INDUSTRY.co.id - Jakarta - Hari ini, 5 Februari 2019, para etnis Tionghoa di Indonesia maupun di seluruh dunia merayakan Tahun Baru Imlek 2570. Persiapan mereka untuk hari raya ini cukup meriah dengan segala perlengkapan yang serba berwarna merah dan emas, mulai dari pernak-pernik hingga baju berkerah shanghai.
Selain itu, masyarakat Tionghola juga tidak ketinggalan untuk menyajikan berbagai makanan sebagai santapan pada perayaan Tahun Baru Imlek. Kendati mayoritas masyarakat Tionghoa paling suka menyantap bubur, terutama Bubur Ayam, tetapi makanan favorit mereka tersebut sangat dilarang keras untuk disajikan pada setiap perayaan Tahun Baru Imlek.
Pasalnya, bubur dipercaya sebagai lambang kemiskinan atau kesusahan. Itu karena ada sejarahnya, dimana pada jaman dulu di Tiongkok pernah terjadi kelaparan dalam jangka panjang. Kondisi itu membuat masyarakat Tiongkok hanya dapat menyajikan bubur sebagai makanan utama mereka ketika itu.
Dengan demikian, kendati bubur sangat disukai, tetapi makanan tersebut sangat dilarang untuk disajikan pada saat perayaan Tahun Baru Imlek. Pasalnya, makanan yang sering dijadikan menu sarapan pagi tersebut dikhawatirkan akan memunculkan kesialan atau kesusahan bagi orang-orang yang menyantapnya pada saat perayaan Tahun Baru Imlek.
Di samping bubur, ada beberapa makanan yang sangat dilarang untuk disajikan pada saat Imlek, yaitu segala makanan yang berwarna putih, sayap ayam, makanan yang berasal dari daging hewan yang dipotong sendiri pada Hari Raya Imlek, kepiting, pare dan makanan yang berupa roti yang bolong-bolong.
Setiap makanan yang dilarang dihidangkan tersebut ternyata memiliki alasan tertentu. Misalnya, makanan yang berwarna putih dilarang dihidangkan dan disantap pada saat Imlek karena putih merupakan lambang dari dukacita atau kesusahan. Orang yang menyantap makanan berwarna putih tersebut pada saat Imlek dikhawatirkan akan selalu diselimuti kesusahan di sepanjang tahun baru tersebut.
Adalagi alasan kenapa sayap ayam dilarang untuk disantap pada saat Imlek. Jika ada orang yang menyantap makanan terlezat bagi generasi millenial tersebut, maka segala keberuntungan dan berkat akan terbang menjauh dari dirinya.
Masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek juga percaya bahwa mereka tidak boleh memakan hewan yang dipotong pada saat perayaan Imlek berlangsung karena akan menimbulkan kesialan atau nasib buruk. Karena itu, pada perayaan Imlek, terutama pada hari pertama, makanan yang seringkali disajikan adalah Kue Keranjang dan Jeruk Mandarin.
Kendati berbagai hidangan berbahan baku kepiting tidak ada yang tidak enak dan juga tidak digemari oleh sebagian besar etnis Tionghoa di Indonesia ini, tetapi makanan ini tidak boleh dihidangkan ketika perayaan Tahun Baru Imlek.
Alasannya, kepiting yang jalannya miring tersebut dipercaya tidak dapat memberikan kemajuan bagi setiap usaha yang dilakukan. Di samping itu, kepiting juga kerapkali dianalogikan sebagai makhluk hidup yang tidak fokus kepada tujuan hidupnya.
Pare sangat dihindari untuk dijadikan hidangan ketika perayaan Hari Raya Imlek. Itu karena pare yang terasa pahit itu dipercaya bakal membawa kepahitan hidup bagi orang-orang yang menyantapnya saat perayaan Hari Raya Imlek dan kondisi itu akan berujung pada kesialan hidup sepanjang tahun.
Adapun roti yang teksturnya berlubang-lubang dianggap dapat mendekatkan diri orang-orang yang menyantapnya tersebut kepada hari kematian mereka. Karena itu, ketika perayaan Imlek, para masyarakat Tionghoa sangat disarankan untuk memakan roti Imlek yang disebut Fa Gao. Roti tersebut bertekstur tak padat dan dipercaya dapat membawa keberuntungan bagi yang mengkonsumsinya. (Abraham Sihombing)