INDUSTRY.co.id -Seperti tak ada kata paceklik di kamus PT Metropolitan Land Tbk (MTLA). Angka penjualan perseroan di 2016 tetap naik, meski sebagian besar perusahaan properti mengalami penurunan. Buktinya, angka penjualan perumahan residensial Metland tetap stabil dan mengalami kenaikan yang signifikan.

Advertisement

Diakui oleh Direktur Keuangan Metland Olivia Surodjo, hasil positif yang diraih perusahaannya karena produk yang mereka jual sama sekali tidak terpengaruh oleh pasar properti yang suram di tambah dengan keberuntungan akibat kebijakan pengampunan pajak yang digulirkan pemerintah.

Tahun lalu kami tetap untung, tidak ada penurunan masih tetap rise. Kalau dibanding tahun sebelumnya kita naik 20 persen lebih. Di tambah dengan one time off, kita naiknya 40 persen lebih, ujar Olivia membuka perbincangan dengan INDUSTRY.co.id, di kantornya, beberapa waktu lalu.

Advertisement

Kenaikan penjualan itu imbas positifnya adalah Metland bisa membukukan laba sebesar Rp 277.34 miliar pada 2016. Jumlahnya naik 26 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, yaitu Rp214,27 miliar. Meski belum secara resmi merilis data, Olivia mengatakan kenaikan laba dipicu oleh kenaikan pendapatan berulang (recurring income) dari hotel dan mal.

Total pendapatan usaha Metland pada kuartal III 2016 tercatat sebesar Rp 765 miliar. Jumlah itu meningkat tipis 2 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar Rp 750 miliar.

Advertisement

Pendapatan perseroan versi marketing sales hingga Oktober 2016 mencapai sekitar Rp 1,3 triliun. Penjualan properti menyumbang Rp 838,6 miliar atau 91,6 persen dari budget 2016 sebesar Rp 915 miliar. Sedangkan pendapatan berulang sebesar Rp 373 miliar atau 93,2 persen dari budget 2016 sebesar Rp 400 miliar. Secara rendah hati, dia mengatakan bersyukur bisa mencapai target marketing sales 2016 yang dipatok senilai Rp 1,35 triliun. Selain karena penjualan mengalami tren peningkatan pada November dan Desember, Metland menerima pendapatan Rp 195 miliar dari joint venture dengan perusahaan Singapura, Ascendas.

Olivia juga menyebutkan, kinerja penjualan perusahannya tertolong oleh meroketnya penjualan perumahan kelas menengah ke atas di akhir tahun. Meroketnya penjualan itu didongkrak oleh kebijakan pengampunan pajak yang tengah gencar digulirkan pemerintah.

Advertisement

Sebetulnya Metland ini dikenal sebagai perusahaan propeti yang menjual perumahan middle low. Produk yang kami jual sebagian besar adalah perumahan residensial. Selagi ada orang yang menikah, mereka akan membutuhkan rumah. Mereka membeli karena memang membutuhkan, bukan untuk investasi, ujar Oliva.

Meski begitu, Olivia mengakui penjualan perumahan kelas menengah atas juga terdorong naik di akhir periode 2016 disebabkan kebijakan pengampunan pajak yang digulirkan pemerintah. Pengampunan pajak, membuat para pemilik uang menyimpannya dalam bentuk aset berupa perumahan.

Memang peningkatan itu terjadi usai Agustus 2016. Di awal-awal kami juga mengalami susahnya berjualan, terutama untuk menengah ke atas, kata perempuan yang tercatat sebagai direktur termuda di Metland itu.

Faktor pemicu lain, ujar Olivia, ialah kebijakan pemerintah mengenai perubahan penghitungan PPH final yang semula 5 persen menjadi 2,5 persen.

Di awal itu, kita terbantu oleh penjulan menengah ke bawah. Kalo yang lain mungkin susah karena tidak punya proyek middle low, kita terselamatkan. Tapi memang kita pada 2016 penjualan middle up juga bagus, hampir tiap bulan sales kita mengalami kenaikan selalu lebih tinggi dari sebelumnya, terangnya.

