Sang Negarawan Sejati

Oleh : M Masduki Taha | Sabtu, 04 April 2020 - 12:45 WIB

Garuda Pancasila
Garuda Pancasila

INDUSTRY.co.id - Berguru kepada Prof. Yusril Ihza Mahendra dalam berbangsa dan bernegara.

Saat tulisan ini berada di hadapan anda, saya berharap anda dalam keadaan baik dan tenang. Kemungkinan besar kita masih sedang mengkarantina diri di rumah, atau beraktifitas diluar rumah tetapi tetap menjaga social distanching. Kita memang masih dalam situasi Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). PSBB merupakan keputusan

Sudah lebih sebulan lalu covid-19 mengobrak-abrik perasaan kita, bangsa Indonesia. Rasa aman dan rasa saling percaya seolah rontok dalam sekejap. Luka akibat Pilpres 2019 yg sudah mulai sembuh, seperti teriris kembali. Covid-19 ternyata tidak hanya sekedar virus yang menginveksi tubuh, tetapi juga perasaan dan batiniah kita.

Tulisan ini tidak akan mengupas tentang covid-19. Selain bukan ahli di bidang itu, informasi tentang hal tersebut telah cukup banyak.

Saya hanya akan fokus pada satu titik: bagaimana kita membangun pola pikir, pola sikap dan pola tindak dalam menghadapi setiap persoalan bersama yang datang. Hal ini penting, sebab seringkali sikap kita dalam menghadapi masalah justeru jauh lebih berbahaya ketimbang masalahnya itu sendiri.

Dalam situasi perang memghadapi covid-19 ini saya tertarik kepada sikap dan tindakan yang dilakukan oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra (Yim), seorang begawan hukum Indonesia.

Sejak sekira 2 bulan lalu ketika tersebar berita tentang adanya serangan virus corona di berbagai negara, sepanjang pengamatan saya, Yim adalah tokoh yang paling produktif melalui tulisan-tulisanya menyampaikan pemikiran, pandangan, saran, masukan bahkan kritik kepada pemerintah selaku pengambil kebijakan. Dan dalam setiap kali menyampaikan pandangan dan kritiknya, Yim selalu memberikan alternatif solusi.

Hampir setiap hari kita membaca pandangan-pandangannya di media. Mulai dari pemikirannya yang filosofis dan religius, hingga saran-saran taktis dan kritik-kritik keras, santun dan solutif.

Saya -dan kita- paham dengan cara yang ditempuhnya. Semua karena rasa cinta kepada bangsa dan negara yang sedang menghadapi bahaya. Posisinya yang sedang diluar lingkar kekuasaan menjadi tidak mudah mengungkapkan rasa cinta kepada bangsa dan negara.

Setiap hari ruang publik seolah dipenuhi oleh pikiran-pukiran dan pandangannya. Berhari-hari, berminggu-minggu.

Teriakannya berhenti pada 1 April 2020. Ya, saat itu Presiden Joko Widodo telah mengambil keputusan dalam menghadapi wabah Covid-19: Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Jalan yang diputuskan presiden berbeda dengan yang diteriakkan Yim. Yim lebih merekomendasi Lockdown atau Karantina Wilayah, presiden memilih PSBB. Walaupun mengandung kesamaan, tetapi sangat jauh berbeda.

Apakah Yim kecewa? Mungkin iya. Tapi apakah Yim marah? Tidak sama sekali. Justeru Yim hari itu mengakhiri berondongan tulisan-tulisannya. Tulisan terakhir Yim setelah presiden mengumumkan keputusannya, berjudul "BISAKAH PSBB MENGHADAPI VIRUS CORONA?". Setelah itu Yim tidak menuliskan (mempublikasikan) lagi pemikiran-pemikirannya.

