INDUSTRY.co.id - Jakarta- Istilah 'cabin fever' tak termasuk ke dalam gangguan psikologis. Istilah ini merujuk pada perasaan yang terkait dengan kondisi terisolasi dari dunia luar. sebenernya istilah ini sudah lama di gunakan di Amerika untuk seseorang yang diisolasi di area terpencil atau kabin (rumah) saat musim dingin. Udara dingin membuat seseorang harus tetap berada di dalam ruangan sepanjang waktu .
Hal ini melibatkan serangkaian emosi negatif dan tekanan yang terkait dengan pembatasan," sehingga seseorang akan mudah marah, bosan, putus asa, gelisah, hingga sulit berkonsentrasi.
Demikian dikatakan oleh Psikolog Cantik yang juga artis, DR Lita Gading kepada Industry.co.id. " Gejala cabin fever tidak hanya sekadar merasa bosan saja. Tapi jauh lebih serius dari itu " katanya. Jumat (1/4/2020)
Berikut ini adalah gejala cabin fever yang harus di waspadai selama masa darurat virus corona.
* Kegelisahan
* Mudah putus asa
* Mudah tersinggung
* Turunnya motivasi
* Tidah bergairah
* Sulit berkonsentrasi
* Pola tidur tidak teratur
* Sulit bangun dari tidur
* Sulit percaya pada orang di sekitar
* Tidak sabaran
* Lemah lesu
* Merasa sedih dan depresi untuk waktu yang lama
Kepribadian dan temperamen jadi faktor utama seseorang cepat merasakan emosi seperti di atas. Seorang ekstrovert umumnya lebih rentan terkena cabin fever. " Sebelumnya cabin fever umumnya tak berlaku bagi orang-orang yang memandangnya secara positif. mereka yang melihat masa karantina mandiri sebagai kesempatan untuk membersihkan rumah, evaluasi keuangan, menata lemari, atau mencari hobi baru akan 'terlindungi' dari ancaman cabin fever, " sambung Lita Gading.
Di tengah masa pandemi virus corona, kita percaya bahwa masyarakat harus lebih waspada terhadap cabin fever. Sebab, tanpa penanganan yang tepat, gejala cabin fever akan sulit dikontrol.
Menurut Lita Gading ada beberapa cara untuk mengendorkan pikiran dan bisa menjalani PSBB tanpa kendala. Diantaranya adalah :
1. Tetapkan rutinitas
"Bangun di waktu yang sama Anda biasa bangun, pastikan Anda tetap mandi, berpakaian, dan tidak rebahan sepanjang waktu dengan piyama. Disarankan untuk sarapan, makan siang, dan makan malam tepat waktu. Hal ini juga berlaku bagi Anda yang berpuasa.
2. Menata ruang. Tak ada salahnya melakukan sedikit eksperimen di ruangan Anda. jika Anda memiliki banyak ruang kosong di rumah, Anda bisa memindahkan aktivitas utama-seperti kerja-ke ruangan lain untuk memperoleh suasana baru dan pemandangan berbeda. Sementara bagi Anda yang tinggal di kamar kos, Anda bisa 'mendandani' kamar agar lebih segar dan santai.
3. Tetap aktif secara mental dan fisik. Physical distancing bukan berarti Anda sama sekali tak boleh keluar rumah. Sesekali keluar rumah di pagi hari untuk menghirup udara segar dan berjalan kaki di sekitar rumah.
4. Terhubung dengan orang lain
Bersosialisasi di masa seperti ini cukup menantang sebab komunikasi hanya bisa dilakukan lewat bantuan teknologi. Namun, tetap terhubung dengan orang lain menjadi sesuatu yang penting untuk saat ini. Untuk tetap berkomunikasi dengan keluarga atau teman melalui banyak medium, mulai dari chatting, video call, dan masih banyak lagi.
Namun, jangan lupa pula untuk tetap menyediakan waktu bagi diri sendiri. seseorang memerlukan keseimbangan antara waktu bersama orang lain dan me time.
5. Berkeringatlah.Berolahraga adalah salah satu cara paling ampuh dalam mencegah cabin fever. Tidak heran, berolahraga memang bisa membantu tubuh melepas hormon endorfin yang bisa meningkatkan suasana hati.Ada banyak jenis olahraga yang bisa dilakukan di rumah selama masa pandemi virus corona, seperti push up, lompat tali, treatmil , hingga squat jump, yoga dll
6. Ekspresikan sisi kreatif. Ekspresikan segala sisi kreatif yang kamu punya, entah itu membuat lagu, melukis, menjahit, ataupun hanya memasak resep terbaru yang selama ini kamu idam-idamkan. Menjaga otak tetap “sibuk”, bisa melawan rasa bosan dan kegelisahan akibat cabin fever yang mungkin dirasakan selama berdiam diri di rumah.
7. Menerima rasa tidak nyaman Bagian yang paling menantang dari kondisi yang tengah dihadapi saat ini adalah bahwa kita tak pernah tahu kapan pandemi akan berakhir. tanpa 'deadline' Anda sebaiknya menurunkan ekspektasi dan menanamkan sedikit pikiran bahwa apa yang sedang dihadapi saat ini adalah kondisi normal yang baru. Dengan cara ini, sedikit demi sedikit Anda akan menerima kondisi dan memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin.
Menurut Lita Gading sampai saat ini, para peneliti dari seluruh dunia belum tahu kapan masa pandemi virus corona akan berakhir. "Oleh karena itu, kita yang kini sedang berjuang dari dalam rumah, diharapkan terus semangat dan optimis dalam menghadapi virus corona," kata Psikolog cantik ini. ( AMZ)