Apa strategi Metland bisa mengarungi badai suram pasar properti pada 2016?

Untuk mendongkrak penjualan perumahan menengah ke atas, kata Olivia, Metland menggunakan strategi membangun rumah mewah di bawah Rp2 miliar dengan pembayaran fleksibel dengan cicilan uang muka yang lebih panjang.

Selain itu karena kami cukup beruntung terbantu kebijakan tax amnesty, kata Olivia.

Hal lain yang mendongkrak penjualan Metland di akhir tahun adalah peresmian Metropolitan Mall di Metland Transyogi, Cileungsi. Kehadiran mall baru itu langsung melambungkan angka penjualan di kawasan Cileungsi.

Proyek berkonsep TOD
Maraknya pembangunan infrastruktur transportasi massal, membuat para pengembang industri properti pun melirik konsep hunian dan kawasan komersial yang terintegrasi dengan transportasi massal alias transit oriented development (TOD). Konsep itu diprediksi akan semakin diminati di kota-kota besar khususnya Jabodetabek yang memiliki tingkat kemacetan lalu lintas yang cukup tinggi.

Metland tak mau ketinggalan melirik potensi tersebut dengan berencana membangun proyek-proyek baru berkonsep TOD dengan berencena melakukan akuisisi lahan di titik-titik pemberhentian proyek transportasi umum yang tengah dibangun saat ini seperti light rail transit (LRT), mass rapid transit (MRT), kereta api dan lain-lain atau melakukan penjajakan kerjasama dengan pemilik lahan.

Metland terus mengincar lahan di wilayah yang dilalui proyek transportasi publik baik lewat akuisisi sendiri maupun dengan strategi kerjasama.

Olivia mengatakan saat ini pihaknya sedang menjajaki kerjasama dengan beberapa pemilik lahan di kawasan TOD. Salah satunya adalah pengembang BUMN. Hanya saja tidak tidak merinci dimana lahan yang sedang mereka incar.
"Kami tertarik dengan konsep TOD karena Konsumen saat ini lebih senang dengan hunian atau proyek yang berada terintegrasi dengan publik transportation. Selain dengan Adhi Karya, kita ada potensial partner yang memiliki lahan besar." katanya.

Selain itu, Metland juga saat ini sudah memiliki landbank seluas 3.500 meter persegi (m2) di kawasan MT Haryono Jakarta yakni dekat dengan salah stasiun LRT yang tengah dibangun saat ini. Lahan tersebut juga berdekatan dengan proyek TOD yang dikembangkan Wika Realty dan Adhi Karya.

Menurut Olivia, lahan tersebut nantinya akan dikembangkan menjadi gedung perkantoran. Namun perseroan belum menentukan kapan proyek tersebut akan diluncurkan mengingat kondisi pasar petkantoran di Jakarta saat ini masih over supply.

"Sudah mulai groundbreaking sebenarnya tapi dalam arti dalam pasang pondasi saja. Untuk naik ke atas akan tergantung pasar." jelas Olivia.

Lalu, Metland juga memiliki proyek eksisting yang berdekatan dengan proyek LRT Jabodetabek yakni Grand Metropolitan Mall Bekasi. Disana, Perseroan juga masih memiliki landbank yang akan rencananya akan dibangun menjadi kawasan apartemen.
Satu proyek yang sudah sepenuhnya berkonsep TOD adalah kompleks residensial Metland Cibitung. Sebelumnya untuk mewujudkan konsep terintegrasi dengan moda transportasi publik, Metland bahkan harus membangun Stasiun KRL Telaga Murni berbarengan dengan pembangunan Metropolitan Mall Cibitung.

Sebetulnya untuk Cibitung, bisa dibilang tidak sengaja menjadi TOD. Karena ada rencana jalur rel ganda KRL hingga ke Stasiun Cikarang, maka kami membangunkan stasiun Telaga Murni bekerja sama dengan PT KAI, ujar Olivia.