INDUSTRY.co.id - Jakarta - Wakil Ketua Policy Center ILUNI UI Harryadin Mahardika mengingatkan adanya tiga tantangan dalam kenormalan baru, yaitu Kemiskinan Baru (New Poverty), Hiperealiti Baru (New Hyper-reality), dan Ekonomi Baru (New Economy). Jumlah kemiskinan baru dalam 4 bulan terakhir di Indonesia berdasarkan prediksi ekonom cukup besar. 

”Hingga Desember 2019 ada 64 juta penduduk Indonesia yang rentan miskin atau hampir miskin,” kata Harryadin dalam diskusi daring bersama Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI UI), Kamis (11/6/2020).

Harryadin menyebut perbedaan rentan miskin dan miskin sangat tipis. Rentan miskin akan menjadi miskin ketika pendapatannya turun Rp 50 ribu per bulan. 

Segmen masyarakat rentan ini memiliki kecenderungan kuat untuk melanggar protokol kesehatan karena adanya desakan ekonomi. Karena itu tanpa intervensi drastis kemungkinan tabungan masyarakat menengah ke bawah akan semakin menipis. 

Jika tabungan sudah habis, kelompok masyarakat tersebut harus keluar mencari cara untuk mendapatkan penghasilan. ”Yang berbahaya adalah kemungkinan mereka terpaksa melanggar banyak protokol yang sudah diatur pemerintah,” tutur dia. 

Tidak hanya melanggar, mereka terpaksa melakukan pekerjaan berisiko yang tidak ingin dikerjakan orang. Pekerjaan tersebut memiliki tingkat kerawanan penularan COVID-19 yang tinggi, misalnya petugas di tempat umum.

Tantangan berikutnya adalah Hiperalitas Baru (New Hyper-reality). Harryadin menjelaskan akan ada perubahan dalam perilaku konsumen. Sebelumnya konsumen mau membayar untuk mendapatkan pengalaman dan kesenangan. Namun saat ini pendorongnya berganti menjadi ketakutan dan kesehatan.

”Penerapan protokol lebih ketat memberi bisnis lebih bagus untuk mereka karena masyarakat akan lebih memilih tempat yang aman. Tapi hyper-reality ini hanya berlaku untuk kelas menengah ke atas,” lanjutnya. 

Begitu berbicara ke kelas menengah ke bawah, tidak ada kebutuhan akan itu. Sehingga warung-warung yang menerapkan protokol COVID-19 dengan ketat mungkin tidak akan dikunjungi.

Tantangan selanjutnya adalah adanya Ekonomi Baru (New Economy). Harryadin menerangkan akan ada banyak sektor ekonomi yang tidak tumbuh dan bahkan ditinggalkan, misalnya saja pariwisata. 

”Banyak pengusaha menutup sementara usahanya, investor menunda pembangunan infrastruktur dan fasilitas, konsumen tidak datang. Konsekuensinya banyak layoff karyawan,” imbuh Harryadin. 

Namun, ia menyebut akan banyak sektor baru yang diserbu. Misalnya saat ini yang sedang booming adalah sektor pangan dan produksi alat-alat kesehatan. Di sektor inilah pemerintah dan pembuat kebijakan harus membuat protokol lebih ketat. 

”Kita sepakat new normal oke karena tidak ada pilihan lain bagi pemerintah. Tapi jangan lupa, kepatuhan masyarakat akan protokol tersebut terkait erat dengan behaviour masyarakat yang dipengaruhi oleh kebutuhan dasarnya, ” tekan Harryadin. 

Pembicara lainnya, Epidemiolog UI Pandu Riono menyatakan PSBB akan lebih efektif jika melibatkan komunitas. “Di masa mendatang kita harus mulai membangun komunitas, karena social capital besar sekali. Kita membangun konsep ini berbasis komunitas tempat tinggal dan gotong royong,” ujar Pandu. 

Ia pun menekankan pentingnya masyarakat meminimalisir risiko penularan dengan hidup aman, sehat, dan produktif. Masyarakat harus tetap menerapkan jaga jarak, menggunakan masker, dan menjaga pola hidup bersih sehat. 

Menghindari kerumunan orang sangat penting. Ketika orang berkumpul dengan orang lain, makin tinggi risiko penularannya. Pandu memaparkan data bahwa dari 25 orang yang berkumpul risikonya penularan mencapai 73%. Pada 50 orang berkumpul, risiko penularan meningkat hingga 92%. 

Karena itu Pandu menekankan penggunaan masker menjadi salah satu cara yang sangat efektif untuk meminimalisir risiko penyebaran COVID-19. 

“Satu orang pakai masker, sudah melindungi sepertiga orang. Jika kita pakai masker, kita tidak hanya melindungi diri kita, tapi melindungi orang lain juga,” tutup Pandu.