Plastik Dulu Solusi, Kini?

Oleh : Ign Albert Sebastian Putra | Senin, 22 Februari 2021 - 11:09 WIB

Ign Albert Sebastian Putra
Ign Albert Sebastian Putra

INDUSTRY.co.id - Kesadaran akan lingkungan atau environment awareness adalah topik yang menjadi hangat di seluruh dunia sekurangnya dalam sepuluh tahun belakangan ini. Segala langkah dilakukan dengan tujuan menjaga kesinambungan lingkungan yang kian berubah belakangan ini. 

Banyak orang sudah mulai mengambil bagian, baik dimulai dari diri sendiri maupun dengan menginspirasi orang lain untuk melakukan tujuan yang sama, dan sekarang hal ini telah menjadi trend di masyarakat ditambah dengan betapa kuatnya peran media sosial di internet.

Salah satu hal yang paling menarik perhatian saat ini dan mudah dipahami di kalangan masyarakat awam adalah pencemaran lingkungan.

Plastik (Dulunya) Adalah Solusi

Berbicara mengenai pencemaran lingkungan tidak pernah lepas dengan sampah. Sampah telah menjadi bagian besar dari hidup manusia, dan bisa dikatakan kalau manusia telah “kecanduan” dengan sampah.

Melansir dari survey yang dilakukan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, kontribusi terbesar penumbang sampah adalah rumah tangga sebesar 48 persen, dengan rata – rata per individu setiap harinya menghasilkan sampah sebesar 0,8 kilogram. 

Dari sekian banyak jenis sampah, plastik menjadi bagian besar yang dihasilkan. Segala penggunaan bahan plastik seperti kemasan, tutup pelindung, bahan tambahan dan lain-lain sangat mudah ditemukan dalam keseharian.

Namun sayangnya plastik adalah salah satu sampah yang paling sulit terurai dalam lingkungan. 

Padahal ironisnya ialah, di masa penemuannya diawal abad 20, plastik digadang-gadang sebagai sebuah solusi bahkan disaat menggantikan penggunaan bahan dasar kertas untuk kemasan yang lebih berat, sulit dibentuk, memakan lebih biaya dan memerlukan penebangan pohon sebagai bahan dasarnya.

Sifat plastik yang mudah dibentuk, hemat biaya, ringan namun dapat melindungi isi kemasan dengan baik membuat manusia semakin sulit untuk lepas dari penggunaannya.

Bahkan, kini banyak sekali produk berbahan dasar plastik yang memang belum bisa digantikan karena alasan kebersihan, seperti peralatan medis, pelindung makanan dan lain sebagainya. 

Namun bagaimanapun juga, tindakan untuk mengurangi penggunaan plastik dan solusi penanggulangannya harus dilakukan.

Sebab, berdasarkan survey yang dilakukan oleh Environmental Protection Agency (EPA) dari Amerika Serikat, sejauh ini dari sekian banyak limbah plastik yang dihasilkan, hanya kurang dari 10% yang terdaur ulang, sementara sisanya tertampung di tempat pembuangan air atau terdampar di lautan. 

Gerakan masyarakat seperti menghentikan penggunaan plastik sekali pakai merupakan salah satu yang paling umum belakangan ini.

Namun, seberapa besar dampak gerakan ini dalam menanggulangi masalah lingkungan tersebut? Bagaimana dampak gerakan ini terhadap pelaku bisnis pembuat kemasan plastik tersebut saat ini?

Melihat gerakan semacam ini telah menarik perhatian yang cukup besar, kini pergeseran gaya hidup mulai bergeser di kalangan masyarakat, setidaknya mereka yang ambil bagian untuk peduli dalam hal lingkungan. Hal ini membuat pelaku bisnis industri kemasan plastik harus mau berinovasi untuk menyelaraskan dengan pergeseran gaya hidup tersebut. 

Banyak cara telah dimulai mereka yang diharapkan bisa menjadi pionir untuk hal-hal besar di masa depan. Tentu saja adanya inisiasi tersebut tidak dapat langsung menghilangkan dampak plastik terhadap lingkungan secara masif, dan setiap inovasi memiliki tantangannya masing-masing. Pengurangan konten plastik, daur ulang plastik, peralihan ke kemasan multiguna serta pencarian alternatif pengganti kemasan plastik telah merupakan upaya-upaya yang terus dilakukan.

