INDUSTRY.co.id - Jakarta, Perubahan iklim yang memicu cuaca ekstrem terus menjadi tantangan bagi sektor pertanian di berbagai belahan dunia. Gelombang panas, kekeringan berkepanjangan, hingga berkurangnya ketersediaan air dinilai berpotensi menekan produksi pangan dan mengganggu ketahanan pangan global.

Indonesia turut menghadapi risiko serupa sebagai negara agraris. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pemerintah memperkuat berbagai langkah adaptasi dan peningkatan produksi guna menjaga ketersediaan pangan nasional.

Upaya yang dilakukan mencakup pompanisasi untuk memperluas akses air bagi lahan pertanian, rehabilitasi jaringan irigasi, percepatan masa tanam, penggunaan benih unggul yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim, serta mekanisasi pertanian guna meningkatkan efisiensi proses budidaya hingga panen.

Di tengah ketidakpastian iklim global, produksi beras Indonesia pada periode 2026/2027 diproyeksikan mencapai 38,6 juta ton atau meningkat dibandingkan sekitar 34 juta ton pada periode sebelumnya. 

Sementara itu, stok beras nasional diperkirakan berada pada kisaran 5,2 juta ton. Kondisi tersebut dinilai menjadi modal strategis dalam menghadapi tekanan iklim, gangguan cuaca, serta dinamika pangan dunia.

Meski demikian, tantangan perubahan iklim tetap perlu diantisipasi. Potensi musim kemarau yang lebih panjang, keterbatasan air untuk pertanian, hingga risiko penurunan produktivitas tanaman menjadi sejumlah faktor yang harus dikelola melalui langkah mitigasi yang berkelanjutan.

Fenomena serupa juga terjadi di kawasan Eropa. Gelombang panas ekstrem dan kekeringan yang berkepanjangan mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian. 

Produksi jagung menghadapi risiko penurunan akibat suhu tinggi, sementara di Prancis kondisi tanaman jagung dilaporkan memburuk sehingga proyeksi produksinya mengalami koreksi. 

Dampak panas ekstrem juga dirasakan sektor peternakan melalui meningkatnya stres panas pada ternak yang memengaruhi konsumsi pakan, kesehatan hewan, serta produksi susu.

FAO dan WMO menyebut panas ekstrem sebagai salah satu ancaman terbesar bagi pertanian global karena berpotensi memengaruhi tanaman, peternakan, perikanan, hingga keselamatan para pekerja di sektor pertanian.

Menghadapi kondisi tersebut, penguatan produksi dalam negeri, peningkatan efisiensi pertanian, pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan, serta mitigasi sejak dini menjadi langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim.

"Kalau dampak ini, ada El Nino, itu nggak masalah. Karena stok kita sudah kuat," ujar Mentan Andi Amran Sulaiman.