INDUSTRY.co.id - CIKARANG – PT Jababeka Tbk (KIJA) dan PT Pertamina (Persero) memperkuat kembali kolaborasi dalam transformasi menuju kawasan industri yang hijau dan bersih. Sinergi tersebut mencakup pemanfaatan energi bersih, pengolahan limbah dan sampah menjadi energi, hingga penggunaan hidrogen untuk industri dan transportasi.

Tujuannya untuk membantu perusahaan-perusahaan di kawasan mengurangi emisi karbon, sekaligus menjadikan kawasan lebih bersih, hijau, dan nyaman untuk bekerja, tinggal, dan beraktivitas.

Kolaborasi tersebut disampaikan oleh Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero), Agung Wicaksono dan Direktur Utama PT Jababeka Infrastruktur, Didik Purbadi dalam sharing session bertajuk “Ketahanan Energi dan Keberlanjutan dengan Transisi Energi: Menuju Net Zero Industrial Estate dengan Energy Security”.

Kegiatan yang digelar oleh Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) bersama Pertamina di Java Palace Hotel, Kota Jababeka Cikarang, Bekasi ini diikuti antusias oleh para tenant. NZICC beranggotakan tenant di Jababeka yang memiliki komitmen dan aksi nyata menuju net zero emission melalui berbagai kegiatan seperti Jababeka Eco Week, seminar, serta kemitraan B-to-B dan G-to-B.

Pionir Eco-Industrial Estate Sejak 1989

Didik Purbadi menyampaikan, Jababeka merupakan pionir pengembang kawasan industri swasta pertama di Indonesia yang didirikan pada 1989 oleh 21 pengusaha nasional, dengan konsep kawasan industri modern berwawasan lingkungan dan infrastruktur terintegrasi (Eco-Industrial Estate).

Saat ini Kawasan Industri Jababeka dihuni sekitar 2.000 MNC dari 36 negara yang dikelola oleh PT Jababeka Infrastruktur. Sejak awal, kawasan ini disiapkan sebagai kawasan eko-industri modern dan berkelanjutan pertama di Indonesia yang dikembangkan bersama ProLH-GTZ di bawah program kerja sama teknis Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia dan Pemerintah Jerman.

Infrastruktur dasar kawasan dilengkapi secara terintegrasi dengan prinsip keberlanjutan. Mulai dari pembangkit listrik swasta pertama yang menggunakan gas dan tidak menggunakan batu bara sejak 35 tahun lalu, pembangunan Water Treatment Plant (WTP) dari air permukaan tanpa menggunakan air tanah, hingga Waste Water Treatment Plant (WWTP/IPAL) terpadu pertama di Tanah Air.

Selain itu, Jababeka juga menciptakan Tata Tertib Kawasan, membangun Cikarang Dry Port untuk efisiensi logistik dan pengurangan emisi melalui kereta api, serta menyiapkan angkutan massal bagi pekerja.

Lewat sinergi tersebut, Jababeka sukses menciptakan multiplier effect bagi lapangan kerja, UMKM, dan pertumbuhan ekonomi nasional. Jababeka menciptakan 1,1 juta lapangan kerja dan Bekasi berkontribusi 22-45% terhadap ekspor industri manufaktur nasional. Atas peran tersebut, Kawasan Industri Jababeka ditetapkan sebagai Objek Vital Nasional (Kepres 63/2004, Kepmenperin No. 620/2012 dan No. 973/2025).

23 Perusahaan Sudah Pasang PLTS 14,5 MWp

Inovasi terus dilakukan. Salah satunya pemasangan PLTS Atap berkapasitas 230 kWp di WTP Jababeka yang bekerja sama dengan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Sejak beroperasi pada 2023, panel tersebut telah menghasilkan listrik 858,21 MWh atau setara pengurangan emisi 734 ton CO2e.

Hingga September 2026, tercatat 23 perusahaan di Kawasan Industri Jababeka telah memasang PLTS Atap dengan total kapasitas 14,5 MWp.

Fokus Biometana, BESS, dan Hidrogen Hijau

Agung Wicaksono mengapresiasi visi green industry Jababeka dan tenant. Kolaborasi Jababeka, Pertamina, dan tenant sendiri telah dirintis sejak 2022 dalam event B20 Summit dan World Economic Forum G20 di Davos.

Ke depan, kerja sama akan berfokus pada penyediaan energi hijau yang mencakup pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, panel surya dan baterai penyimpan listrik (BESS), serta kredit karbon. Kedua pihak juga akan menjajaki hidrogen hijau untuk transportasi rendah karbon dalam konsep Transit Oriented Development (TOD City).

“Memasuki 2027, kami fokus mengembangkan alternatif energi hijau lain seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi,” kata Agung.

Agung mencontohkan tenant yang telah menunjukkan bukti nyata, seperti Unilever yang mengembangkan biometana bersama PGN dan Astemo yang meningkatkan PLTS Atap dari 1,2 MW menjadi lebih dari 2 MW.

“Ini menunjukkan para tenant yang menyampaikan komitmen menjadi net zero industrial cluster juga telah menindaklanjutinya, dengan dukungan peran Jababeka Infrastruktur. Karena itu, Pertamina melalui Pertamina NRE dan PGN siap terus memenuhi kebutuhan para tenant dalam melakukan dekarbonisasi,” ujar Agung.