Pengurangan Konten Plastik

Dalam industri kemasan plastik, kini pelaku usaha telah berusaha untuk melakukan efisiensi dalam penggunaan jumlah material plastik yang diperlukan dalam satu kemasan.

Penyederhanaan bentuk dan pengurangan ketebalan lapisan kemasan dilakukan. Ini bertujuan untuk menekan jumlah limbah yang dihasilkan dan juga konsumsi energi yang diperlukan untuk memproduksi dalam volume yang sama. 

Sebagai contoh yang dilakukan oleh Plastic Soup Foundation, sebuah organisasi non-profit dari Belanda, yang mendorong pelaku bisnis dengan membentuk law enforcement dan memberikan target pengurangan konsumsi bahan dasar plastik hingga 25% paling lambat sebelum 2025.

Namun aktualnya sejauh tak sampai setengah dari perusahaan yang bergabung dalam gerakan ini mencapai target tersebut, dikarenakan umumnya kesulitan teknis yang dihadapi. 

Tahap penyederhanaan bentuk atau desain kemasan plastik merupakan menjadi tantangan yang besar dalam hal ini, dikarenakan desain dapat mempengaruhi kualitas dari segi ketahanan kemasan terhadap faktor lingkungan sekitar seperti tekanan, kelembapan udara dan perlakuan manusia terhadap barang. Sehingga selain fokus terhadap jenis produk apa yang dikemas, inovasi dalam hal ini perlu mempertimbangkan aspek eksternal seperti faktor geografi, infrastruktur, tingkah laku konsumen dan lain-lain.

Daur Ulang Plastik

Tentunya semua orang telah mengenal istilah ini sejak lama. Adanya teknologi daur ulang diharapkan dapat menciptakan satu kitaran yang berkesinambungan dari produksi kemasan, penggunaan oleh konsumen dan kembali ke produksi semula.

Namun apakah faktanya gerakan ini sungguh bisa menjadi satu inisiasi yang feasible dan viable? Walaupun konsep ini adalah yang cukup mudah untuk dipahami, namun kenyataannya realisasinya adalah yang paling sulit.

Untuk bisa membuat kitaran tersebut diperlukan rantai pasok yang cukup rumit, dimulai dari metode pengumpulan dari konsumen akhir, pemilahan berdasarkan jenis-jenis plastik dan dari jenis sampah lain, serta proses panjang untuk mengubahnya menjadi bahan yang siap pakai kembali dan penghubungan ini semua ke industri pembuat kemasannya kembali. 

Semua tahap tersebut memerlukan pelaku usaha yang besar dan peranan distribusi yang tidak boleh lepas dari satu tahap ke lainnya.

Ini membuat proses daur ulang plastik memerlukan investasi dan biaya operasional yang sangat tinggi, sehingga tentu saja harga produk material yang dihasilkan pun mahal. Disamping itu berbicara mengenai kualitas, sejauh perkembangan teknologi yang ada sekarang, material murni masih memiliki sifat ketahanan yang jauh lebih baik daripada material daur ulang.

Mengambil contoh dari sebuah riset yang dilakukan oleh Wendover Productions dimana Tiongkok sebagai contoh negara yang ‘sempat’ memiliki sebuah rantai pasok yang baik dalam menjalankan sektor bisnis daur ulang plastik, dengan keunggulan fasilitas yang besar, kemampuan mengimpor bahan dasar dari negara lain dan biaya upah yang masih relative kecil. 

Margin profit yang didapatkan sangat lah kecil. Belum lagi hingga akhirnya pada tahun 2018 ketika Tiongkok memutuskan untuk menghentikan sebagian besar impor bahan dasarnya sampai 99% dikarenakan alasan dampak kesehatan manusia dan lingkungannya, membuat belum ada lagi contoh lain yang benar-benar menunjukkan bisnis daur ulang plastik sebagai bisnis yang layak dijalankan.

