Lima Alasan Mengapa Banyak Karyawan Resign dan Cara Mencegahnya

Oleh : Herry Barus | Selasa, 11 Juni 2019 - 16:53 WIB

Karyawan (Foto Jobstreet)
Karyawan (Foto Jobstreet)

INDUSTRY.co.id - Jakarta– Pasca hari raya lebaran kerap menjadi waktu favorit yang dipilih karyawan untuk mengundurkan diri dari perusahaannya, mengingat telah cairnya Tunjangan Hari Raya (THR) dan banyaknya perusahaan yang membuka lowongan kerja usai lebaran, sehingga menjadikan momen ini sebagai waktu yang tepat untuk keluar dan mencoba pekerjaan baru.

Namun, ini bukan merupakan satu – satunya alasan mengapa karyawan resign, karena tidak menutup kemungkinan bahwa mereka telah merencanakan pengunduran dirinya sejak jauh – jauh hari karena berbagai macam alasan. Bahkan pada sektor industri digital yang sekalipun menawarkan berbagai macam paket benefit menarik untuk karyawannya, turnover karyawannya merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan sektor industri lain di Indonesi bahkan hingga mencapai 19,22% dimana industri lain rata – rata hanya 10%, menurut data terakhir dari Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA).

Dilansir dari temuan Robert Walters Asia yang telah melakukan survey kepada 771 pencari kerja dan 496 manajer perekrutan di Asia, termasuk Indonesia, menyatakan bahwa ada lima alasan utama mengapa karyawan mengundurkan diri, antara lain:

  1. Terbatasnya pertumbuhan di perusahaan

Karyawan profesional memiliki keinginan kuat untuk selalu tumbuh dan berkembang di dalam sebuah perusahaan, dikutip dari laporan Robert Walters, prospek pertumbuhan yang buruk di dalam sebuah perusahaan merupakan satu dari dua alasan utama mengapa karyawan mengundurkan diri.

  1. Merasa dibayar rendah

Gaji adalah alasan utama lainnya. Karyawan dapat dengan mudah membandingkan dengan penghasilan rekan seprofesinya dari perusahaan lain, yang dapat memudahkan mereka dalam menilai bagaimana perusahaannya menghargai mereka.

  1. Tidak lagi tertantang

Karyawan yang baik tidak ingin sekedar bekerja, mereka ingin terlibat dengan pekerjaannya secara mendalam dan merasa terus tertantang untuk mendapatkan pelajaran yang bermanfaat dari apa yang dikerjakannya.

  1. Merasa diremehkan

Karyawan menginginkan pengakuan atas pekerjaan mereka. Ketika perusahaan mengabaikan prestasi karyawannya, mereka tidak segan untuk mencari perusahaan yang mau mengapresiasi hasil pekerjaannya.

  1. Budaya perusahaan tidak lagi cocok

Setiap karyawan memiliki preferensinya masing – masing terhadap budaya perusahaan yang membuatnya nyaman. Namun, tidak adanya komunikasi terbuka antara manajer dan karyawan di tempat kerja merupakan budaya buruk yang sering kali mengganggu kenyamanan karyawan di sebuah perusahaan.

Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dari hasil temuan tersebut, Robert Walters juga merangkum beberapa insight penting yang dapat dijadikan acuan bagi para praktisi HR dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik untuk mencegah karyawannya mengundurkan diri, di antaranya:

  1. Karyawan profesional sadar akan market value mereka

Karyawan dapat dengan mudah memperoleh informasi mengenai besaran upah pada suatu industri dari penelitian kredibel seperti survei gaji dan melakukan perbandingan upah rata – rata dengan rekan – rekan seprofesinya. Karenanya, menawarkan paket upah yang kompetitif juga merupakan cerminan bagaimana perusahaan menghargai setiap individu di dalamnya.

  1. Implementasikan rencana suksesi karyawan

Karyawan cenderung bertahan lebih lama apabila diinformasikan mengenai prospek pertumbuhan di dalam suatu perusahaan. Perhatian harus diberikan kepada karyawan yang telah bekerja keras, dan menghargai mereka dengan sebuah pengakuan sama pentingnya seperti benefit finansial yang diberikan perusahaan kepada karyawannya.

Dengan memiliki jalur perkembangan karir yang jelas, karyawan akan menyadari bahwa mereka memiliki masa depan di dalam perusahaan tersebut, dan ini cenderung dapat meningkatkan tingkat retensi karyawan.

  1. Promosikan komunikasi yang terbuka

Sebelum memutuskan mencari pekerjaan baru, 58% karyawan tidak memberitahukan perusahaannya bahwa mereka tidak bahagia atau memiliki masalah di sana[2]. 44% menyatakan bahwa mereka tidak ingin mencederai hubungan dengan perusahaannya saat ini, sementara 35% menyatakan mereka sudah tidak menghargai perusahaannya lagi.

Padahal tingkat retensi yang lebih tinggi dapat dicapai dengan memastikan karyawan merasa nyaman untuk berbagi feedback dan kritik yang membangun dengan manajer mereka, dan sebaliknya. Untuk itu perusahaan lebih baik mendorong karyawannya untuk menjadi terbuka setiap saat.

  1. Menerapkan saluran umpan balik

Terapkan strategi untuk mendorong komunikasi terbuka, termasuk menciptakan peluang untuk membangun jaringan dan membangun tim di luar kantor, yang mana dapat membantu mengembangkan rasa persahabatan dan loyalitas para karyawan. Langkah – langkah lainnya yakni termasuk menerapkan proses penilaian yang transparan, di mana kekuatan dan kelemahan karyawan dinilai dengan jelas.

