INDUSTRY.co.id - Jakarta - Secara teknikal IHSG bergerak break out level support lower bollinger bands dan mendekati level support psikologis 6000. Indikator Stochastic dan RSI tertekan kembali kearea oversold. IHSG break out regresi bearish trend dengan support pelemahan dikisaran FR161.8% yang berada pada kisaran 5990-6000.

Advertisement

"Sehingga kami perkirakan IHSG masih cenderung tertekan pada support resistance 5990-6080," kata analis Reliance Sekuritas Indonesia di Jakarta, Kamis (3/10/2019).

Saham-saham yang cukup menarik diperhatikan yakni; SIMP, TPIA, BRPT, INDF, ICBP, MYOR, BBTN, BMRI, BBRI, BBNI, PGAS, TINS, MEDC, ANTM, INCO.

Advertisement

IHSG (-1.35%) kemarin ditutup melemah 82.82 poin kelevel 6055.42 dengan sektor pertambangan (-1.80%) dan Keuangan (-1.55%) turun cukup signifikan. Katalis dari pelemahan kinerja sektor manufaktur yang melemah mencuri kepercayaan investor pada aset beresiko seperti ekuitas di Negara Berkembang. Saham-saham perbankan plat merah menjadi kontributor utama pelemahan IHSG. BMRI (-5.43%), BBRI (-3.44%) dan BBNI (-4.81%) turun signifikan ditengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan kredit dimana Pertumbuhan pinjaman bank pada 8,6% Y / y pada bulan Agustus, laju paling lambat sejak Maret 2018, menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan Indonesia. Investor asing tercatat melakukan aksi jual sebesar 270.46 miliar rupiah tanpa negosiasi saham TBIG sebesar 1.06 Triliun rupiah.

Bursa Eropa kompak membuka perdagangan dengan melemah lebih dari sepersen. Indeks Eurostoxx (-1.32%) dan FTSE 100 (-1.62%) dan DAX (-1.22%) turun mengiringi indeks berjangka AS yang turun dengan saham Asia karena data manufaktur rilis lebih rendah dari ekspektasi. Di Inggris, saham-saham berkinerja buruk, gilt turun dan pound melemah setelah Irlandia menolak rencana Perdana Menteri Boris Johnson untuk mengeluarkan ultimatum Brexit sebelum ia secara resmi mengungkapkannya. Euro turun 0,2% menjadi $ 1,0913. Pound melemah 0,4% menjadi 89,219 pence per euro. Harga minyak Texas Barat menghentikan penurunan beruntun enam hari karena penurunan mengejutkan stok AS dan penurunan produksi OPEC membantu mengimbangi lebih banyak bukti perlambatan ekonomi global.

Advertisement