Intinya adalah, daur ulang plastik adalah mudah dan sangat mungkin untuk dijalankan apabila kita berbicara dari segi teknis. Namun, secara ekonomi bisnis daur ulang plastk justru sebaliknya, sehingga untuk orang masih enggan untuk melakukan bisnis ini secara spesifik.

Peralihan ke Kemasan Multiguna

Salah satu yang menjadi trend dan sedang terus berkembang saat ini adalah peralihan dari konsumsi kemasan sekali guna menuju ke kemasan multiguna. Dalam lingkup individu misalnya dengan penggalakan gerakan membawa botol minum sendiri, wadah makan, kantong belanja dan lain-lain. Dampak gerakan ini berbanding lurus dengan skala pelakunya itu sendiri. 

Namun sayangnya, tantangan terhadap gerakan ini adalah faktor manusia yang sulit lepas dari kenyamanan yang sudah ada. Baik disengaja ataupun tidak, manusia kadang memilih untuk tidak menjalankannya karena kesulitan merubah kebiasaan yang sudah ada tersebut. Sehingga sampai saat ini, solusi ini belum dapat diukur seberapa efektif terhadap penanggulangan masalah lingkungan tersebut.

Dalam lingkup yang lebih besar, peluang usaha muncul untuk pelaku-pelaku bisnis terutama retail untuk menyediakan fasilitas dengan tujuan yang sama. Pola jual beli dengan sistem bulk sudah mulai tersedia untuk pembelian di supermarket, pasar tradisional, retail dan lain sebagainya. 

Seperti bahan sembako, sabun cuci hingga oli isi ulang mesin kendaraan merupakan contoh barang yang sudah dapat dibeli tanpa harus secara khusus disajikan dalam kemasan sekali pakai. Tantangan dalam hal ini adalah pelaku retail penyedia fasilitas ini perlu membentuk jaringan langsung dengan penyedia bahan tersebut dan berkoordinasi dalam membentuk model bisnis yang baru.

Alternatif Bioplastic dan Bahan Lain yang Ramah Lingkungan

Banyak inovator diseluruh dunia kini bekerja keras untuk terus menemukan alternatif terbaik pengganti plastik. Namun sejauh ini penemuan-penemuan yang sudah ada selalu dihadapkan dengan kekurangan dan ketidakpastian akan kebenarannya mengenai ramah lingkungan.

Bioplastic contohnya, belum bisa menggantikan fungsi plastik secara ketahanannya dalam menjaga barang kemasannya. 

Daya tahan plastik konvensional yang sangat baik membuatnya menjadi diunggulkan sebagai pilihan pertama, dan juga membuatnya sebagai alasan utama mencemari lingkungan dalam waktu yang sangat lama. Masih muncul keraguan juga mengenai klaim bioplastic yang disebut dapat dengan mudah terurai menjadi partikel kecil yang tidak membahayakan lingkungan.

Sehingga yang menjadi tantangan dalam hal ini adalah teknologi yang perlu terus berkembang hingga waktu yang saat ini belum dapat ditentukan lagi.

Masa Depan Plastik Sebagai Kemasan

Kesadaran akan peduli lingkungan secara nyata membentuk pola hidup baru atau setidaknya menggeser pola hidup lama di tengah masyarakat. Keadaan yang membentuk trend ini lah yang juga membuat perubahan pasar, sehingga pelaku bisnis pun harus selalu siap berinovasi untuk menyesuaikan segala sesuatu yang sedang terjadi. 

Seperti halnya penggunaan plastik sebagai kemasan telah membuat masyarakat untuk lebih bijak dalam membeli barang apa dan bagaimana. Perubahan ini memerlukan peran yang lebih besar seperti pemerintah ataupun organisasi global sebagai regulator pembuat kebijakan-kebijakan yang terkait.

Secara gamblang, kalau berbicara mengenai kesinambungan ramah lingkungan, sejauh ini belum ada gerakan atau pola bisnis yang benar-benar menunjukkan industri plastik memiliki satu kitaran yang berkesinambungan mulai dari bahan dasar, pembuatan kemasan, hingga daur ulang nya.