  1. Belajar untuk membaca tandanya

85% perusahaan di Asia percaya bahwa mereka bisa memprediksi kapan karyawan akan mengundurkan diri dari perusahaan. Tiga tanda paling umum yang menunjukkan karyawan akan resign adalah antara lain terlihat bingung dan menjauh dengan lingkungan kerja, penurunan efisiensi dalam bekerja, serta penurunan kualitas kerja.

Belajar membaca tanda – tanda bahwa karyawan tidak bahagia atau menjauhkan diri adalah penting agar masalahnya dapat diatasi pada tahap awal. Ini penting tidak hanya bagi karyawan yang bersangkutan, tetapi juga dapat mencegah karyawan lain terkena dampak negatif dari karyawan yang sedang bermasalah dan agar mencegah terjadinya penurunan produktivitas.

  1. Mencari tahu akar masalah

Manajer harus bekerja sama dengan departemen SDM untuk mencari tahu sumber masalah dari ketidakbahagiaan karyawan. Jika masalahnya terkait dengan pekerjaan, menetapkan tujuan baru yang akan menciptakan tantangan baru adalah cara yang baik untuk membuat karyawan tetap terlibat, bahagia dan merasa berguna.

Jika ini adalah masalah pribadi, akan lebih penting untuk membangun jalur komunikasi yang terbuka dan jujur untuk membantu karyawan jika memungkinkan dan untuk memastikan dampak terhadap bisnis minimal.

  1. Cari tahu alasan sebenarnya dari pengunduran diri karyawan

Hal penting yang harus dilakukan bagi praktisi HR adalah untuk mempertimbangkan alasan sebenarnya dari pengunduran diri karyawan. Apakah karena kesempatan berkembangnya yang terbatas, tidak puas dengan upah yang diberikan, atau hal mendasar lainnya.

Setelah mengetahui alasan yang sebenarnya, perusahaan dapat memberikan counter offer atau penawaran sesuai dengan alasan mengapa karyawan tersebut hendak resign. Karena menurut data, 54% karyawan yang telah resign mengaku tidak mendapatkan counter offer dari perusahaannya ketika mereka hendak keluar, namun dari 46% karyawan menyetujui untuk bertahan di perusahaan tersebut setelah mendapatkan penawaran counter offer.

  1. Manfaatkan feedback yang didapat dari karyawan yang telah resign

Jika pengunduran diri tidak dapat dicegah lagi, ada satu hal yang masih dapat dimanfaatkan oleh perusahaan, yaitu mendapatkan feedback melalui exit interview atau wawancara yang dilakukan baik secara formal atau non-formal kepada karyawan yang telah resign.

Pasalnya, melalui wawancara ini terbukti 72% dari karyawan yang diwawancara mengaku dapat memberikan umpan balik kepada perusahaan secara jujur dan membangun. Bahkan mereka mungkin dapat memberikan saran kepada perusahaan untuk melakukan perubahan yang signifikan, yang mungkin bila diterapkan dapat bermanfaat untuk menarik dan mempertahankan kandidat yang lebih baik di masa depan.

Melalui cara ini perusahaan akan mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang perusahaan dan stafnya untuk kemudian merancang perbaikan strategis untuk bisnis di kemudian hari.

 

 

 

 

Komentar Berita

Industri Hari Ini

Direksi PT Pakuwon Jati Tbk sedang memberikan keterangan kepada pers dalam acara paparan publik di Jakartra, Selasa (25/06/2019). Dari kiri ke kanan : Minarto Basuki (Direktur), Ridwan Suhendra (Presdir) dan Wong Boon Siew Ivy (Direktur). (Foto Abe)

Selasa, 25 Juni 2019 - 18:33 WIB

Pakuwon Jati Bagikan Dividen Tunai 2018 Bernilai Total Rp337 Miliar

Para pemegang saham PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), emiten Bursa Efek Indonesia yang mengembangkan berbagai properti di Surabaya dan Jakarta, dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta,…

Razer-Visa Sepakat Kembangkan Transformasi Pembayaran di Asia Tenggara

Selasa, 25 Juni 2019 - 15:18 WIB

Razer-Visa Sepakat Kembangkan Transformasi Pembayaran di Asia Tenggara

Razer™, brand gaya hidup terkemuka di dunia untuk para gamer, dan Visa, perusahaan pembayaran digital terdepan di dunia, telah mengumumkan kemitraan untuk pertama kalinya dalam rangka mengembangkan…

Jaringan Internet LinkedIn (Foto Ist)

Selasa, 25 Juni 2019 - 14:29 WIB

Study LinkedIn: Adanya 3 Rising Skills di Indonesia yang Mempengaruhi Inovasi dan Transformasi Perusahaan  

LinkedIn, jaringan profesional terbesar di dunia, meluncurkanLaporan Future of Skills 2019, yang mengidentifikasi 10 rising skills (peningkatan keterampilan) yang paling tinggi di antara…

BMKG Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (Foto Dok Industry.co.id)

Selasa, 25 Juni 2019 - 14:18 WIB

Fenomena Suhu Dingin di Wilayah Dieng

Menyikapi kondisi suhu dingin yang menyebabkan terjadinya fenomena embun beku di wilayah dataran tinggi Dieng dalam beberapa waktu belakangan ini, kejadian kondisi suhu dingin tersebut merupakan…

Rizal Ramli (dok RMOL)

Selasa, 25 Juni 2019 - 14:00 WIB

Rizal Ramli Pernah Ingatkan Presiden Jokowi Dampak Kebijakan Austerity Sri Mulyani

Ekonom senior DR. Rizal Ramli telah mengingatkan Presiden Joko Widodo untuk menolak rencana Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam menerapkan kebijakan austerity atau pengetatan anggaran yang berdampak…