INDUSTRY.co.id - JAKARTA – Libur sekolah ternyata tidak selalu menjadi waktu yang menyenangkan bagi orang tua yang bekerja. Di balik momen kebersamaan bersama anak, banyak orang tua justru menghadapi tekanan dalam mengatur pengasuhan sekaligus memenuhi tuntutan pekerjaan.

Penelitian terbaru International Workplace Group (IWG) mengungkapkan, sebanyak 69% orang tua merasa stres dalam mengatur penitipan anak selama libur sekolah. Menariknya, fleksibilitas tempat kerja dinilai dapat menjadi salah satu solusi untuk mengurangi tekanan tersebut.

Dalam survei yang sama, 78% responden mengatakan akses terhadap ruang kerja lokal yang dekat dengan rumah dapat membantu meringankan stres dalam mengatur pengasuhan anak selama periode liburan.

Tekanan yang dirasakan orang tua semakin besar di tengah kenaikan biaya hidup. Sebanyak 74% orang tua mengaku membutuhkan pola kerja yang lebih fleksibel untuk mengurangi biaya penitipan anak selama libur sekolah.

Sementara itu, 27% responden memperkirakan biaya penitipan anak mereka pada musim liburan sekolah tahun ini akan lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.

Kondisi tersebut membuat fleksibilitas kerja semakin penting bagi keluarga yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan tanggung jawab mengasuh anak.

Tantangan semakin terasa ketika perusahaan mulai mengurangi kebijakan kerja fleksibel. Berdasarkan survei IWG, 55% orang tua mengaku mengalami pengurangan fleksibilitas kerja tahun ini, meningkat cukup tajam dibandingkan 33% pada 2025.

Situasi tersebut mendorong orang tua mencari cara lain agar pekerjaan tetap berjalan tanpa mengabaikan kebutuhan anak.

Sebanyak 27% responden kini semakin bergantung pada bantuan teman dan keluarga untuk mengatasi kebutuhan pengasuhan. Sementara itu, 26% menilai kewajiban bekerja dari kantor pusat membuat pembagian tanggung jawab mengasuh anak dengan pasangan menjadi semakin tidak seimbang.

Tekanan tersebut juga dirasakan lebih besar oleh ibu pekerja. Sebanyak 75% ibu mengaku merasakan tekanan tambahan dalam mengelola pengasuhan anak selama libur sekolah, dibandingkan 66% ayah.

Rutinitas keluarga selama libur sekolah juga ikut memengaruhi kehidupan profesional. Sebanyak 75% orang tua mengatakan perubahan rutinitas keluarga berdampak terhadap kehidupan kerja mereka.

Bahkan, 26% responden mengaku lebih sulit berkonsentrasi ketika harus menjalankan pekerjaan sekaligus mengurus kebutuhan anak di rumah.

Berbagai strategi pun dilakukan. Sebanyak 28% orang tua terpaksa menggunakan sebagian jatah cuti tahunan untuk mengasuh anak, sedangkan 18% bahkan menghabiskan seluruh jatah cuti tahunan selama periode liburan sekolah.

Ada pula orang tua yang mengubah jam kerja. Sekitar 22% mengurangi jumlah rapat atau panggilan kerja maupun memilih bekerja hingga larut malam, sementara 21% lainnya memilih memulai pekerjaan lebih pagi untuk mengejar beban kerja.

Ruang Kerja Dekat Rumah Dinilai Bisa Membantu
Di tengah berbagai tantangan tersebut, orang tua melihat keberadaan ruang kerja fleksibel yang dekat dengan tempat tinggal sebagai alternatif yang menarik.

Sebanyak 83% responden menyatakan akan memanfaatkan ruang kerja fleksibel profesional yang lebih dekat dengan rumah apabila fasilitas tersebut disediakan oleh perusahaan.

Bukan hanya membantu menyelesaikan pekerjaan, 27% responden percaya kebijakan tersebut juga dapat memberi mereka lebih banyak waktu berkualitas bersama anak selama libur sekolah.

Artinya, bekerja dari lokasi yang lebih dekat dengan rumah dapat menjadi jalan tengah bagi orang tua untuk tetap produktif sekaligus lebih mudah memenuhi kebutuhan keluarga.

Temuan IWG juga memperlihatkan manfaat lain dari penerapan sistem kerja hibrida. Sebanyak 69% orang tua mengaku dapat menghemat biaya transportasi selama periode libur sekolah. Penghematan tersebut kemudian dapat dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pengasuhan anak.

Manfaat kerja hibrida tidak hanya dirasakan oleh pekerja dan keluarga. Penelitian IWG bersama Arup menunjukkan bahwa perusahaan yang memberikan kesempatan kepada karyawan untuk memanfaatkan ruang kerja dan kantor lokal sebagai bagian dari strategi kerja hibrida berpotensi meningkatkan produktivitas hingga 12% dalam lima tahun mendatang.

Pengaturan kerja fleksibel juga berpotensi menekan tingkat pengunduran diri sukarela hingga 20% di Amerika Serikat. Dampaknya diperkirakan dapat menghasilkan penghematan sekitar US$22 miliar pada 2030 dan US$45 miliar pada 2045.

Berbagai temuan tersebut menunjukkan bahwa fleksibilitas kerja bukan sekadar fasilitas tambahan bagi karyawan. Bagi orang tua yang memiliki anak usia sekolah, fleksibilitas dapat menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan, pengasuhan, dan kehidupan keluarga.

Dengan biaya penitipan anak yang meningkat, perubahan rutinitas keluarga, serta tuntutan pekerjaan yang tetap berjalan selama liburan, kemampuan bekerja secara fleksibel dan lebih dekat dengan rumah dapat membantu orang tua menjalani periode tersebut secara lebih efektif.

Chief Commercial Officer IWG, Fatima Koning, menilai fleksibilitas tempat kerja memiliki peran penting terhadap kesejahteraan keluarga sekaligus kondisi mental dan kepuasan kerja karyawan.

“Fleksibilitas tempat kerja tidak hanya mendukung kesejahteraan keluarga, tetapi juga berkontribusi pada kesehatan mental secara keseluruhan dan kepuasan kerja karyawan,” ujar Fatima Koning.

Menurutnya, perusahaan yang memberikan akses lebih baik terhadap tempat kerja, khususnya ruang kerja lokal, dapat menciptakan lingkungan yang lebih mendukung dan produktif bagi orang tua yang bekerja.