Pengusaha Indonesia Diundang Berinvestasi di Afghanistan

Oleh : Herry Barus | Jumat, 07 April 2017 - 04:02 WIB

 Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani menerima cenderamata berupa miniatur kapal pinisi disaksikan Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto
Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani menerima cenderamata berupa miniatur kapal pinisi disaksikan Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Pemerintah Afghanistan mengenalkan sejumlah potensi investasi di negaranya kepada pengusaha Indonesia saat Dialog Bisnis Indonesia-Afghanistan.

"Aset pertama kami adalah lokasi kami. Asia sedang dalam proses transformasi yang besar," kata Presiden Afghanistan Ashraf Gani dalam sambutannya saat dialog tersebut di Jakarta pada Kamis (6/4/2017)

Menurut Presiden Ashraf, lokasi Afghanistan yang terletak di antara Asia Tengah dan Asia Selatan memberikan keuntungan negara itu sebagai kawasan penghubung.

Presiden menjelaskan Afghanistan juga menjadi penyedia jalur transmisi listrik dan jalur pipa gas dari Asia Tengah menuju Asia Selatan.

Terkait interkonektivitas, Afghanistan sedang mengembangkan potensi sektor transportasi melalui pembangunan jalur kereta api yang akan menghubungkan sejumlah negara dari Asia Timur hingga Asia Tengah seperti Tiongkok ke Iran ataupun Uzbekistan ke Iran.

Selain jalur kereta api,maka pemerintah Afghanistan membangun "dryport" dengan potensi kawasan ekonomi khusus untuk memasok barang-barang tidak hanya ke dalam negeri, tetapi juga negara tetangga.

"Jadi jangan hanya melihat Afghanistan sebagai pasar tujuan. Tetapi lihat juga Afghanistan sebagai pijakan untuk peluncuran produk-produk Indonesia ke kawasan Asia Tengah," ujar Ashraf.

Selain lokasi, Presiden juga menjelaskan aset potensi Afghanistan yang dapat dikembangkan yaitu sumber air dan lahan.

Afghanistan menjadi penyedia air bagi sejumlah negara di sekitarnya sehingga pembangunan sistem pengairan berpotensi untuk dikembangkan.

Aset lahan yang dimiliki Afghanistan juga menjadi daya tarik mengingat negara ini memiliki cadangan bijih besi untuk industri yang besar serta beberapa barang tambang lain seperti tembaga dan batu berharga.

"Melalui diskusi ini, saya harap masing-masing dunia usaha dapat melihat potensi yang ada di Afghanistan dan seluruh hal yang besar dimulai dari hal-hal yang kecil," kata Presiden.

Sebelumnya pada Rabu (5/4), terdapat lima nota kesepahaman (MoU) yang penandatanganannya disaksikan oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Ashraf yang meliputi kerja sama bidang pendidikan, pertanian, statistik, kebijakan fiskal dan reformasi administrasi publik.

Jokowi meminta agar MoU yang telah dibangun dapat segera dilaksanakan.

Kedua negara yang telah bersahabat selama lebih dari 62 tahun ini juga membahas potensi pengembangan sektor perdagangan dengan mendorong interaksi pengusaha dari dua negara.

Selain itu, kedua kepala negara juga membahas peningkatan kerja sama penciptaan stabilitas dan perdamaian serta peningkatan kapasitas SDM Afghanistan.

Sementara itu pada kesempatan terpisah, Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto mengatakan bahwa Afghanistan merupakan mitra dagang nonmigas terbesar di Asia Tengah. Untuk itu, diharapkan ke depannya, semakin banyak peluang kerja sama ekonomi dapat terjalin antara Indonesia dengan Afghanistan.

”Kami berkomitmen untuk memperkuat dan melanjutkan kerja sama bilateral terutama di sektor industri. Sebagai negara yang sama-sama memiliki penduduk muslim yang besar, Indonesia menganggap Afghanistan sebagai saudara yang penting dalam hubungan politik maupun ekonomi,” kata Menperin pada acara Business Dialogue Indonesia-Afghanistan di Jakarta, Kamis (6/4).

Airlangga berharap, melalui dialog bisnis yang dihadiri perwakilan pemerintah dan pelaku usaha kedua negara, dapat menjadi ajang diskusi untuk saling membahas potensi kerja sama investasi. Pada kesempatan tersebut, turut hadir Presiden Afghanistan Mohammad Ashraf Ghani dan Ketua Umum KADIN Indonesia Rosan P. Roeslani.

Menurut Airlangga, Pemerintah Afghanistan telah mengambil langkah reformasi untuk meciptakan iklim usaha yang kondusif. Oleh karenanya, pelaku bisnis Indonesia perlu melihat peluang dagang dan perluasan usaha ke negara tersebut. “Yang masih potensial, antara lain sektor agrikultur, proyek infrastruktur, eksplorasi mineral, tekstil dan aneka, serta sektor industri kecil dan menengah,” tuturnya.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Raisa

Minggu, 05 April 2020 - 13:15 WIB

VLIVE Mendorong Para Artis dan Penggemar Tetap di Rumah

Platform komunitas hiburan global dari Naver Corp, VLIVE, mengajak sejumlah artis dan influencers Indonesia yang tergabung dalam channel VLIVE dalam untuk ikut serta dalam kampanye V PAKET #dirumahaja…

Tips untuk Bekerja atau Belajar dari Rumah

Minggu, 05 April 2020 - 13:15 WIB

Tips untuk Bekerja atau Belajar dari Rumah

Kerja dan Belajar dari Rumah (work from home, school from home) menjadi tren global beberapa waktu terakhir ini.

PT Indika Energy Tbk (INDY) (Foto Tambang)

Minggu, 05 April 2020 - 13:00 WIB

PT Indika Energy Tbk Raub Laba sebesar US$ 75,5 Juta di Tahun 2019

Perusahaan energi terintegrasi PT Indika Energy Tbk. (Perseroan) merilis Laporan Keuangan konsolidasi yang diaudit untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember 2019. Perseroan berhasil membukukan…

Obat Kloroquin (foto - Antara)

Minggu, 05 April 2020 - 12:41 WIB

dr. Siti Nadia Tirmizi: Bukan Obati Malaria, Klorokuin adalah Obat Covid-19

Klorokuin saat ini dijadikan sebagai obat Covid-19. Beredar di masyarakat bahwa klorokuin merupakan obat malaria yang masih digunakan. Padahal, Klorokuin tersebut sudah tidak lagi digunakan…

Sony Heru Priyanto, Peneliti President University

Minggu, 05 April 2020 - 12:25 WIB

Meningkatkan Kegiatan CSR di Masa Wabah Covid-19

CSR adalah bagian tak terpisahkan dari perusahaan apakah perusahaan itu untung atau tidak. Ketika perusahaan berdiri, wajib hukumnya untuk menyelenggarakan CSR sebagai bentuk tanggung jawabnya.…