INDUSTRY.co.id - Jakarta - IHSG secara analisa teknikal tepat menyentuh level target wave fibonacci 61.8% dikisaran level 4700. Indikasi ini memperjelas adanya faktor psikologis trader dalam mengantisipasi pergerakan yang fluktuatif pada saham-saham yang telah bergerak rebound lebih dari 5% dalam dua hari.

Advertisement

"Indikator Stochastic masih bergerak positif mengarah kearea overbought dengan RSI yang menjenuh pada area midle ocsillator. Sehingga diperkirakan IHSG masih akan mendapat tekanan aksi jual diakhir pekan dengan support resistance 5600-5700," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Jumat (6/3/2020).

Saham-saham yang masih dapat dicermati secara teknikal diantaranya; AALI, AKRA, KAEF, KLBF, SILO, TBLA, WSKT.

Advertisement

IHSG (-0.22%) turun 12.01 poin kelevel 5638.13 dengan aksi beli investor asing sebesar 145.84 miliar rupiah. Sektor Pertanian (+0.6%) dan konsumer (+0.20%) menjadi kontributor penahan pelemahan IHSG dimana. Harga CPO naik lebih dari satu setengah persen mendorong penguatan saham-saham produsen CPO seperti AALI, LISP dan SIMP dan melonjaknya produk kesehatan dan peralatan kesehatan memicu penguatan saham-saham barang konsumsi kesehatan seperti KLBF dan KAEF. Namun aksi profit taking investor domestik membuat IHSG tidak mampu bertahan pada zona hijau dimana terlihat saham-saham Bank buku 4 menjadi kontributor pelemahan IHSG seperti BBRI dan BMRI yang telah naik lebih dari 5 persen pada 2 hari sebelumnya.

Bursa Eropa membuka perdagangan melemah mengikuti indeks future di AS. Indeks Eurostoxx (-1.87%), FTSE (-1.70%) dan DAX (-1.83%) turun signifikan. Investor menilai adanya kekhawatiran dari pemerintah setelah meluncurkan beberapa upaya-upaya mencegah virus. Dimana pemerintah AS mengotorisasi $7.8 milliar untuk pencegahan setelah Bank dunia mengelontorkan setidaknya $12 milliar untuk pinjaman oleh negara-negara yang membutuhkan terdampak coronavirus. Hal tersebut malah dijadikan alasan investor melakukan kembali risk off. Harga minyak berfluktuasi di tengah perpecahan antara Arab Saudi dan Rusia tentang apakah pengurangan produksi yang lebih dalam diperlukan untuk mengimbangi permintaan yang terpukul dari epidemi coronavirus.

Advertisement