INDUSTRY.co.id - Saat ini sekitar sembilan entitas anak usaha dan turunan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah mempersiapkan penawaran sahamnya ke publik sebagai salah satu strategi penambahan modal perusahaan. Adalah Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki perhelatan untuk melakukan penawaran perdana saham ke publik (Initial Public Offering/IPO) anak usaha BUMN sepanjang tahun 2017 tersebut.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro mengatakan bahwa berdasarkan kebijakan Kementerian BUMN, dalam hajatan tersebut rencananya akan dilepas minimal 20 persen saham anak perusahaan BUMN ke publik. Aloysius menyampaikan sembilan anak perusahaan tersebut akan melantai di BEI mulai kuartal kedua hingga keempat 2017. Agar pasar tidak jenuh, IPO akan dilakukan bertahap, yakni tiga perusahaan melantai di bursa setiap kuartal.

Aloysius menyebut secara rinci nama anak perusahaan BUMN yang akan menjalani IPO. Terdiri dari BUMN yang bergerak di sektor konstruksi, energi, dan manufaktur. Adapun nilai IPO yang bisa dicapai diperkirakan hingga Rp 21 triliun.

Yang termasuk di urutan awal melakukan penawaran saham tersebut adalah di bidang konstruksi, yaitu PT HK Realtindo (HKR). Anak usaha BUMN konstruksi PT Hutama Karya (Persero) yang bergerak di bidang properti ini direncanakan akan melantai di bursa pada semester pertama tahun 2017. HK Realtindo berencana melakukan IPO melepas sekitar 30% sahamnya kepada investor. Dengan demikian, setelah IPO sebesar 70% saham HKR akan dimiliki oleh Hutama Karya serta Yayasan Kesejahteraan Karyawan Hutama Karya dan sisanya sekitar 30% akan dimiliki oleh investor pasar modal.

HKR menargetkan perolehan dana IPO dari pasar modal sekitar Rp1,4 triliun. Dana hasil IPO tersebut rencananya akan digunakan oleh perusahaan untuk pengembangan properti high rise, rumah tapak, hotel, dan rumah murah di kawasan Jabodetabek, Yogyakarta, Surabaya, dan Sumatra. Selain itu dana hasil IPO juga akan digunakan untuk pengembangan kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus di wilayah Sumatera serta pengembangan sistem informasi dan sumber daya manusia.

Salah satu pengembangan kawasan industri dan ekonomi di Sumatera adalah terkait pembangunan tol Trans Sumatera. Seperti disampaikan oleh Direktur Utama HK, penawaran saham perdana atau IPO yang akan dilakukan HK Realtindo merupakan salah satu langkah perseroan untuk menyokong kekurangan ekuitas yang dibutuhkan untuk menggarap proyek penugasan jalan tol trans Sumatera.

Selain HK, nama anak usaha BUMN lainnya yaitu perusahaan asuransi PT Tugu Pratama Indonesia milik PT Pertamina (Persero) dan Garuda Maintenance Facility (GMF) milik PT Garuda Indonesia. Demikian juga perusahaan listrik PT Krakatau Daya Listrik yang dimiliki oleh PT Krakatau Steel (Persero) dan mengelola secara khusus pembangkit listrik yang dimiliki oleh Krakatau Steel.

PT Tugu Pratama Indonesia menurut Aloysius saat ini sedang melakukan persiapan aksi korporasi. Adapun jumlah saham yang akan di jual kepada investor mencapai sekitar 40% dari modal disetor dan ditempatkan penuh perusahaan asuransi umum tersebut. Sementara pencapaian dana IPO ditargetkan sebesar US$220 juta atau sekitar Rp2,8 triliun. Perusahaan ini sekarang fokus menjalankan bisnis asuransi untuk korporasi tersebut rencananya akan menggunakan dana IPO untuk perluasan usaha ke sektor ritel.

