INDUSTRY.co.id - Jakarta - PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC) tetap berupaya untuk meningkatkan kinerja operasional, jasa layanan, dan keuangannya terutama dari jumlah arus bongkar muat alat berat. Meski demikian, masih menurunnya kinerja operasional dari segmen alat berat disebabkan menurunnya aktivitas bongkar muat alat berat. Terutama pada impor alat berat yang cenderung menunjukan angka penurunan.
"Penurunan tersebut terimbas kondisi global, terutama pada sektor perkebunan, pertambangan, kehutanan, hingga konstruksi yang menunjukan gejala perlambatan aktivitas," demikian siaran pers IPCC di Jakarta, Kamis (30/1/2020).
Menurunnya sejumlah harga komoditas yang dimotori harga batu bara seiring dengan persepsi turunnya angka perekonomian global yang terselimuti dengan ketidakjelasan penyelesaian perang dagang antara China dan AS membuat kinerja sejumlah perusahaan bata bara dan komoditas tambang lainnya mengalami penurunan penjualan dan marjin pertumbuhan.
Dengan demikian, permintaan akan alat-alat beratpun kian rendah. Begitupun juga dengan permintaan alat berat untuk industri perkebunan yang terimbas penurunan harga CPO seiring dengan berbagai macam faktor, diantaranya kebijakan India dalam menerapkan biaya impor yang cukup tinggi untuk minyak sawit, pembatasan ekspor ke Eropa, hingga masalah cuaca kering yang berkepanjangan di tahun lalu.
Ke semua hal tersebut tentunya berimbas pada aktivitas pengiriman dan bongkar muat alat berat. Dan tentunya berimbas pula terhadap aktivitas di terminal IPCC. Meski demikian, penurunan yang terjadi di bulan Desember 2019 berkurang jika dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Tercatat jumlah kendaraan alat berat yang ditangani oleh IPCC pada Desember 2019 ialah sebanyak 14.244 unit kendaraan atau naik tipis 9,12 persen secara tahunan (year on year / YOY) dibandingkan pencapaian di tahun sebelumnya sebanyak 13.053 unit alat berat. Angka pertumbuhan tersebut patut diapresiasi karena lebih baik dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang cenderung turun 26,82 persen YoY.
Dari jumlah tersebut, secara proporsional ialah terdiri dari alat berat yang ditangani di lapangan internasional berjumlah 923 unit dan 13.321 unit di lapangan domestik. Secara YoY, unit alat berat yang ditangani di lapangan internasional mengalami penurunan 48 persen menjadi 923 unit dari 1.775 unit pencapaian di tahun sebelumnya. Meski demikian, angka tersebut lebih baik (naik 14,09 persen) dibandingkan di bulan November 2019 yang tercatat 809 unit. Adapun ekspor naik 36,59 persen menjadi 489 unit dari 358 unit di periode yang sama di tahunsebelumnya.
Akan tetapi, import tercatat turun 69,37 persen dari 1.417 unit di tahun sebelumnya menjadi hanya 434 unit. Penurunan import ini, seperti yang disampaikan di awal, disebabkan belum pulihnya terutama sektor pertambangan yang memiliki berbagai alat berat dengan dimensi / ukuran jumbo; dan juga sektor perkebunan hingga infrastruktur di dalam negeri yang berimbas pada permintaan alat-alat berat dalam negeri. Begitupun juga dengan kondisi global dimana aktivitas pertambangan maupun perkebunan masih cenderung melemah seiring belum terapresiasinya harga-harga komoditas.
Sementara itu, dari lapangan domestik terlihat mulai adanya peningkatan aktivitas layanan bongkar muat alat berat yang meningkat 18,11 persen YoY dibandingkan periode yang sama di tahun lalu dari 11.278 unit menjadi 13.321 unit yang ditangani IPCC dan lebih tinggi 2,73 persen dibandingkan bulan November 2019 sebesar 12.967 unit. Bahkan peningkatan 18,11 persen tersebut membaik dibandingkan pertumbuhan di bulan November 2019 yang tercatat turun 24,95 persen YoY di level 12.967 unit.
Dari sisi perhitungan secara akumulasi tercatat pencapaian sepanjang 12 bulan di tahun 2019 mencapai 12.877 unit alat berat di Terminal Internasional, atau turun 40,38 persen dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 21.600 unit alat berat. Dari jumlah tersebut, pencapaian sebanyak 4.129 unit disumbang dari kegiatan pelayanan bongkar muat ekspor atau tercatat melemah 19,79 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebanyak 5.148 unit alat berat.
Berikutnya ialah disumbang oleh kegiatan impor sebesar 8.748 unit secara akumulasi dibandingkan dengan pencapaian di periode yang sama di tahun sebelumnya sebesar 16.452 unit alat berat. Di tempat lain, pencapaian pelayanan bongkar muat dan pengantaran secara akumulasi hingga akhir Desember 2019 di Lapangan Domestik mencapai 194.291 unit alat berat atau naik 74,30 persen dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebanyak 111.472 unit.
Pencapaian tersebut dikontribusi oleh Lapangan Domestik Tanjung Priok; serta layanan pengantaran di Lapangan Panjang dan Lapangan Ex-Presiden. Hal ini menunjukan kegiatan layanan bongkar muat dan pengantaran alat berat lebih didominasi di dalam negeri dibandingkan kegiatan untuk keperluan global di Terminal IPCC.
Tentunya manajemen IPCC berharap, kondisi pelemahan ini dapat bersifat temporary / sementara dimana kegiatan dari infrastruktur dan aktivitas di sektor perkebunan dan pertambangan dapat pulih sehingga dapat berimbas positif pada meningkatnya aktivitas layanan bongkar muat dan pengantaran alat berat di lapangan terminal IPCC ke depannya.
Hal ini dapat menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi IPCC untuk meningkatkan performance nya. Diharapkan kondisi ini dapat konsisten berlanjut ke depannya.