INDUSTRY.co.id - Jakarta – Rencana pemerintah meningkatkan campuran biodiesel dari B40 menjadi B50 dinilai telah didukung kesiapan infrastruktur. Namun, keberhasilan implementasi program tersebut sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga keberlanjutan pasokan biodiesel, bahan baku pendukung, hingga sistem distribusinya.
Direktur Eksekutif Center for Energy Security Studies (CESS), Ali Ahmudi Achyak mengatakan, tantangan terbesar program B50 ke depan bukan lagi pada proses pencampuran bahan bakar, melainkan memastikan rantai pasok biodiesel tetap terjaga.
"Ke depan tantangan terbesar bukan lagi pada pencampuran B50, melainkan bagaimana menjamin pasokan biodiesel, memperkuat distribusi, mengatur mekanisme pengadaan, serta menjaga kualitas produk di seluruh rantai pasok," ujar Ali dalam keterangannya, Senin.
Menurut Ali, kenaikan komposisi biodiesel dari B40 menjadi B50 bukan sekadar penambahan 10 persen. Dari sisi volume, tambahan tersebut akan mengurangi konsumsi solar secara signifikan sehingga berpotensi menekan impor bahan bakar minyak (BBM).
Ia menilai pengalaman Indonesia menerapkan program B20, B30, hingga B40 menjadi modal penting dalam menjalankan B50. Berdasarkan hasil pengamatannya di sejumlah terminal BBM dan fasilitas produsen biodiesel, kesiapan infrastruktur pencampuran (blending) dinilai sudah memadai.
Meski demikian, Ali mengingatkan keberhasilan B50 juga ditentukan oleh ketersediaan bahan baku pendukung produksi biodiesel, terutama metanol dan bahan kimia lainnya yang digunakan dalam proses pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel.
Selain itu, pemerintah juga diminta mengantisipasi tingginya tingkat utilisasi pabrik biodiesel nasional yang disebut telah mencapai lebih dari 80 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat ruang peningkatan produksi semakin terbatas. Karena itu, pengembangan kapasitas pabrik baru maupun penataan kembali alokasi produksi perlu mulai dipersiapkan sejak sekarang.
Di sisi lain, Ali juga menyoroti pentingnya pembenahan sistem distribusi agar biaya logistik biodiesel dapat ditekan.
"Pola distribusi yang lebih efisien akan menjaga harga biodiesel tetap kompetitif sekaligus mempertahankan kualitas produk hingga diterima masyarakat," katanya.
Ali menilai, apabila seluruh aspek tersebut dapat dikelola dengan baik, implementasi B50 akan menjadi fondasi penting bagi strategi diversifikasi energi nasional sekaligus memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah tengah menyiapkan pembangunan industri metanol untuk mendukung kebutuhan program B50.
Menurut Bahlil, pemerintah akan melakukan groundbreaking pembangunan pabrik metanol di Bojonegoro, Jawa Timur, pada Juli 2026. Fasilitas tersebut akan menggunakan gas sebagai bahan baku utama.
Selain itu, pemerintah juga berencana membangun industri metanol di Kalimantan Timur yang memanfaatkan batu bara sebagai bahan bakunya.
Pembangunan dua fasilitas tersebut diharapkan mampu mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor metanol sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku bagi implementasi program biodiesel B50.