Sehingga satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah untuk menghentikan keseluruhan sistem tersebut dari hulu hingga hilir, bukan hanya bergantung kepada perkembangan teknologi daur ulang sebagi langkah akhir dalam lingkaran ini.

Faktanya tantangan yang dihadapi sekarang adalah pola hidup manusia. Cara dan perilaku manusia dalam mengakses dan mengkonsumsi produk konsumen cepat tidak berubah sejak dahulu.

Yang berubah hanyalah sistem penyajian dan pengemasan produk tersebut, dimana contoh disini ialah produk yang dulunya dikemas dengan kertas, sekarang hanya ditukar dengan kemasan plastik.

Mengubah pola hidup manusia bukan sebuah inisiasi yang dilakukan dalam waktu yang relatif singkat, dan belum ada ukuran yang pasti dalam upaya ini.

Sifat plastik yang mudah dibentuk, ringan dan kuat, lebih hemat dan memiliki ketahanan yang baik itulah yang membuatnya enggan juga untuk dilepaskan dari lingkaran ekonomi khususnya industri kemasan.

Banyak usaha yang telah dilakukan baik oleh pelaku bisnis melalui inovasi-inovasinya maupun dari individu konsumen dengan menggunakan alternatif kemasan lain, merubah pola cara membeli barang, membawa botol minum, kantong belanja sendiri dan lebih bijak dalam menggunakan plastik.

Sementara para ilmuwan berupaya untuk terus menemukan bioplastic yang sesungguhnya, dan inovator lainnya membangun cara daur ulang lebih efisien.

Sejauh itu semua masih dalam proses pengembangannya, dapat dipastikan bahwa plastik akan selalu menjadi bagian dari hidup manusia.

Penulis adalah Ign Albert Sebastian Putra, Karyawan Swasta & Mahasiswa S2 - Management in Technology President University

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Beras Impor (Foto Dok Industry.co.id)

Minggu, 07 Maret 2021 - 15:40 WIB

Buat Apa Impor 1 Juta Ton! Toh Beras Petani Bisa Diserap

Akademisi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Aliyth Prakarsa menyayangkan adanya kebijakan impor 1 juta beras melalui Perum Bulog untuk memenuhi cadangan beras nasional. Menurut Aliyth,…

Ketum Demokrat AHY dan Ketua KSP Moeldoko (foto Kolase)

Minggu, 07 Maret 2021 - 15:25 WIB

Catat! Demokrat Solid, DPD PD: KLB Abal-abal! AHY Ketua Umum Yang Sah...

Ketua Umum Partai Demokrat (PD), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan bahwa dirinya merupakan Ketua Umum PD yang sah hingga saat ini. "Tidak ada dualisme kepemimpinan & kepengurusan Partai…

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memegang kelengkeng

Minggu, 07 Maret 2021 - 15:02 WIB

Agro Wisata Borobudur Bisa Nyicipin Kelengkeng, Loh!

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Mentan SYL) meninjau kawasan kebun agrowisata buah kelengkeng Borobudur di Kabupaten Magelang guna meningkatkan pengembangan budidaya pada berbagai daerah,…

Balai Latihan Kerja Kemnaker produksi masker dan apd

Minggu, 07 Maret 2021 - 13:50 WIB

Pengelola BLK di RI, Tolong Catat! Menaker Ida: Kalau BLK Cuma Lahirkan Pengangguran, Tutup Saja...

Menteri Ketenagakerjaan, Ida Fauziyah mengingatkan pengelola Balai Latihan Kerja (BLK), di pusat dan daerah agar dapat menjawab kebutuhan tenaga kerja di dunia usaha dan dunia industri.  Jika…

Menaker Ida Kunjungi Kawasan Industri Weda Bay

Minggu, 07 Maret 2021 - 13:36 WIB

Bertolak ke Kawasan Industri Weda Bay, Menaker Ida: Kita Berharap Hubungan Industrial di PT IWIP Bisa Terus Harmonis

Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Ida Fauziyah dalam kunjungan kerjanya ke Kawasan Industri Weda Bay (IWIP) mengatakan bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kompetensi…