INDUSTRY.co.id - Pandemic COVID-19 memaksa kita merubah kebiasaan, belajar online bagi pelajar dan work from home bagi karyawan maupun wirausaha. 

Sudah empat minggu kita menjalani belajar online dan work from home, namun kebiasaan belajar di kelas dan bekerja di kantor belum mampu membuat kita “move on”. 

Keluhan masih terdengar dari murid yang mengatakan bahwa orang tuanya lebih sering marah-marah daripada mengajari, ketika ditanya tugas dari sekolah. 

Demikian juga dengan curhat seorang ibu yang mengatakan “untung anak saya cuman dua, kalau lebih, bisa bengek ngajarin tugas sekolah yang banyak”. 

Begitu juga dengan keluhan seorang Bapak “di rumah jadi nggak produktif, banyak gangguan, mulai dari ditanyain PR sampai rebutan wifi”. 

Kita tidak tahu belajar dan bekerja dari rumah akan berakhir kapan, pilihan kita adalah berdamai dengan kenyataan dan mulai menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada atau terjebak dalam stres berkepanjangan (Kessel et al., 2019).  

Apa yang dapat kita lakukan ? 

Belajar online, work from home dan berdiam di rumah bersama sebenarnya adalah sebuah kekuatan kalau kita dapat melakukan semua kegiatan secara “team work”. 

Banyak hal yang selama ini belum dapat dikerjakan karena kurangnya waktu ketika harus berangkat bekerja dan belajar di luar rumah.

Demikian juga acara kebersamaan, karena kesibukan masing-masing anggota keluarga, kegiatan bersama sudah jarang dilakukan. Sekarang adalah saat yang tepat untuk melakukan kegiatan yang tertunda tersebut ! 

Berikut adalah hal-hal yang menjadi kunci keberhasilan team work di rumah selama pandemic COVID-19:

1. Sehat bersama, mulailah kegiatan di pagi hari dengan sarapan ringan seperti buah-buahan atau sekedar meneguk minuman hangat favorit. 

Setelah itu berolah raga bersama, salah satu anggota keluarga dapat memimpin dengan gerakan-gerakan yang teratur dan berurutan minimal selama 30 menit.  

Jangan lupa gerakan harus dimulai dengan pemanasan ringan dan setelahnya pendinginan, agar tubuh menyesuaikan diri. 

Apabila tidak terbiasa memimpin atau melakukan gerakan senam, di Youtube tersedia beragam senam untuk keluarga dengan piihan berbagai durasi waktu. 

Agar setiap anggota keluarga memiliki tanggung jawab yang sama, memimpin senam dapat dilakukan bergantian, sehingga setiap anggota keluarga memiliki kesempatan yang sama. 

Di kegiatan bersama ini, anak juga diajarkan memimpin dalam kelompok kecil. Seorang anak yang diberi kesempatan memimpin akan memiliki kepercayaan diri dan hasil belajar yang lebih baik di sekolah (Li & Qiu, 2018).

2. Toleransi, selama periode work from home terjadi peningkatan 159% pekerjaan yang dilakukan jarak jauh (Global Workplace Analytics, 2020). 

Jumlah ini belum ditambah dengan anak yang belajar secara online, mulai dari tingkatan SD sampai perguruan tinggi. 

Kondisi bekerja dan belajar serentak dari rumah membuat internet atau jaringan WiFi menjadi melambat karena dibagi bersama. 

Disinilah toleransi antar anggota keluarga diperlukan. 

Misalnya seorang Bapak yang harus melakukan meeting secara online, agar meeting tersebut dapat berjalan dengan lancar, anggota keluarga lain dapat melakukan kegiatan yang tidak berhubungan dengan internet atau memindahkan jaringan di handphone ke selular data. 

Ketika giliran si anak yang harus melakukan submit tugas secara online, anggota keluarga lain bergantian tidak menggunakan internet. Begitu juga ketika si Ibu harus menerima konsultasi online dengan customer, anggota keluarga lain berpindah ke kegiatan yang tidak memerlukan internet dan membantu menjaga adik yang masih kecil. 

Mengajarkan toleransi dengan cara sederhana di rumah, sisi positifnya adalah membuat anak juga cenderung menerapkan toleransi di sekolah dan lingkungan lainnya (Saglam & Tunar, 2018). 

Toleransi juga berarti, ketika anak sedang belajar, orang tua tidak menonton televisi atau melakukan kesenangan lain, tetapi menemani belajar atau mengerjakan pekerjaan kantor di waktu yang sama, sehingga saling menghargai akan membuat setiap anggota keluarga bersemangat.

3. Kemandirian, anak yang belajar di rumah harus diajarkan mandiri, artinya mengerjakan terlebih dahulu semua tugas dari sekolah sendiri, setelah selesai dapat diperiksa oleh orang tuanya. 

