INDUSTRY.co.id - Jakarta-Pertamina akan mengembangkan bisnis kedepannya. Langkah itu dengan mengajukan anak usaha atau subholding Pertamina mencari pendanaan di Pasar Modal. Subholding hulu dikukuhkan pertengahan Juni 2020. Rencana ke pasar modal atau Initial Public Offering (IPO) setelah restrukturisasi
Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, kebutuhan biaya pengembangan bisnis tersebut tidak bisa sepenuhnya berasal dari kas internal.
"Untuk enam tahun ke depan, biaya investasi yang diperlukan perseroan mencapai 133 miliar dollar AS," katanya dalam diskusi virtual, Minggu (26/7/2020).
Nicke memastikan langkah IPO bukan privatisasi. Akan tetapi, ia memastikan langkah ini tidak melanggar aturan yang tertuang dalam UU BUMN Nomor 19 Tahun 2003.
Menurut dia, opsi IPO menjadi lebih fleksibel ketimbang penerbitan surat utang atau global bond. Sebab, perseroan tidak perlu membayarkan pinjaman.
"Kas 47 persen, IPO lebih fleksibel dan tidak harus kembalikan pokok dari pinjaman," jelasnya.