Hanya, pada alinea terakhir tulisan terakhirnya tersebut Yim menulis, "Karena itu selama masa penerapan PSBB ini, saya sarankan agar Pemerintah mulai bersiap-siap menghadapi risiko terburuk kalau akhirnya tidak punya pilihan lain menghadapi wabah virus Corona, kecuali memilih menerapkan Karantina Wilayah, jika pandemi ini ternyata tidak mampu dihadapi dengan PSBB".

Kalimat tersebut berupa warning sekaligus jalan menuju solusi. Dan sampai hari ini kita belum membaca lagi tulisan Yim terkait hal tersebut.

Lalu dimana letak pelajaran berharganya? Ialah pada cara yang ditempuh dan sikap yang diambilnya.

Selama Presiden Jokowi sebagai pemimpin belum memgambil keputusan, Yim sekuat tenaga dan pikiran menyampaikan semua hal yg dianggap benar dan baik. Tak peduli dia dipuji atau dimaki. Tetapi ketika presiden telah mengambil keputusan, walaupun hal itu tidak sesuai dengan pemikirannya, Yim diam. Keputusan pemimpin negara harus dihargai dan dihormati. Jangan dirongrong. Harus didukung. Setidaknya, diam. Inilah pelajaran yang sangat tinggi nilainya dalam konteks hidup berbangsa dan bernegara.

Saya yakin hari ini Yim adalah orang yang paling tenang dan lega. Dia sudah berusaha semaksimal mungkin. Bebannya telah ditumpahkan. Tugasnya telah ditunaikan. Usahanya telah dijalankan. Tinggal bertawakkal kepada Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa.

Tentu Yim tidak lantas berleha-leha. Pikiran dan hatinya pasti terus diperas utk memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi beberapa waktu kedepan. Hari-hari pasti diamatinya dengan cermat.

Seandainya kita mampu meniru sikap dan caranya dalam berbangsa dan bernegara, sepertinya bangsa ini akan lebih cepat dewasa. Saya merasa kita memang patut berguru kepadanya, Sang Negarawan Sejati.

M Masduki Taha: Pengamat Masalah Sosial

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

CEO Crown Group, Iwan Sunito (Foto Ridwan/Industry.co.id)

Rabu, 03 Juni 2020 - 06:13 WIB

Pengusaha Sukses Asal Surabaya Ini Sebut Pandemi Covid-19 Dorong Transformasi Teknologi jadi Lebih Cepat

Sejumlah perusahaan global mulai beradaptasi dengan teknologi pada saat pandemi Covid-19. Adanya wabah tersebut, telah memaksa banyak perusahaan untuk melakukan proses transformasi menjadi perusahaan…

Tanda Kehormatan Bintang Dharma kepada KASALdan KASAU

Rabu, 03 Juni 2020 - 06:00 WIB

Tanda Kehormatan Bintang Dharma kepada KASAL dan KASAU

Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C) Hadi Tjahjanto, S.I.P. memimpin upacara penyematan Tanda Kehormatan Bintang Dharma kepada Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E.,…

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo

Rabu, 03 Juni 2020 - 05:30 WIB

Era New Normal Sejalan dengan Gaya Hidup Baru

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan bahwa dirinya lebih suka menggunakan istilah gaya hidup baru ketimbang ‘new normal’ pasca pandemi covid-19. Dan Indonesia, menurutnya harus…

Samuel Rangga Boro/foto HARIANHALUAN.COM

Rabu, 03 Juni 2020 - 05:29 WIB

Usir Virus Corona, Dukun di Pulau Sumba Terima Wangsit dari Malaikat Gabriel

Jakarta- Samuel Rangga Boro Dukun di Kampung Galuwiyo, Desa Tanjung Karoso, Kecamatan Kodi, Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), berapa hari ini ramai diperbincangkan di media…

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan

Rabu, 03 Juni 2020 - 05:15 WIB

Bukan New Normal, Gubernur Anies Baswedan Justru Terapkan PSBL Usai PSBB di Jakarta

Gubernur DKI Anies Baswedan mewacanakan memperkecil skala penerapannya, atau disebut Pembatasan Sosial Berskala Lokal ( PSBL).