INDUSTRY.co.id - Jakarta, Dalam acara Fitch Indonesia Conference 2021, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyampaikan bahwa dalam setiap krisis ekonomi yang dihadapi oleh Indonesia, pemerintah tidak pernah berhenti belajar dan berusaha memperbaiki sistem ekonomi agar ke depan Indonesia dapat menghadapi tantangan dengan lebih baik lagi.

Advertisement

Begitu juga dengan pandemi Covid-19 yang sudah terjadi sejak tahun 2020 lalu. Dimana Pemerintah telah melakukan berbagai upaya extraordinary termasuk memperlebar defisit di atas 3% demi menyelamatkan Indonesia, terutama 40% masyarakat terbawah dan pelaku usaha.

"Hasilnya, tingkat kemiskinan Indonesia tidak turun sejauh yang diprediksi IMF. Indonesia mampu menjaganya di angka 10,4%, sedangkan prediksi IMF 11,8%," ucap Sri Mulyani, dikutip redaksi INDUSTRY.co.id pada Kamis (25/3/2021).

Advertisement

Selanjutnya, Pemerintah juga berusaha menjaga kredibilitas dari pelebaran defisit yang dilakukan.

Sejatinya, sesuai dengan UU No 2 tahun 2020, defisit di atas 3% hanya akan dilakukan selama 3 tahun, 2020 hingga 2022. 

Advertisement

"Di tahun 2021 ini, pemerintah secara bertahap akan mulai melakukan konsolidasi dengan menurunkan defisit ke 5,7% dan menyusun APBN 2022 dengan melihat data-data atas implementasi kebijakan fiskal sejak 2020," jelasnya.

Sri Mulyani juga mengungkapkan adanya pertanda baik dimana dirinya melihat adanya tren perbaikan di awal tahun ini.

Advertisement

Perbaikan tersebut menurutnya bersumber dari tiga mesin pertumbuhan yaitu investasi, konsumsi, dan ekspor.

"Ketiga mesin pertumbuhan itu sudah dapat bekerja dengan baik. Dengan begitu, APBN tidak lagi bekerja sendiri seperti di 2020. Pemerintah akan terus melihat secara detail belanja yang telah dilakukan dan efisiensi yang dapat diteruskan, terutama pada biaya operasional kantor pemerintahan," paparnya.

Di samping itu, sambung Sri Mulyani, Pemerintah juga memiliki Lembaga Pengelola Investasi (LPI/INA) yang ditujukan untuk menarik investasi agar Indonesia dapat tetap mengembangkan infrastruktur yang dibutuhkan tanpa membebani APBN.

Selain itu, optimistis lainnya juga muncul ketika Pemerintah bekerja berdampingan dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan.

"Pemerintah yakin Indonesia akan mampu perlahan mengembalikan defisit di bawah 3% setelah 2022," kata Sri Mulyani.

"Hal ini juga dapat tercapai apabila seluruh masyarakat dapat menjalankan aktivitas ekonomi dengan terus disiplin akan protokol kesehatan," pungkasnya.