INDUSTRY.co.id - Jakarta- Ekonom DBS Group Research Gundy Cahyadi memproyeksikan konsumsi rumah tangga masih akan menjadi penopang utama perekonomian domestik.

Advertisement

"Perekonomian Indonesia akan terus ditopang oleh permintaan domestik. Pertumbuhan konsumsi terus stabil di sekitaran lima persen dan akan terus menjadi penopang utama perekonomian Indonesia," ujar Gundy di Jakarta, Selasa (28/2/2017)

Ia menambahkan pertumbuhan konsumsi sendiri akan menjadi lebih kuat seandainya didorong oleh pemulihan yang lebih signifikan dari 'disrectionary goods'.

Advertisement

Sementara itu, selain ditopang oleh konsumsi, pertumbuhan ekonomi domestik dinilai semestinya mampu juga didukung dari sisi investasi.

"Kunci utama pertumbuhan ekonomi tahun ini sebenarnya terletak di investasi. Pertumbuhan di sektor manufaktur yang masih mengecewakan, menjadi halangan utama untuk potensi investasi tahun ini," katanya.

Advertisement

Walaupun demikian, pihaknya melihat tanda-tanda yang cukup positif dari data belakangan ini. Pertama ialah pemulihan pada pertumbuhan ekspor.

Sektor ekspor nasional pada 2016 tercatat tumbuh negatif 1,74 persen, meski pada triwulan IV-2016 sempat terjadi perbaikan kinerja dengan peningkatan laju sebesar 4,24 persen.

Advertisement

Ekspor barang dan jasa merupakan komponen terbesar ketiga dalam distribusi PDB, setelah konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto, dengan kontribusi mencapai 19,08 persen.

"Membaiknya pertumbuhan ekspor merupakan satu hal yang positif. Kontribusi dari net export untuk GDP growth diperkirakan akan naik tahun ini," ujar Selain itu, data investasi langsung menunjukkan bahwa adanya investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) ke sektor manufaktur menyentuh rekor tertinggi di tahun 2016 lalu.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penguatan konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional 5,02 persen pada 2016.

Sementara itu, pembentukan modal tetap bruto tumbuh 4,48 persen. Sektor investasi tersebut sedikit melambat, namun ikut memberikan kontribusi kepada perekonomian nasional.

Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2018 mendatang mencapai 6 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan realisasi pertumbuhan ekonomi tahun lalu dan target tahun ini 5,1 persen.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi tersebut, selain bertopang pada konsumsi rumah tangga, kontribusi investasi juga ditargetkan tumbuh mencapai hingga 8 persen agar mampun mendukung pencapaian target pertumbuhan tersebut.