INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang Januari-Juni 2020 membukukan laba bersih Rp12,2 triliun, turun tipis 5,43 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019 sebesar Rp12,9 triliun. Itu karena BCA mengalokasikan sebagian laba tersebut sebagai provisi guna mengantisipasi kenaikan biaya pencadangan kredit.
“Sebenarnya, total nilai laba BCA sebelum provisi dan pajak mencapai Rp21,5 triliun pada paruh pertama tahun ini, atau tumbuh 15,8 persen dibandingkan periode yang sama pada 2019 lalu sebesar Rp18,6 triliun,” ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank BCA, pada konferensi pers di Jakarta, Senin (27/07/2020).
Jahja mengemukakan, kendati pertumbuhan kredit terlihat agak melambat pada enam bulan pertama tahun ini, tetapi BCA tetap harus mengalokasikan provisi untuk mengantisipasi kenaikan biaya pencadangan kredit.
Meski demikian, menurut Jahja, pandemik Covid-19 berdampak pada perlambatan berbagai aktivitas bisnis di berbagai jenis industri, terutama sepanjang Maret-Juni 2020. Hingga 30 Juni 2020, total nilai kredit yang disalurkan Bank BCA mencapai Rp595,1 triliun, tumbuh tipis 5,3 persen dibandingkan posisi hingga 30 Juni 2019 sebesar Rp565,1 triliun.
Kontributor terbesar dari kredit yang disalurkan BCA hingga 30 Juni 2020 tersebut adalah kredit korporasi sebesar Rp257,9 triliun, atau mencapai sekitar 43,34 persen dari total kredit yang disalurkan BCA pada periode tersebut. Kredit korporasi BCA tersebut tumbuh 17,7 persen dibandingkan posisi pada 30 Juni 2019 sebesar Rp219,1 triliun.
Sementara itu, kredit komersial dan UKM turun 0,9 persen menjadi Rp184,6 triliun. KPR tumbuh flat 0,3 persen menjadi Rp91,0 triliun dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB) turun 11,9 persen menjadi Rp42,5 triliun. Saldo outstanding kartu kredit turun 18,6 persen menjadi Rp10,6 triliun karena penurunan konsumsi domestik. Total portofolio kredit konsumer turun 5,1 persen menjadi Rp146,9 triliun.
Jahja menjelaskan, untuk menghadapi perlambatan bisnis, BCA melakukan restrukturisasi kredit secara selektif di berbagai segmen. Pada Maret-Juni 2020, BCA merestrukturisasi kredit sebesar Rp115 triliun atau sekitar 20 persen dari total kredit yang berasal dari 118.000 nasabah.
“Per 30 Juni 2020, total kredit yang telah direstrukturisasi mencapai Rp69,3 triliun atau 12 persen dari total portofolio kredit. Kami melihat adanya kemungkinan peningkatan kredit yang direstrukturisasi hingga 20-30 persen dari total portofolio kredit, yang berasal dari 200.000-250.000 nasabah,” jelas Jahja.
Jahja menuturkan, kendati menghadapi tantangan pandemik, Bank BCA berhasil mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tinggi pada semester pertama 2020. Dana giro dan tabungan (CASA) tumbuh 12,8 persen menjadi Rp575,9 triliun dan berkontribusi sebesar 75,6 persen dari total dana pihak ketiga pada Juni 2020.
“Jaringan transaksi perbankan yang luas merupakan faktor pendorong pertumbuhan dana CASA. BCA terus berinvestasi pada platform layanan transaksi perbankan, khususnya pada digital channels. Jumlah rekening tumbuh 11,9 persen mencapai 22,5 juta rekening hingga Juni 2020 didukung oleh layanan pembukaan rekening online,” papar Jahja.
Sementara itu, deposito berjangka tumbuh 13,6 persen mencapai Rp185,6 triliun. Secara keseluruhan total dana pihak meningkat 13,0 persen menjadi Rp761,6 triliun. Posisi likuiditas tetap kokoh dengan LDR sebesar 73,3 persen. Likuiditas berada pada tingkat yang sehat untuk mengantisipasi berbagai kebutuhan yang tidak terduga, khususnya selama masa pandemik.
Selain itu, demikian Jahja, Bank BCA pada semester pertama 2020 berhasil menurunkan biaya DPK sehingga dapat membantu meringankan tekanan pada pendapatan bunga kotor akibat peningkatan restrukturisasi kredit.
“Pendapatan bunga bersih pada semester pertrama 2020 meningkat 10,6 persen menjadi Rp27,2 triliun dibandingkan periode yang sama pada 2019 sebesar Rp24,59 triliun. Kondisi ini mendukung BCA untuk membukukan pendapatan operasional sebesar Rp37,8 triliun, atau tumbuh 10,3 persen. Di lain sisi, beban operasional tumbuh lebih rendah, sebesar 3,8% menjadi Rp16,2 triliun,” terang Jahja.
BCA pada semester pertama 2020 mencadangkan dana sebesar Rp6,5 triliun untuk membiayai penurunan nilai aset, sejalan dengan peningkatan risiko potensi penurunan kualitas kredit.
“Kendati demikian, di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, Bank BCA tetap mampu menjaga permodalan Bank pada posisi yang solid dengan rasio kecukupan modal (CAR) di posisi 22,9 persen, jauh diatas rasio yang ditetapkan oleh regulator,” imbuh Jahja.
Adapun rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) BCA tercatat sebesar 2,1 persen pada Juni 2020 dibandingkan 1,4 persen pada Juni 2019. Bank membukukan rasio pengembalian terhadap aset (Return On Assets/ROA) 3,1 persen dan pengembalian terhadap ekuitas (Return On Equity/ROE) 15,6 persen pada semester pertama 2020. (Abraham Sihombing)