INDUSTRY.co.id - Jakarta, Memasuki 81 tahun perjalanan Indonesia merdeka, kesejahteraan petani kembali menjadi salah satu indikator penting dalam pembangunan sektor pertanian. Kementerian Pertanian menyebut berbagai kebijakan yang dilakukan dari hulu hingga hilir mulai memberikan dampak terhadap pendapatan, daya beli, dan efisiensi usaha tani.
Melansir unggahan media sosial Instagram Kementerian Pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) Juli 2026 tercatat 127,84. Angka tersebut disebut sebagai yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia merdeka.
Pencapaian itu dipandang sebagai salah satu gambaran membaiknya kondisi ekonomi petani. Kenaikan NTP antara lain mencerminkan semakin kuatnya daya beli serta membaiknya posisi petani dalam menjalankan usaha pertanian.
Pemerintah dalam beberapa waktu terakhir memang mendorong sejumlah kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat sektor pertanian. Langkah tersebut mencakup kemudahan akses pupuk, bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), penyediaan benih unggul, pembangunan irigasi dan pompanisasi, hingga penyederhanaan mekanisme penyaluran bantuan.
Di sektor pupuk, pemerintah melakukan deregulasi yang diklaim membuat pupuk lebih mudah diperoleh sekaligus menurunkan harga eceran tertinggi (HET) sekitar 20 persen. Sementara bantuan alsintan dan benih unggul diarahkan untuk meningkatkan efisiensi serta produktivitas usaha tani.
Pembangunan irigasi dan pompanisasi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian. Dengan dukungan tersebut, intensitas tanam diharapkan meningkat sehingga produktivitas pertanian dapat terus didorong.
Kebijakan lainnya adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah sebesar Rp6.500 per kilogram. Kebijakan tersebut ditujukan untuk memberikan kepastian harga sekaligus menciptakan keuntungan yang dinilai lebih layak bagi petani.
Dampak kebijakan itu turut disampaikan sejumlah petani. Ardiansyah dari Brigade Pangan Masseddi, Bone, misalnya, mengatakan kebijakan pemerintah mulai terasa dalam aktivitas produksi.
“Produksi meningkat, biaya lebih efisien, dan tentu pendapatan petani juga ikut bertambah. Inilah yang benar-benar kami rasakan dari kebijakan pemerintah yang berpihak kepada petani," ujarnya.
Pengalaman serupa disampaikan Jarwanto, petani dari Boyolali dan Karanganyar. Ia menyebut harga gabah basah kini dapat mencapai sekitar Rp7.500 per kilogram. Selain harga yang lebih menguntungkan, akses terhadap pupuk dan ketersediaan air untuk sawah juga dinilai semakin baik.
“Kami juga lebih mudah mendapatkan pupuk, biaya usaha tani lebih ringan, dan air untuk sawah lebih terjamin. Saya benar-benar merasakan perhatian pemerintah kepada petani," tuturnya.
Kementerian Pertanian menegaskan bahwa peningkatan produksi pangan tidak dapat dipisahkan dari kesejahteraan pelaku utamanya, yakni petani. Sebab, keberhasilan mencapai swasembada pangan tidak semata-mata diukur dari banyaknya produksi, tetapi juga dari kemampuan negara meningkatkan taraf hidup petani.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menekankan hal tersebut dengan mengatakan, “Swasembada pangan bukan hanya tentang produksi, tetapi juga harus menghadirkan kesejahteraan bagi petani.”
Dengan NTP Juli 2026 yang mencapai 127,84, pemerintah menjadikan capaian tersebut sebagai momentum untuk memperkuat agenda pembangunan pertanian. Petani yang semakin sejahtera diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya ketahanan dan kedaulatan pangan nasional.