Apabila anak tidak mengerti atau mengalami kesulitan ketika mengerjakan tugas dari sekolah, orang tua dapat membantu dengan memberikan penjelasan dan contoh, tetapi pengerjaannya tetap diselesaikan anak. Kemandirian membuat anak lebih percaya diri dan berhasil di sekolah (Li & Qiu, 2018;  Hill, 2018). 

Kemandirian tidak hanya dalam belajar, membereskan mainan setelah selesai bermain dapat diajarkan pada anak Balita. Setelah selesai bermain, ajaklah anak membereskan maianan bersama dengan mengembalikan mainan pada tempatnya. 

Memasak makanan sederhana untuk diri sendiri dapat dajarkan ketika anak memasuki SD,  masakan sederhana seperti menggoreng telur, membuat mie instant dan memasak nasi adalah basic skills yang akan menjadi bekal yang sangat berguna ketika orang tua tidak berada di rumah sementara sudah jam makan.

4. Fleksibel, artinya menyesuaikan diri dengan kondisi yang sedang dihadapi. Ketika belajar di sekolah atau bekerja di kantor kita dituntut untuk bangun pagi dan kemudian berangkat buru-buru agar tidak terlambat. 

Belajar dan bekerja dari rumah dapat dibuat lebih fleksibel agar tidak stres. Bangun pagi biasanya jam 5 atau jam 6 pagi, karena semua kegiatan dilakukan di rumah, maka bangun satu atau dua jam lebih siang dapat membuat tubuh lebih bugar, karena salah satu kunci menjaga daya tahan tubuh adalah tidur yang cukup (Xiao et al., 2020). 

Setelah itu mulailah menyusun aktivitas yang akan dilakukan, mulai dari olah raga bersama, mengerjakan tugas-tugas sekolah atau pekerjaan kantor dengan diselingi istirahat makan, minum atau melihat chat di handphone. 

Jam selesai belajar atau bekerja juga dapat disesuaikan dengan target pekerjaan, bisa jadi tidak sepanjang jam belajar di sekolah atau jam kantor karena target sudah tercapai atau bisa lebih panjang karena target pekerjaan di hari tersebut lebih sulit untuk dikerjakan. 

Intinya sesuaikanlah target pekerjaan dengan kondisi anda, sehingga anda lebih nyaman dan tidak terbebani. 

Tetapi batasi jam maksimal selesai belajar atau bekerja, misalnya jam 17.00, sehingga memiliki waktu untuk kegiatan lain. 

Mengatur pekerjaan secara lebih fleksibel membuat kepuasan kerja lebih tinggi, dan akhirnya dapat mencapai target yang diinginkan (Ma, 2018).

5. Aktivitas bersama, banyak pekerjaan yang dapat dilakukan bersama selama belajar dan bekerja dari rumah, karena waktu untuk berangkat dan pulang ke sekolah atau kantor sudah tidak ada, manfaatkan untuk aktivitas bersama. 

Berbagai kegiatan dapat dilakukan, seorang rekan membagikan fotonya ketika membuat camilan bersama anaknya. 

Rekan lain menceritakan bagaimana anak-anaknya jadi rajin membantu membersihkan rumah karena dilakukan bersama-sama, yang satu menyapu, dilanjutkan mengepel oleh yang lain, adik yang lebih kecil tidak mau kalah dengan mengelap meja. 

Agar kegiatan bersama ini tetap asyik, jangan mengkritik hasil kerja yang kurang rapih atau tidak sebaik kalau anda yang mengerjakan. Biarlah anak-anak belajar dari pengalaman. 

Mereka yang dimotivasi justru akan semakin rajin melakukan aktivitas bersama, sebaliknya kalau dikritik akan membuat motivasinya menurun (Marthouret & Sigvardsson, 2016). Pengalaman adalah guru yang baik ! 

6. Reward, tidak hanya orang dewasa, anak-anak juga sangat senang ketika menerima reward dari hasil kerjanya (Freedberg, 2016). Agar team work lebih menyemangati setiap anggota keluarga, sediakan reward. 

Reward dapat berupa kue kesukaan anggota keluarga atau masakan favorit keluarga ketika jam makan. 

Agar lebih bersemangat, ajak anggota keluarga menyiapkan bersama kue atau makan siang tersebut. Posting foto-foto ketika masak bersama dan hasil masakannya, pastinya semangat anggota keluarga bertambah. 

Nah asyik bukan belajar dan bekerja dari rumah selama pandemi ? Selamat mencoba, mulailah dan nikmatilah kebersamaan yang jarang terjadi ketika kesibukan masing-masing sudah kembali. 

Penulis: Dr.Genoveva, Ketua Pogram Studi Management, President University