INDUSTRY.co.idJakarta - Stigma "SMK anak buangan" resmi dipatahkan. Kementerian Perindustrian membuktikan pendidikan vokasi industri mampu mencetak lulusan yang langsung diserbu perusahaan kelas dunia, baik nasional maupun internasional.

Advertisement

Buktinya nyata dan bikin merinding. Jeihza Malik, lulusan Politeknik Industri Furnitur dan Pengolahan Kayu Kendal atau Polifurneka, kini bekerja di Mono Group Hungaria bagian Sanding Department. Hebatnya, ia sudah dapat kontrak kerja sebelum topi wisuda menyentuh kepalanya.

"Saya dapat pekerjaan di kawasan industri Eropa sebelum lulus. Itu pengalaman yang nggak pernah saya bayangkan. Semua karena pembelajaran teori, praktik, disiplin, dan interaksi dengan praktisi industri selama di Polifurneka," ujar Jeihza, Rabu 10/6.

Advertisement

Dari Bandung ke Kursi General Manager

Kisah sukses lain datang dari Pipit Fitriyani, lulusan Politeknik Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil Bandung atau STTT Bandung. Kini ia menjabat sebagai General Manager di PT TESTEX Testing and Certification.

Advertisement

"Saya baru sadar setelah kerja kalau ilmu di vokasi itu sangat aplikatif. Kami nggak cuma dapat teori, tapi praktik langsung. Jadi benar-benar siap masuk dunia kerja," kata Pipit.

Bahkan lulusan SMK pun punya jalur internasional. Muhammad Daffa Kayana, lulusan SMK-SMAK Padang 2025 jurusan Analis Kimia, berhasil diterima di Nanjing Tech University, Tiongkok. Sebelumnya ia praktik kerja lapangan di Paragon Technology and Innovation.

Advertisement

5.472 Lulusan, 82.800 Pendaftar Rebutan

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, pengembangan SDM industri adalah investasi strategis untuk memperkuat daya saing manufaktur nasional.

"Seluruh lembaga pendidikan vokasi industri Kemenperin disiapkan dengan spesialisasi dan kompetensi spesifik agar menghasilkan lulusan berpengetahuan, berketerampilan, dan berkarakter industri kuat sehingga mampu berdaya saing global," kata Menperin.

Data Kemenperin mencatat, sepanjang 2025 unit vokasi industri meluluskan 5.472 tenaga kerja kompeten dari 11 politeknik, 2 akademi komunitas, dan 9 SMK di seluruh Indonesia. Mayoritas terserap dunia kerja maksimal 6 bulan setelah lulus.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri BPSDMI Doddy Rahadi menyebut ini bukti sistem link and match berjalan.

"Pendidikan vokasi Kemenperin sesuai kebutuhan industri, jadi lulusan kompeten dan siap kerja. Makanya banyak perusahaan yang ngejar lulusannya, bukan sebaliknya," ungkap Doddy.

Kepercayaan masyarakat pun tinggi. Program Jalur Penerimaan Vokasi Industri JARVIS 2025 mencatat 82.800 pendaftar untuk politeknik dan akademi komunitas, serta 28.800 pendaftar untuk SMK Kemenperin.

Jalan Tol Menuju Kerja & Kuliah Luar Negeri

Keberhasilan ini menunjukkan vokasi Kemenperin bukan jalan buntu. Lulusan punya 2 opsi: langsung kerja dengan gaji kompetitif, atau lanjut kuliah S1 ke luar negeri seperti Daffa.