Di tempat terpisah, lima anak usaha BUMN konstruksi juga berencana melakukan IPO pada 2017. Tiga diantaranya merupakan anak perusahaan BUMN PT PP (Persero) Tbk, yaitu PT PP Pracetak, PT PP Peralatan, dan PT PP Energi yang baru dibentuk untuk mengelola bisnis perusahaan di sektor energi. Direktur Utama PT PP, Tumiyana menyampaikan target dana perolehan IPO dari ketiga perusahaan sebesar 12,5 triliun rupiah sampai 13 triliun rupiah. Jika dirinci,PT PP Pracetak, PT PP Peralatan, dan PT PP Energi masing-masing target dana 3,5 triliun rupiah, 3,8 triliun rupiah, dan 5,7 triliun rupiah.

Dua anak usaha BUMN konstruksi lain yang berencana IPO adalah PT Wika Realty dan PT Wika Gedung yang sebagian besar sahamnya sekarang dimiliki oleh PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.

Sumber Pendanaan BUMN

Wacana mendulang pendanaan anak usaha BUMN dari pelaksanaan IPO di pasar modal dilatarbelakangi beberapa hal. Pertama, BUMN-BUMN saat ini tengah fokus pada upaya pembentukan holding dan dipandang tak pas untuk melakukan IPO. Setidaknya ada enam holding dan rencananya akan ditambah dua sampai tiga holding lagi. Di satu sisi pemerintah menyatakan BUMN membutuhkan dana untuk pembangunan infrastruktur seperti yang diamanatkan oleh Presiden Joko Widodo.

Selain itu mengingat BUMN tidak lagi akan mengajukan Penyertaan Modal Negara (PMN) dalam APBN 2017, mau tidak mau pemerintah akan mendorong BUMN untuk mendapatkan dana dari pasar modal dengan cara melakukan IPO anak usaha, penerbitan surat utang hingga sekuritisasi aset. Beberapa BUMN juga akan menerbitkan obligasi jangka panjang dalam rangka refinancing. Adapun dana segar yang ingin diperoleh adalah sekitar Rp 65 triliun.

Seperti disampaikan Menteri BUMN Rini Suwandi bahwa langkah-langkah pengamanan aset dan pelepasan saham anak usaha BUMN menjadi salah satu suntikan modal bagi BUMN tersebut. Terkait sekuritisasi aset tersebut dijelaskan bahwa pada tahun 2017 Kementerian BUMN akan melakukan sekuritisasi aset BUMN sebesar Rp17 triliun kepada beberapa BUMN seperti infrastruktur jalan tol, kredit perumahannya BTN, dan sekuritisasi untuk PLN.

Tak hanya itu, Sekretaris Menteri BUMN Imam A. Putro menyampaikan ada beberapa program strategis yang akan dilakukan oleh Kementerian BUMN pada tahun 2017. Diantara program tersebut adalah kartu tani, revitalisasi pabrik gula, BBM satu harga, dan penggabungan bank-bank syariah BUMN. Kementerian juga akan mempercepat program pengembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) Mandalila dan optimalisasi destinasi wisata Nusa Dua. Selain itu pada tahun 2017 Kementerian BUMN juga akan membentuk holding BUMN asuransi, pangan, farmasi, rumah sakit, maritim, industri berat dan perkapalan, pertahanan strategis, dan teknologi tinggi.

Sementara itu aksi penawaran saham anak perusahaan BUMN ke publik tampaknya tidak akan terjadi hanya di tahun 2017 saja. Menurut Aloysius, selain sembilan anak perusahaan BUMN tersebut, masih akan disusul oleh IPO perusahaan BUMN lain yang penawaran saham perdananya akan dilakukan pada 2018. Namun meskipun emiten BUMN yang tercatat di BEI baru sekitar 20 dari total 539 jumlah emiten di bursa, jumlah kapitalisasi pasarnya cukup besar sudah mencapai 26 persen dari total kapitalisasi pasar di Bursa Efek Indonesia.