INDUSTRY.co.id - Jakarta — Industri pengolahan nonmigas (IPNM) kembali menjadi penopang utama perekonomian nasional. Pada triwulan II/2026, sektor manufaktur tumbuh 5,32% secara tahunan (year-on-year/yoy), melampaui pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tercatat 5,29% yoy.

Kinerja tersebut mempertegas posisi industri manufaktur sebagai mesin pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memberikan sinyal positif terhadap efektivitas kebijakan industrialisasi yang dijalankan pemerintah.
 
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan memberikan kontribusi 18,50% terhadap produk domestik bruto (PDB), terbesar dibandingkan sektor ekonomi lainnya. Bahkan, manufaktur menjadi penyumbang pertumbuhan ekonomi tertinggi dengan andil 0,90%, mengungguli seluruh lapangan usaha lainnya.
 
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan capaian tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan industrialisasi nasional berada pada jalur yang tepat.
 
Menurutnya, arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan sektor industri sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi diterjemahkan melalui implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN).
 
"Arahan Bapak Presiden Prabowo sangat jelas, yaitu menjadikan sektor industri sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Di Kementerian Perindustrian, arahan tersebut kami terjemahkan melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) yang berfokus pada penguatan struktur industri, hilirisasi, peningkatan nilai tambah, serta penciptaan lapangan kerja," ujar Agus di Jakarta, Rabu (5/8/2026).
 
Selain pertumbuhan output, aktivitas industri juga menunjukkan perbaikan. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) tercatat 52,31, yang menandakan dunia usaha masih berada dalam fase ekspansi.
 
Kinerja tersebut sejalan dengan PMI Manufaktur Indonesia yang berada di level 50,2 pada Juli 2026, serta Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang mencapai 53,10.
 
Menurut Menperin Agus, konsistensi berbagai indikator tersebut mencerminkan optimisme pelaku industri terhadap prospek produksi, investasi, dan permintaan produk manufaktur.
 
"Aktivitas produksi, investasi, maupun permintaan terhadap produk manufaktur masih terus bergerak positif," katanya.
 
Pertumbuhan IPNM pada triwulan II/2026 ditopang oleh sejumlah subsektor strategis.Industri makanan dan minuman tumbuh 6,51%, didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan ekspor.
 
Sementara itu, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,04%, seiring meningkatnya permintaan global terhadap komponen elektronik, baterai, dan peralatan listrik.
 
Adapun industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 4,99% berkat meningkatnya permintaan domestik terhadap bahan kimia dan produk turunannya.
 
Di sisi lain, Menperin Agus menyoroti meningkatnya impor barang konsumsi sebesar 27,15% yoy, yang dinilai sebagai indikasi bahwa konsumsi rumah tangga masih tumbuh positif.
 
Namun, kenaikan impor juga mencerminkan masih terbatasnya kapasitas penyediaan bahan baku dan komponen tertentu di dalam negeri.
 
"Pertumbuhan konsumsi masyarakat merupakan sinyal positif bagi dunia industri. Namun, kenaikan impor barang konsumsi juga harus menjadi momentum untuk mempercepat penguatan struktur industri nasional agar semakin banyak kebutuhan pasar domestik dapat dipenuhi oleh produk dalam negeri," ujar Agus.
 
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan kebijakan pro-industri, terutama untuk industri penyedia bahan baku, agar ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi dan struktur industri nasional semakin dalam.
 
Meski manufaktur tumbuh kuat, komponen net ekspor masih memberikan andil negatif sebesar 0,78% terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan II/2026.
 
Pemerintah, kata Agus, akan terus memperkuat daya saing industri melalui peningkatan produktivitas, percepatan hilirisasi, diversifikasi produk bernilai tambah, serta perluasan pasar ekspor.
 
Sektor industri pengolahan juga tetap menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.
 
Berdasarkan data Mei 2026, industri pengolahan menyerap 13,53% tenaga kerja nasional dari total 148,19 juta penduduk bekerja.
 
Menperin Agus menegaskan bahwa sektor manufaktur tidak hanya menciptakan nilai tambah, tetapi juga menjadi sumber penciptaan lapangan kerja bagi jutaan masyarakat.
 
"Implementasi Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN) akan terus kami percepat agar industri nasional semakin kuat, mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, sekaligus meningkatkan kinerja ekspor," tegasnya.