INDUSTRY.co.id - Jakarta - IHSG break out level support FR161.8% dikisaran 5026 sehingga secara analisa teknikal selama IHSG tidak mempu whipsaw di level tersebut akan bergerak terus bearish hingga target FR261.8% di kisaran 4600an. Support terdekat IHSG apabila ditarik menggunakan Fibonacci Retracement pada FR161.8% dan FR216.8% berada dikisaran 4867-4770.
Indikator Stochastic mulai mamasuki area oversold dan menjenuj terlihat ruang gerakan %k dan %d menyempit namun belum ada signal golden-cross yang terbentuk pada indikator tersebut.
"Sehingga kami perkirakan IHSG akan bergerak kembali berfluktuatif cenderung mencoba rebound dengan rentang pergerakan 4867-5026," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Jumat (13/3/2020).
Saham-saham yang telah melemah signifikan dan berpeluang mengalami teknikal rebound diantaranya; JSMR, PTPP, WIKA, WSKT, PWON, SCMA, TLKM, ERAA.
IHSG (-5.01%) turun signifikan sebesar 258.36 poin kelevel 4895.75 hingga menyentuh batasan trading halt (5%) yang dimana IHSG disuspend selama 30 menit. Saham-saham pada sektor industri dasar (-8.47%) menjadi penekan disusul oleh sektor pertanian (-5.71%) dan pertambangan (-5.59%) turun signifikan. Saham JPFA (-12.09%) disusul SMGR (-11.57%) menjadi yang terlemah. Penjualan semen domestik pada bulan Januari - Februari 2020 turun 4% secara YoY sebesar 10.1 juta ton dan Total Eksport turun 27% dibulan Februari menjadi salah satu faktor pesimistis investor pada emiten produsen semen pada hari ini. Aksi capital outflow masih cukup deras pada semua instrumen investasi terlihat dari Rupiah yang jatuh 1.03% kelevel Rp14522 meskipun Bank Indonesia sendiri telah konsisten melakukan intervensi pada pasar obligasi. Pada ekuitas hari ini investor asing melakukan aksi jual bersih sebesar 256.59 miliar rupiah.
Bursa eropa mayoritas melemah mengikuti regional dan indeks berjangka di AS. Indeks Eurostoxx (-6.71%), FTSE (-6.02%) dan DAX (-6.83%) telah melemah secara signifikan diawal sesi perdagangan. Efek dari WHO menaikan level wabah coronavirus menjadi pandemic direspon cenderung negatif setelah mayoritas bank sentral di seluruh benua memberikan stimulus guna menopang perekonomian pada ancaman krisis kesehatan. Data ekonomi selanjutnya akan hadir data initial Jobless Claims dan Kebijakan meneter ECB.