Industry.co.id - Jakarta - Tanggal 5 Februari 2019 ditetapkan oleh orang-orang keturunan Tionghoa di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia, sebagai Hari Raya Imlek 2570. Akan tetapi, saat ini ada fenomena di mana orang-orang keturunan Tionghoa kaum Buddhist yang telah beralih memeluk agama lain, seperti Islam, Kristen Katholik, Hindu atau bahkan tidak beragama tidak ada lagi yang mau merayakan Imlek karena mereka menganggap diri mereka buka Buddhist lagi.

Advertisement

Pendapat atau kebiasaan ini seolah-olah memberikan pengertian bahwa Imlek itu adalah hari raya bagi kaum Buddhist Tionghoa. Padahal Imlek yang sesungguhnya bukan merupakan perayaan Hari Besar Keagamaan bagi kaum Buddhist Tionghoa. Karena itu, setiap orang keturunan Tionghoa apapun agamanya boleh merayakan hari raya ini.

Menurut sejarah, ajaran Buddhisme masuk ke daratan Tiongkok pada tahun 65 Masehi (65M). Ajaran tersebut dibawa dan diajarkan oleh dua orang bhiksu dari Asia Tengah, yakni Bhiksu Kaisyapa Matangga dan Bhiksu Gobarana.

Advertisement

Ketika ajaran Buddhisme masuk ke daratan Tiongkok pada 1.954 tahun yang lalu, dua ajaran besar yang dianut oleh para penduduk di Tiongkok, yaitu ajaran Taoisme dan ajaran Confusianisme, sudah ada terlebih dahulu. Meski demikian, ajaran Buddhisme tidak bertentangan dengan kedua ajaran besar tersebut di Tiongkok ketika itu.

Ajaran Buddhisme bahkan diterima dengan tangan terbuka oleh masyrakat Tiongkok, sehingga proses percampuran ajaran Buddhisme dengan ajaran Taoisme dan ajaran Confusianisme menjadi ajaran Sinkretisme tidak dapat dihindari. Saat ini, ajaran tersebut dikenal sebagai Sam Kaw, yang berarti tiga ajaran.

Advertisement

Ketika ajaran Buddhisme masuk ke daratan Tiongkok 1.954 tahun yang lalu, para masyarakat Tiongkok telah merayakan Imlek selama 2.763 tahun. Dengan demikian, jika dihitung berdasarkan kalender Tionghoa, maka Imlek pada 2019 ini adalah perayaan yang ke-4.717. Itu dihitung berdasarkan perhitungan 1.954 + 2.763 = 4.717.

Berdasarkan sejarah ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa Imlek bukanlah perayaan hari besar keagamaan kaum Buddhist Tionghoa. Imlek pertama dirayakan pada 4.717 tahun yang lalu di daratan Tiongkok ketika masa kekuasaan dinasti Xia (dibaca /sia/).

Advertisement

Imlek yang sesungguhnya merupakan perayaan menyambut datangnya musim semi. Karena mayoritas masyarakat Tionghoa ketika itu hidup dari bercocok tanam dan selama musim dingin mereka tidak dapat berkegiatan di ladang mereka, maka mereka selalu menyambut musim semi dengan sukacita karena dapat kembali melakukan kegiatan di ladang mereka. Perlu diketahui pula bahwa Tiongkok memiliki kondisi iklim empat musim.

Kedatangan musim semi tersebut dirayakan oleh mereka sebagai Tahun Baru Imlek dan mereka juga acapkali mengucapkan Sin Chun Kiong Hi (Selamat Datang Musim Semi). Rata-rata keturunan Tionghoa di Indonesia mengungkapkan bahwa Imlek tahun ini yang jatuh pada 5 Februari 2019 merupakan perayaan Imlek yang ke 2.570.

Sementara itu, Imlek 2570 tersebut bukanlah Imlek yang dihitung sejak jaman dinasti Xia. Akan tetapi Imlek 2570 adalah Imlek versi kaum Confusianisme yang dihiting berdasarkan tahun kelahirannya Kong Hu Cu (Confusius) pada tahun 551 Sebelum Masehi (551 SM).

Mengapa demikian? Pasalnya, keturunan Tionghoa yang merupakan kaum Confusianisme tersebut sangat berterima kasih kepada Confusius yang telah mengajarkan mereka tentang etika dan moral, sehingga mereka mengabadikan tahun kelahirannya Confusius sebagai Imlek Pertama, kendati para masyarakat Tionghoa ketika itu sudah merayakan Tahun Baru Imlek selama 2.147 tahun. (Abraham Sihombing)