan dunia industri dan dunia usaha ini tentu saja harus saling menguntungkan.
"Dengan demikian, kerja sama dengan dunia industri dan dunia usaha sangat potensial untuk menjadi salah satu alternatif sumber pembiayaan, yang dapat dimanfaatkan oleh perguruan tinggi," tutup Bambang.