INDUSTRY.co.id - Sayyidina Ali bin Abi Thalib berkata:ada tiga tingkatan kualitas Ibadah seseorang,
1.IBADAH AT - TUJJAR :
Orang yang beribadah kepada Allah karena ingin sesuatu, itu adalah cara ibadahnya pedagang.
Beribadah karena mengharap balasan (at-tujjar)
2.IBADAH AL-‘ABID :
Orang yang beribadah kepada Allah karena takut, itu cara ibadahnya budak atau hamba sahaya.
Beribadah karena takut siksa (al abid)
3.IBADAH AL -ARIFIN :
Orang yang beribadah kepada Allah karena rasa syukur, itulah cara ibadahnya orang-orang yang merdeka
'Jika kita beribadah karena mengharapkan imbalan atau adanya timbal balik bearti ibadah kita caranya ibadahnya pedagang"
Jika kita baru terpanggil untuk beribadah karena takut masuk neraka, itu berarti kita termasuk kelompok kedua, beribadah cara budak.
Ini mirip pengendara sepeda motor yang memakai helm karena takut ditangkap polisi, bukan demi keselamatan dirinya.Kalau tidak ada polisi, dia tidak memakai helm.
Yang ketiga, adalah cara beribadahnya orang-orang yang berjiwa merdeka, tulus karena Allah.Orang seperti ini melaksanakan sholat bukan lantaran takut neraka, tetapi semata-mata karena sadar Allah satu-satunya yang patut disembah. Ibaratnya, ada atau tidak ada polisi, orang seperti ini akan tetap menggunakan helm demi menghindari bahaya.
Orang-orang seperti ini akan lebih konsisten dalam beribadah karena merasa sudah teramat banyak nikmat Allah yang mereka terima dan patut mereka syukuri.Sebesar apa pun derita yang dialami, mereka lebih memandang kenikmatan yang ada di balik itu. Sesuatu yang patut mereka syukuri sehingga terdorong untuk terus beribadah. Orang yang beribadah dengan cara pedagang dan budak, biasanya bersikap itung-itungan.
Dia cenderung hanya mengerjakan ibadah wajib. Sudah merasa cukup kalau sudah melaksanakan shalat lima waktu. Sudah merasa cukup kalau sudah puasa Ramadhan.Tetapi, orang yang beribadah dengan jiwa bebas akan selalu terdorong untuk beribadah sebanyak-banyaknya. Sebab, orang seperti ini yakin sekali, nikmat Allah yang harus disyukuri pun begitu amat banyak, bahkan tak terhitung.
Dengan menjadi hamba yang banyak bersyukur. itulah yang mendorong melakukan banyak sekali ibadah. Dengan kata lain, ibadah yang di lakukan itu merupakan wujud dari kesyukuran kepada Allah atas berbagai karunia-Nya.
Ungkapan Sayyidina Ali yang lain ketika beliau bermunajat kepada Allah. “Ya Allah! Aku menyembah-Mu bukan karena takut siksa-Mu, juga bukan karena aku ingin pahala-Mu, tetapi aku menyembah-Mu semata-mata karena Engkau memang layak dan patut untuk disembah.”
Beribadah karena mengharap balasan (at-tujjar) dan karena takut siksa (al abid) tidaklah dilarang, hanya kualitasnya yg perlu di tingkatkan sehingga sampai pada tingkatan al-arifin….
Anaz Almansour : Founder Rezeki Healing