INDUSTRY.co.id - Jakarta- Organisasi Pengembangan Industri Perserikatan Bangsa-bangsa (UNIDO) bekerjasama dengan ISEAL dan Kementerian Perindustrian hari ini menyelenggarakan forum 'Global Sustainability Standards Symposium'.

Lebih dari 200 pemimpin bisnis berkumpul untuk membahas tantangan yang dihadapi bisnis dalam memperkuat daya saing, akses pasar baru dan mempertahankan rantai nilai yang berkelanjutan.

Direktur Eksekutif ISEAL, Karin Kreider mengatakan, bisnis menghadapi banyak tantangan serupa di berbagai sektor. Simposium ini merupakan kesempatan bagi para pemimpin dan ahli untuk bergabung dalam menyelesaikan beberapa masalah terberat yang kita hadapi dan berbagai pengalaman dan pembelajaran.

"Hari ini terkonsentrasi pada pemeriksaan masalah umum yang dihadapi oleh berbagai sektor termasuk perikanan, kelapa sawit, kakao dan hutan, serta keuntungan ekonomi, sosial dan lingkungan yang meluas dalam memasukkan praktik yang bertanggung jawab ke dalam rantai nilai," ungkap Karin Kreider saat pembukaan forum 'Global Sustainability Standards Symposium' di Jakarta (3/5/2017).

Dikesempatan yang sama, Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto mengatakan, standar keberlanjutan global dianggap sebagai terobosan baru dalam menghadapi persaingan global dan memungkinkan penciptaan akses pasar baru dengan berfokus pada standar keberlanjutan dan rantai nilai global.

"Dengan berpartisipasi dalam acara ini, industri indonesia diharapkan dapat meningkatkan standar produk industri mereka sehingga dapat meningkatkan penetrasi ke pasar global, terutama pasar eropa," terang Airlangga.

Sementara itu, Wakil ketua Kadin untuk CSR dan Persaingan Bisnis, Suryani Motik, menghargai ISEAL dan UNIDO karena membawa isu standar keberlanjutan di forum ini.

Menurut Suryani, bertanggung jawab secara sosial adalah satu-satunya cara yang harus dilakukan perusahaan untuk mempertahankan bisnis dan memenangkan persaingan. Sementara berkontribusi terhadap pembangunan berkelanjutan standar keberlanjutan global tidak seharusnya menjadi penghalang perdagangan.

"Oleh karena itu kolaborasi antar pemangku kepentingan sangat diperlukan untuk memastikan situasi yang saling menguntungkan," tutup Suryani.