Penyelesaian Sengketa Lahan Sawit Perlu Prioritas

Oleh : Herry Barus | Jumat, 25 Oktober 2019 - 09:00 WIB

Kebun Kelapa Sawit (Ist)
Kebun Kelapa Sawit (Ist)

INDUSTRY.co.id - Jakarta- Penyelesaian konflik lahan sawit dalam kawasan hutan sebagai pemicu utama isu deforestasi perlu menjadi prioritas Pemerintah.  Karakteristik penguasaan lahan pada masing-masing lokasi serta historis adanya perubahan-perubahan regulasi pemerintah harus menjadi pertimbangkan penyelesaian konflik.

“Ada beberapa opsi bisa dilakukan seperti perubahan status kawasan hutan (pemutihan)  melalui tim terpadu Rencana rencana tata ruang wilayah provinsi (RT/RWP). Opsi lain berupa penataan  sawit di kawasan hutan serta melakukan pendataan dan  reforma agraria melalui perhutanan sosial,” kata  Irfan Bakhtiar Direktur SPOS Keragaman Hayati (Kehati) dalam Diskusi Pojok Iklim di Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Menurut Irfan, pengakuan sawit sebagai tanaman hutan sebenarnya bisa jadi pilihan. Hanya saja, implementasinya sulit serta rawan penolakan. “Namun demikian, semua pihak perlu bekerja sama guna menuntaskan persoalan sekitar 3,47 juta hektar kebun yang ditenggarai berada di kawasan hutan,” kata Irfan.

Konflik lahan sawit tidak terlepasnya dari keberhasilan  sawit mendorong pertumbuhan  ekonomi Indonesia sehingga  menyebabkan pergeseran budidaya sejumlah komoditas seperti karet dan tanaman lain.”Karena itu, penyelesaian tumpang tindih lahan harus jadi prioritas agar Indonesia tidak dihantam terus menerus dengan isu deforestasi,” kata Irfan.

Sebelumnya, Asisten Deputi Tata Kelola Kehutanan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Prabianto Mukti Wibowo mengatakan, Pemerintah tengah mengkaji beberapa opsi seperti pelepasan kawasan serta pemberian izin legal (land amnesty) untuk menyelesaikan sengketa  3,17 juta hektare kebun sawit.“Kita masih diskusikan  dengan banyak pakar hukum agar kedepan tidak menjadi persoalan baru dan dapat dibakukan dalam bentuk regulasi,” kata Prabianto.

Menurut Prabianto, dalam mengambil keputusan,  pemerintah akan mempertimbangkan banyak hal seperti historis adanya perubahan-perubahan regulasi pemerintah pada saat itu yang memungkinkan seseorang atau lembaga membangun kebun. “Prinsipnya, kebijakan itu harus pro rakyat dan mampu meningkatkan  kelembagaan petani sawit serta memastikan setiap perkebunan menerapkan standar Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO),” kata dia.

Menurut dia, dalam penetapan kebijakan, pemerintah mempertimbangkan beragam pendapat. Jika kebun tersebut menjadi ilegal karena regulasi tumpang tindih, bisa saja diajukan untuk pelepasan. Opsi lain berupa pemberian status legal atas kebun bisa dengan memenuhi beberapa persyaratan seperti menyelesaikan kewajiban yang selama ini belum dijalankan seperti pembayaran pajak.“Hanya saja,  karena luasan lahannya yang sangat besar, dibutuhkan waktu dan  proses untuk menyelesaikan persoalan ini,” kata dia.

Terpisah, Pengamat Hukum Kehutanan dan Lingkungan DR Sadino berpendapat, kebijakan izin satu daur penanaman sawit atau sekitar 35 tahun lebih dapat diterima masyarakat  dibandingkan  pemutihan,  land amnesty dan sebagainya yang pada akhirnya sulit dieksekusi.

Kebijakan ini juga menunjukkan apresiasi pemerintah terhadap hak masyarakat yang telah berusaha secara legal dan turun temurun pada konsesi yang belakangan diklaim sebagai kawasan hutan. Selain praktis, kebijakan ini memberi kepastian hukum dan keberlanjutan usaha.

