Menperin Akui Investasi Korsel Perkuat Struktur Industri Manufaktur RI

Oleh : Ridwan | Rabu, 18 September 2019 - 18:15 WIB

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

INDUSTRY.co.id - Jakarta - Kementerian Perindustrian aktif menarik investor Korea Selatan untuk terus menanamkan modalnya di Indonesia agar bisa memperkuat struktur sektor manufaktur di dalam negeri. Langkah ini juga sekaligus akan memacu daya saing industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

"Korea adalah salah satu top 10 investor di Indonesia. Mereka punya industri yang potensial, khususnya sektor manufaktur," kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika menyampaikan keynote speech pada acara Indonesia - Korea Conference 2019: Charting A Blueprint for Robust Partnership di Jakarta, Rabu (18/9).

Menperin menyebutkan, sejumlah investor Korsel di sektor industri telah menggelontorkan dananya di Indonesia. Investor yang masuk berasal dari sektor-sektor yang sedang diprioritaskan pengembangannya oleh pemerintah berdasarkan peta jalan Making Indonesia 4.0.

"Ada beberapa industri besar seperti Posco di sektor industri baja, dan Lotte Chemical di industri kimia yang berinvestasi sekitar USD3,5 miliar," ungkapnya. 

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Korsel merupakan investor terbesar ke-8 di Indonesia pada kuartal I-2019.

Total realisasi investasi dari Negeri Ginseng sejak tahun 2014 sampai triwulan I-2019 mencapai USD7,3 miliar. Sementara itu, realisasi investasi sepanjang tahun 2018 sebesar USD1,6 miliar. Investasi mereka didominasi sektor industri mesin dan elektronik (15%), pertambangan (13%), gas dan air (9%), industri sepatu (8%), serta industri karet dan plastik (8%).

"Ada beberapa sektor lagi yang akan masuk. Apalagi untuk elektronika, pangsa pasar produk Korea juga cukup besar di Indonesia," ujar Airlangga. 

Oleh karena itu, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo bertekad untuk semakin menciptakan iklim investasi yang kondusif, memberikan kemudahan izin usaha, serta memfasilitasi insentif fiskal dan nonfiskal. 

"Dengan demikian, pemerintah akan terus dorong dan fasilitasi, bahwa klaster industri Korea ke depan perlu kita tarik," tandasnya. 

Sebab, menurut Menperin, peningkatan investasi merupakan kunci untuk menciptakan lompatan dan terobosan dalam mewujudkan visi Indonesia maju dan sejahtera.

Upaya tersebut, sejalan dengan program prioritas di dalam Making Indonesia 4.0 untuk kesiapan diri memasuki era industri 4.0. Terutama yang berkaitan dengan pengembangan lima sektor andalan, yakni industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri elektronika, serta industri kimia.

Makanya investasi terus kami pacu, sehingga akan menggenjot kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik hingga ekspor. Selain itu dapat menghasilkan substitusi impor, ungkapnya. Penerapan industri 4.0 ini tidak hanya menyasar kepada sektor skala besar, melainkan juga industri kecil dan menengah (IKM) dalam upaya meningkatkan produktivitas dan kualitasnya secara lebih efisien.

Airlangga menambahkan, peningkatan investasi juga dapat menjaga kestabilan perekonomian nasional di tengah kondisi ekonomi global yang belum menentu akibat adanya perang dagang. 

"Kuncinya adalah FDI (Foreign Direct Investment). Seperti yang disampaikan Pak Dino Patti Djalal dan Dubes Korea, bahwa Indonesia menjadi prioritas dari new southern policy dari Korea," paparnya.

Sementara itu, Menperin menilai upaya percepatan Indonesia-Korea Comprehensive Economic Partnership Agreement (IK CEPA) akan mempermudah kerja sama di sektor industri bagi kedua negara. 

"IK CEPA tentu akan memudahkan sektor industri membangun value chain. IK CEPA juga diharapkan memudahkan pelaku industri komponen dalam negeri berperan dalam global value chain," terangnya.

Airlangga pun menyampaikan, IK CEPA akan mempengaruhi kerja sama perdagangan dua arah agar saling menguntungkan. "Apalagi, ketika melakukan kunjungan kerja ke Korea, Bapak Presiden Joko Widodo menargetkan nilai perdagangan kedua negara menjadi USD30 miliar di tahun 2022 atau naik dari yang sekarang sekitar USD18,6 miliar," tuturnya.

Pada tahun 2017, neraca perdagangan RI-Korsel mengalami surplus sebesar US$78 juta dari total nilai perdagangan yang mencapai USD17 miliar. Tahun lalu, telah ditandatangani sejumlah MoU dengan potensi investasi sebesar USD6,2 miliar dalam rangkaian acara Indonesia-Korea Business and Investment Forum 2018.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Gubernur Kalbar Sutarmidji (Detik.Com)

Sabtu, 04 Juli 2020 - 09:06 WIB

Cara Gubernur Kalbar Sutarmidji Tekan COVID-19: Gelar Rapid Test hingga Cek Langsung Menu Makanan di Rumah Sakit

Gubernur Kalbar Sutarmidji Tekan Sebaran COVID-19: Gelar Rapid Test Massal hingga Mengecek Langsung Menu Makanan di Rumah Sakit Jakarta, Gubernur Kalimantan Barat (Kalbar) H. Sutarmidji mengungkapkan…

Protes PPDB soal batas usia siswa dan zonasi sekolah Jakarta (foto CNNIndonesia)

Sabtu, 04 Juli 2020 - 09:02 WIB

Pak Anies Tolong Turun Tangan Langsung Urusi PPDB DKI

Jakarta-Fraksi Golkar meminta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menerangkan kepada masyarakat soal kebijakan PPDB tersebut.

Pupuk Indonesia Realisasikan Pasok 483 Ton Beras Untuk ATM Pertanian Sikomandan

Sabtu, 04 Juli 2020 - 09:00 WIB

Pupuk Indonesia Realisasikan Pasok 483 Ton Beras Untuk ATM Pertanian Sikomandan

PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatatkan realisasi penyaluran bantuan beras bagi masyarakat terdampak Covid-19 melalui program ATM Pertanian Sikomandan sebanyak 483 ton sepanjang periode 15…

Pakar gugus tugas percepatan penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito

Sabtu, 04 Juli 2020 - 08:39 WIB

Kabar Gembira! Gugus Tugas: Wilayah Zona Hijau Telah Mencapai 99 Daerah

Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Nasional Prof. Wiku Adisasmito menyampaikan kabar gembira terkait jumlah wilayah yang berstatus zona hijau telah mencapai 99 daerah.

Gerbang tol Pandaan

Sabtu, 04 Juli 2020 - 08:29 WIB

Wih...Tol Pandaan-Malang Raih Sertifikat Green Toll Road Indonesia

Pembangunan Tol Pandaan-Malang dilakukan dengan memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan berkelanjutan sejak tahap perancangan, pembangunan, pengoperasian, hingga tahap pemeliharaan.