INDUSTRY.co.id - Jakarta - Sejarawan senior, Profesor Anhar Gonggong, dalam sebuah wawancara yang ditayangkan  channel   Tagar.id   di Youtube menyatakan bahwa terkait peristiwa kelam G30S/PKI 1965, jangan hanya melihat tahun itu saja.

“Jika ingin tahu situasi G 30 S/PKI jangan hanya melihat tahun 1965. Anda harus kembali Lihat tahun-tahun sebelumnya. Tahun 1962, 1963, dan 1964,” kata Profesor Anhar dalam pernyataanya yang dikutip, Jumat (2/10/2020)

Dalam tayangan berdurasi 21 menit itu, Anhar menjelaskan  bahwa aksi-aksi keganasan PKI terhadap lawan-lawan politiknya sudah terjadi  tiga tahun sebelumnya. 

“Nah, pada periode itu banyak kejadian yang melahirkan berbagai sikap tertentu terhadap PKI. Misalnya terhadap orang Islam. Bagaimana Pemuda Rakyat di Kanigoro menyerang kaderisasi Pemuda Islam Indonesia (PII) dengan menyerbu masjid”, ujarnya.

Untuk memperkuat analisisnya tersebut, Anhar mengutip buku ‘Banjir Darah’ yang menulis aksi-aksi PKI sepanjang kurun tiga tahun tersebut hingga tahun 1965. Hal itu terekam dalam tayangan di  menit ke 15:30.

Buku ‘Banjir Darah’ adalah sebuah buku karya Anab Afifi dan Thowaf Zuharon yang memuat aksi-aksi kejejaman PKI dalam kurun panjang dari tahun 1962, 1945, 1946, 1948, 1962, 1963, 1964, 1965, dan 1968.

Saat ini buku tersebut memang sangat diminati dan viral di media sosial serta menjadi perbincangan luas para netizen. Buku yang terbit pertengahan Agustus 2020 itu, saat ini sudah cetak ulang sebanyak empat kali dalam kurun satu bulan.

Sebagai sebuah karya berlatar sejarah, buku ini memang fenomenal. Hanya dalam tempo satu bulan sudah tercetak puluhan ribu eksemplar. Hal itu tidak terlepas dari gaya penyajian penulisan Banjir Darah yang memikat dengan memasukkan unsur sastra..

“Buku ini memiliki gaya sastra yang berbeda. Berkali-kali saya membuka menghela nafas, kemudian sedih, dan kadang suka tersenyum. Buku ini benar-benar telah memasuki theatre of mind saya”, ujar Eco Winoto, seorang pencinta sejarah dan sastra.