”Selama bertahun-tahun, masyarakat dibuat bingung dan tidak nyaman dengan penyelesaian konflik lahan berlarut-larut. Padahal, sebagian besar izin diperoleh mengikuti prosedur UU melalui Pemerintah daerah. Sayangnya, izin-izin itu dengan mudah dipatahkan hanya melalui putusan Menteri yang sebenarnya telah dibatalkan melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK),” tegas Sadino.

Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Kalimantan Tengah (Kalteng) Rawing Rambang mengharapkan, pemerintah pusat perlu segera merampungkan  regulasi yang konsisten terkait sengketa lahan sawit. Pasalnya, Kalteng menjadi provinsi yang paling terdampak akibat sering berubahnya regulasi di tingkat pemerintah pusat. “Ini persoalan utama di Kalteng dan perlu diselesaikan segera agar masyarakat tidak terjebak seolah merusak hutan seperti yang saat ini dituduhkan sejumlah pihak,” kata dia.

Menurut Rawing,   tumpang tindih regulasi telah mengakibatkan banyak konflik lahan. Sebagai contoh,  jika mengacu pada perda 8 tahun 2003, sekitar 67% merupakan kawasan hutan. Sedangkan berdasarkan permenhut 529 tahun 2012 yang dikeluarkan belakangan menetapkan kawasan hutan mencapai 82%.

Padahal, sekitar tahun 2000-an, Dirjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Kementerian Kehutanan mengeluarkan aturan untuk Kawasan Pengembangan Produksi (KPP) dan Kawasan Permukiman dan Pengembangan Lainnya (KPPL)   tanpa perlu melakukan pelepasan kawasan hutan.

Namun, pada 2006, keluar aturan baru yang mewajibkan KPP dan KPPL harus mendapat pelepasan kawasan hutan. Di satu sisi, sudah banyak perkebunan yang terlanjur ditanam tanpa pelepasan, karena awalnya berpatokan pada aturan yang dikeluarkan tahun 2000.”Karena muncul aturan baru, sehingga yang sudah terlanjur beraktivitas tanpa pelepasan ini jadi masuk kawasan hutan. Hal ini tidak bisa dihindari dan tentu karena aturan yang terbit belakangan.

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Lima Klub Bersedia Jadi Tuan Rumah Liga 2 Tahun 2020

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 18:00 WIB

Lima Klub Bersedia Jadi Tuan Rumah Liga 2 Tahun 2020

Operator kompetisi sepak bola nasional, PT Liga Indonesia Baru (LIB) terus mematangkan persiapan menggelar kompetisi Liga 2 2020. Terbaru, sebanyak lima klub mengajukan diri menjadi tuan rumah…

Pemain Belakang Persebaya Hansamu Hobi Bersepeda Off Road

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 17:00 WIB

Pemain Belakang Persebaya Hansamu Hobi Bersepeda Off Road

Pemain yang identik dengan nomor punggung 23 tersebut mengaku merasakan sensasi yang berbeda saat meniti jalur off road. Selain mendapatkan pemandangan alam selama bersepeda Hansamu juga dapat…

Pembangunan Perumahan

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 16:49 WIB

Kementerian PUPR Alokasikan Dana Sebesar Rp 102 Miliar Untuk Bantuan PSU Sebanyak 11.514 Rumah Subsidi

Bantuan PSU mencakup pekerjaan seperti jalan lingkungan, penyediaan jaringan air bersih dan tempat pembuangan sampah terpadu kepada pengembang perumahan yang membangun perumahan MBR.

Pelindo IV Raih Sertifikat Sistem Manajemen Anti Penyuapan

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 15:46 WIB

Pelindo IV Raih Sertifikat Sistem Manajemen Anti Penyuapan

Sertifikat tersebut diserahkan langsung oleh Direktur Lembaga Sertifikasi PT Mutu Hijau Indonesia, Vysca Ariani dan diterima oleh Direktur Keuangan PT Pelindo IV, Choirul Anwar, di Kantor Perwakilan…

Ilustrasi Mall

Sabtu, 15 Agustus 2020 - 15:31 WIB

Meski Telah Dibuka Kembali, Pengelola Mal: Bukannya Untung, Malah Babak Belur

Jumlah pengunjung pada pusat perbelanjaan di DKI Jakarta masih mengkhawatirkan. Meski sudah dibuka hampir dua bulan atau sejak pertengahan Juni lalu, kedatangan pengunjung masih jauh dari kata…