INDUSTRY.co.id - Jakarta, Arus investas industri pengolahan non migas terus mengalami penyusutan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. 

Advertisement

Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diolah Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menunjukkan, penurunan mulai terjadi pada peralihan 2016 ke 2017.

Pada tahun 2015, nilai investasi di sektor industri sebesar Rl 236 triliun. Nilai itu naik menjadi Rp 335,8 triliun di 2016 lalu turun menjadi Rp 274,8 triliun di 2017 dan kembali turun menjadi Rp 226,18 triliun (prognosa) di tahun ini.

Advertisement

Menanggapi hal ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan harmonisasi dan sinkronisasi regulasi terkait investasi masih membutuhkan waktu untuk berjalan optimal. Namun, Airlangga melihat ada peluang nilai investasi tersebut meningkat pada 2019. 

"Salah satu investasi yang tercatat oleh Kemenperin adalah dari PT Lotte Chemical Indonesia. Pada pekan lalu, mereka melakukan groundbreaking pabrik baru. Selain itu, PT Chandra Asri Petrochemical berencana melakukan ekspansi. Total dua proyek ini dapat mencapai 9 miliar dolar AS," kata Airlangga di Jakarta (19/12/2018).

Advertisement

Selain itu, Airlangga menambahkan, Indonesia juga akan kedatangan investasi dari dua pabrikan otomotif. Yakni, perusahaan asal Jerman, Volkswagen dan asal Korea Selatan, Hyundai.

Meski belum dapat menyebutkan waktu realisasinya, Airlangga menjelaskan, investasi dua pabrikan itu akan berjalan dalam waktu dekat.

Advertisement

Menurutnya, pembangunan infrastruktur dan SDM melalui pelatihan dan program vokasi industri menjadi syarat agar investasi dapat kembali bergairah. Ia pun melihat adanya peluang bagi investor baru yang akan merelokasi pabriknya dari Vietnam dan China ke Tanah Air.

"Tentunya ada kepastian bagi investor untuk masuk, terutama dengan kepastian diberikannya tax holiday melalui OSS (Online Single Submission)," terangnya.