INDUSTRY.co.id - Jakarta, Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan membeberkan sebuah kabar tak sedap terkait nasib yang dialami sejumlah sejumlah BUMN karya.
Para pengamat meramalkan perusahaan pelat merah sektor konstruksi tersebut tinggal menunggu waktu akibat kondisi sulit yang diderita.
Hal tersebut tercermin dalam pengumuman laporan keuangan kinerja tahun 2020 yang rata-rata pendapatannya terjun bebas hingga ada yang menderita kerugian besar.
"Yang ditunggu itu tiba. Selasa lalu. Hari itu terbit laporan keuangan mereka. Semuanya menjadi jelas. Waskita Karya misalnya, rugi tidak kepalang tanggung: sampai Rp 7 triliun," kata Dahlan, dikutip INDUSTRY.co.id dari keterangan tertulisnya pada Sabtu (3/4/2021).
Adapun Wijaya Karya tidak sampai rugi. Tapi sebut Dahlan labanya terjun bebas, dari Rp 2,2 triliun menjadi kurang dari Rp 200 miliar.
"PT PP turun juga sama dari Rp 800 miliar tinggal Rp 128 miliar. Pun BUMN infrastruktur yang lain," paparnya.
"Pekerjaan infrastruktur memang gegap gempita tahun-tahun terakhir. Tapi bisnis tetaplah bisnis: punya perilakunya sendiri. Dan perilaku itu bersumber dari satu napas: uang," sambungnya.
Ia mencontohkan, pekerjaan jalan tol misalnya, memang luar biasa banyak. Merekapun bisa memiliki sendiri tol itu atau hanya sekadar mengerjakan milik orang lain.
Sebagian BUMN infrastruktur ngeri dengan besarnya modal yang harus disiapkan. Mereka memilih jadi kontraktor saja.
Tapi ada BUMN yang ambisius sekali: memiliki tol itu sekaligus mengerjakannya. Uang bisa dicari, kata mereka.
"Tapi sekuat-kuat e dari dewa pun tidak akan ditakuti bank," tandasnya.
Dijelaskannya lebih lanjut, ketika bencana tahap 1 itu datang, harapan tinggal pada obligasi, MTM dan sejenisnya.
Tapi, kata Dahlan, pemilik dana obligasi pun tahu, mana perusahaan yang masih bisa cari pinjaman bank dan mana yang sudah mentok.
Menurutnya, di sini pemilik dana obligasi bisa memainkan bunga. Dana bisa saja tetap tersedia -asal bunganya tinggi.
"Tahap 2 itu pun ada batasnya: sampai obligasi itu jatuh tempo," imbuhnya.
Begitu perusahaan terbukti gagal bayar obligasi pilihannya tinggal pada satu lubang yakni menerbitkan obligasi baru dengan bunga lebih tinggi lagi.
"Perkiraan saya, merosotnya kinerja keuangan mereka sebagian besar akibat kemakan bunga tinggi," tukas Dahlan.
Menurutnya, sebenarnya masih ada jalan lain yaitu right issue di pasar modal alias menambah jumlah saham yang dijual ke publik.
Tapi, kata Dahlan, BUMN punya batasan, tidak boleh menjual saham ke publik melebihi 50 persen (takut mayoritasnya jatuh ke asing).
Rasanya, lanjut ntraktor. Inilah sumber dana tersembunyi yang penting sekali," papar Dahlan.
Menurtnya, jarang yang menyadari ini, dimana ketika sub-kontraktor tidak kunjung dibayar maka sebenarnya mereka itulah sumber dana terdepan BUMN infrastruktur.
"Dan mereka itulah yang kini lebih menjerit dari BUMN itu sendiri. Itu karena sub kontraktor adalah perusahaan yang modalnya lebih kecil," jelas Dahlan.
Dan lagi, sub kontraktor itu juga mengambil materialnya dari perusahaan yang lebih kecil lagi.
Ujung-ujungnya yang paling kecil itulah yang paling menderita. Mungkin saja BUMN-BUMN itu tidak merasa menderita.
"Di BUMN yang seperti itu tidak terlalu dipikirkan oleh komisaris dan direksinya. Toh perusahaan itu bukan milik direksi dan komisarisnya," beber Dahlan.
Bahkan menurutnya, mungkin jabatan direksi dan komisaris di sana masih jadi rebutan.
"Ini berbeda dengan di swasta. Yang kondisi seperti itu sudah membuat direksinya tidak bisa tidur - -sampai pun tidak bisa lagi ereksi," ujarnya.
Namun diakuinya, masih tetap ada jalan keluar di BUMN infrastruktur itu.
Ia mencotohkan, Waskita Karya misalnya, bisa jual jalan tol miliknya. Kalau itu dilakukan langsung kerugian itu berubah menjadi laba.
Walhasil sebutnya, tidak wajar saja terlalu panik. Tapi siapa yang mau beli jalan tol di masa yang begini sulit?
"Tentu ada saja orang yang kelebihan uang. Masalahnya tinggal ini mau dijual dengan harga berapa?," kata Dahlan.
Pasalnya, pemilik uang akan selalu punya pikiran yakni di zaman yang sulit, harga barang harus murah.
"Pemilik jalan tol akan selalu menghitung, dengan harga murah itu apakah akan balik modal," ucapnya.
Akhirnya, kata Dahlan, semua akan kembali ke hukum dasar bisnis, yaitu siapa yang efisien dialah yang unggul.
Menurutnya, Waskita akan bisa cepat menjual asetnya kalau bisa menawarkan dengan harga menarik.
"Beberapa kali saya berharap lewat Disway bulan-bulan lalu: semoga SWF segera jalan. Dan dana dari Amerika, Uni Emirat Arab, Jepang dan Kanada itu segera masuk ke SWF," papar Dahlan.
"Ada yang sudah kehausan sampai kerongkongan," pungkasnya.