INDUSTRY.co.id - Jakarta - Untuk pertama kalinya, Gerakan Ciliwung Bersih (GCB) menjadi inisiator program pengolahan sampah Sungai menjadi energi dalam bentuk briket/pelet yang disebut Tempat Olahan Sampah Sungai Gerakan Ciliwung Bersih (TOSS-GCB). 

Selanjutnya, briket/ Pelet bisa dimanfaatkan untuk bahan bakar pengganti minyak tanah bahkan LPG untuk keperluan warung hingga industri yang menggunakan boiler seperti pabrik tekstil, pupuk, dan pembangkit listrik. 

Program ini dirancang untuk mengolah sampah Sungai menjadi listrik dan diperuntukkan bagi masyarakat di sepanjang aliran Sungai Ciliwung dengan produk akhirnya adalah syntetic gas (syngas) yang mampu menjadi substitusi bahan bakar untuk genset/diesel.

Listrik yang dihasilkan dari unit instalasi TOSS-GCB ini akan digunakan mengoperasikan mesin pompa dan penjernihan air Sungai sehingga laik untuk kebutuhan Mandi, Cuci, Kakus (MCK).

Sasaran utamanya adalah meningkatkan kualitas air sungai dan mengembalikan fungsi sungai sebagai bahan baku air bersih. Hal ini dapat diwujudkan dengan mereplikasi unit TOSS-GCB agar di setiap lokasi Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) sehingga memiliki fasilitas MCK sekaligus mengolah dan memanfaatkan sampah di sekitarnya menjadi  energi listrik untuk mengoperasikan instalasi TOSS GCB tersebut.

TOSS-GCB adalah suatu program kolaboratif antara GCB dengan Pemerintah pusat melalui kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan; Pemerintah provinsi DKI Jakarta; Badan Usaha Milik Negara melalui anak usaha PT PLN (Persero) yaitu PT Indonesia Power; Badan Usaha Milik Daerah melalui PDAM DKI Jakarta; perusahaan swasta yaitu PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood); serta startup company di bidang supply-value chain energi baru dan terbarukan bernama comestoarra.com.

Program ini diresmikan oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran  dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, M.R. Karliansyah pada Sabtu 27 Juni 2020.

Menurut Ketua GCB, Peni Susanti, tujuan didirikan GCB adalah untuk menggalang kepedulian masyarakat dalam menjaga kebersihan serta kelestarian aliran Sungai Ciliwung. Organisasi nirlaba yang didirikan pada 1989 ini juga diharapkan mampu menjadi sarana edukasi dan wisata (edu-wisata) bagi masyarakat luas khususnya yang berada di Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung.

"Sungai Ciliwung telah lama dimanfaatkan sebagai bahan baku air minum. Sayangnya, Sungai Ciliwung yang diharapkan mampu menjadi salah satu simbol dan etalase kota Jakarta telah tercemar oleh sampah, baik plastik, domestik rumah tangga, dan juga biomassa," kata Peni melalui keterangan resmi yang diterima INDUSTRY.co.id, Minggu (28/6/2020).

Melalui program TOSS-GCB, Peni berharap agar seluruh stakeholders di sepanjang aliran Sungai Ciliwung mengembalikan  fungsi Sungai Ciliwung sebagai sumber air bersih. Sehingga usaha  yang selama ini dilakukan terbatas pada kegiatan pembersihan sampah yang telah masuk Sungai, akan ditingkatkan menjadi usaha pencegahan dan pendidikan yang dilakukan oleh setiap komunitas KPC agar masyarakat tidak membuang sampah ke Sungai, tapi ke unit-unit TOSS GCB.

Dengan berkurangnya sampah yang masuk Sungai, maka pemulihan air sungai sebagai bahan baku air bersih akan menjadi lebih cepat. Bahkan, masyarakat sepanjang Sungai juga akan mendapat manfaat dari air bersih yang berasal dari Sungai yang telah dijernihkan menggunakan energi yang berasal dari sampah sungai itu sendiri.

Sebagai perusahaan swasta yang turut mengembangkan Program TOSS-GCB, Head of Corporate Communications Division PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana mengatakan peran aktif Indofood terhadap pelestarian lingkungan terangkum dalam program Corporate Social Responsibility, Protecting The Environment.

"Indofood mendukung berbagai upaya yang dilakukan dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan, khususnya upaya pengelolaan sampah, terlebih jika upaya dilakukan dengan mengusung pendekatan ESR atau Extended Stakeholder Responsibility. Pendekatan ini memungkinkan semua pihak bergotong royong sesuai kapasitas dan kompetensinya masing-masing sehingga menghasilkan dampak yang lebih signifikan," ungkap Stefanus.

TOSS-GCB ini adalah salah satu inisiatif untuk menjaga kebersihan dan kelestarian Sungai Ciliwung yang memiliki fungsi penting bagi Jakarta. Diharapkan dengan semakin banyaknya TOSS  di sepanjang Sungai Ciliwung, masyarakat dapat lebih teredukasi untuk menjaga kebersihan sungai.

TOSS-GCB adalah konsep pengolahan sampah (rumah tangga dan biomassa) berbasis komunitas/masyarakat yang digagas oleh Supriadi Legino dengan menggunakan teknologi peuyeumisasi (Biodrying), hasil karya inovasi Sonny Djatnika Sundadjaja.

Peni dan Supriadi berharap agar program TOSS-GCB mampu direplikasi oleh seluruh komunitas di sepanjang aliran Sungai Ciliwung dengan dukungan penuh dari Pemerintah pusat, Pemerintah provinsi, serta Badan Usaha.

Dalam pengembangannya, TOSS-GCB akan dilengkapi dengan instalasi hybrid renewable energy dengan cara mengkombinasikan  Diesel/Genset Gasfikasi berbahan bakar briket/pelet sampah dengan panel surya, turbin angin, dan mikro hyrdro.

"Tujuan dari TOSS-GCB adalah membersihkan sampah dan kembali pada visi GCB untuk menjadikan Sungai Ciliwung sebagai sumber air bersih. Oleh karenanya, listrik sebagai produk TOSS GCB merupakan  bonus atas upaya seluruh stakeholders dalam menyolusikan permasalahan Sungai khususnya di Ciliwung," kata Peni.

Selanjutnya, unit TOSS GCB yang terletak di Jalan Penjernihan I, Karet Tengsin, Kecamatan Tanah Abang, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10250, akan dijadikan tempat pelatihan dan wisata lingkungan dimana kegiatan perdananya akan dimulai awal Juli 2020 dengan prioritas untuk para penggiat KPC.