Bahana TCW : Pasar Saham Berpotensi Menguat di Semester Dua

Oleh : Herry Barus | Selasa, 23 Juli 2019 - 14:22 WIB

Indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (dok INDUSTRY.co.id)
Indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (dok INDUSTRY.co.id)

INDUSTRY.co.id -  Jakarta- Pasar saham Indonesia kembali berpeluang menguat di semester dua tahun ini setelah usai dari hiruk pikuk politik dan para pelaku pasar mendapat kepastian Presiden terpilih Joko Widodo kembali memimpin Indonesia untuk kedua kali.

 Menurut Kepala Ekonom dan Makro Ekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment, Budi Hikmat, Selasa(23/7/2019)  ada beberapa faktor di semester dua yang bisa mendongkrak kenaikan pasar saham.

 Pertama, sentimen positif dari Bank Sentral Amerika Federal Reserve (The Fed) yang memberi sinyal kuat untuk menurunkan suku bunga pada akhir Juli ini. Dari segi valuasi, bursa saham Indonesia masih lebih murah dibandingkan bursa saham beberapa negara di Asia, sehingga memikat investor asing untuk kembali berinvestasi di Indonesia.

 Di samping itu, Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga BI 7 days reverse repo sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen pada bulan ini. Sehingga suku bunga deposito cenderung turun, diantisipasi dengan bunga obligasi.

 Sementara faktor earnings atau pendapatan perusahaan masih belum memberi hasil maksimal karena daya beli masyarakat belum membaik. Budi memperkirakan earnings korporasi pada tahun ini akan berkisar antara 8-10%.

 Adapun, sektor-sektor yang menarik untuk dicermati dengan kondisi membaiknya pasar saham adalah sektor perbankan, konsumen, dan properti. Sementara, sektor yang harus diwaspadai adalah sektor komoditas, baik itu batubara, minyak sawit (CPO) sebagai dampak dari pelambatan ekonomi yang terjadi di Cina.

 Penguatan Rupiah Belum Secara Fundamental

 Di samping prospek IHSG yang diprediksi menarik tahun ini, Rupiah telah mencerminkan penguatan pada pekan lalu. Rupiah kembali menguat terhadap kurs Dollar Amerika Serikat (AS), yang naik 0,49% ke level Rp 13.930 selama pekan lalu. Adapun, Rupiah menjadi mata uang terbaik di Asia sepanjang Juli, dimana Rupiah menguat 1% terhadap Dollar AS.

 Akan tetapi, Budi Hikmat mengingatkan jika penguatan Rupiah belum ditopang secara fundamental. Penguatan Rupiah disebabkan karena masuknya aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan Indonesia, sebesar Rp 192,5 triliun, dimana Surat Berharga Negara (SBN) senilai Rp 118,1 triliun dan saham senilai Rp 74 triliun. Adapun, kepemilikan investor asing terhadap SBN telah melebihi Rp 1.000 triliun.

 

Sementara Indonesia masih mengalami defisit neraca dagang. Sepanjang semester satu 2019, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, neraca dagang Indonesia defisit US$ 1,93 miliar. Adapun, pada bulan Juni, terjadi surplus US$ 200 juta. Meski demikian, defisit neraca dagang semester 1 tahun ini merupakan defisit neraca terdalam selama empat tahun terakhir.

 “Tantangan terbesar kita saat ini adalah penyembuhan Defisit Neraca berjalan / Current Account Deficit (CAD). Kebijakan moneter dan fiskal saja tak cukup memperbaiki CAD. Hal yang kita tunggu saat ini adalah kabinet pemerintah yang baru untuk memberi solusi dalam memacu produktivitas dan daya saing”, ungkap Budi Hikmat dalam siaran pers, Selasa, 23 Juli.

 Salah satu penyebab membengkaknya CAD, lanjut Budi, adalah penyakit Belanda atau Dutch Disease, yakni masyarakat terlena menggunakan produk barang/jasa impor, namun tak menggerakan roda produktivitas.

 “Semasa era commodity booming, sektor manufaktur kurang dapat dukungan sementara belanja masyarakat untuk barang impor tumbuh pesat. Ketika booming berakhir, belanja barang impor sulit ditekan sementara sektor manufaktur sulit menyerap tenaga kerja yang menghasilkan pendapatan untuk rumah tangga", ungkap Budi.

Komentar Berita

Industri Hari Ini

BNI Syariah. (Foto: IST)

Kamis, 16 Juli 2020 - 21:46 WIB

Populasi Penduduk Indonesia Jadi Potensi Pasar Perbankan Syariah

Direktur Utama BNI Syariah, Abdullah Firman Wibowo menyampaikan lima faktor yang harus disiapkan agar bisa sukses meniti karir di dunia perbankan.

Kemenkop dan UKM

Kamis, 16 Juli 2020 - 21:25 WIB

Hingga Kini Realisasi Penyaluran Dana PEN Capai Rp10,24Triliun, KemenkopUKM Pastikan Program Ini Tepat Sasaran

Realisasi penyaluran dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk koperasi dan Usaha Menengah Kecil Mikro (UMKM) sampai tanggal 16 Juli 2020 mencapai Rp10,24 triliun dari total pagu anggaran…

Hanwha Techwin Gandeng BIGI.ID (PTI Group) Pasarkan Lini Produk Security System

Kamis, 16 Juli 2020 - 21:17 WIB

Keren! Industri Terkemuka Korsel Gandeng BIGI.ID Sediakan Teknologi Handal dalam Bidang Keamanan Indonesia

Jakarta-Salah satu perusahaan terkemuka di bidang surveillance asal Korea Selatan (Korsel), Hanwha Techwin menggandeng PT BIGI Multi Internasional (BIGI.ID) – under PTI Group, untuk menjadi…

Rest Area KM 36A Jalan Tol Balikpapan-Samarinda

Kamis, 16 Juli 2020 - 21:15 WIB

PT Jasamarga Related Business Pastikan Rest Area KM 36A Jalan Tol Balikpapan-Samarinda Penuhi SPM

Sebagai rest area jalan tol pertama di Kalimantan Timur, PT Jasamarga Related Business (JMRB) memastikan Rest Area KM 36A Jalan Tol Balikpapan-Samarinda arah Balikpapan dioperasikan secara fungsional…

Founder & CEO Iconomics Bram S Putro

Kamis, 16 Juli 2020 - 20:45 WIB

Wuih...Diprediksi Jasa Keuangan Bertahan Hingga Pendemi Usai

Mantan Gubernur Bank Indonesia, Darmin Nasution menilai Lembaga Jasa Keuangan seperti perbankan, pembiayaan dan pegadaian masih aman, meskipun beberapa bulan belakangan dihantam pandemi covid-19.…